17 November 2019, 01:00 WIB

Cerita Pantai dan Gunung Api Purba


Lilik Darmawan | Weekend

MI/LILIK DARMAWAN
 MI/LILIK DARMAWAN
Sejumlah nelayan terlihat beraktivitas di Pantai Menganti, Kebumen, Jawa Tengah.

Dengan mengendarai jip terbuka, penyusuran pantai di selatan Kebumen, Jawa Tengah (Jateng), pada Rabu, akhir Oktober lalu, dimulai. Laju kendaraan yang cukup kencang membuat debu di sepanjang jalan setapak menuju pantai beterbangan. Kendaraan yang ditum­pangi maksimal empat orang ini tak hanya melewati jalanan tanah saja, tapi juga gumuk pasir. Wajarlah ia harus bergardan ganda.

Tujuan pertama ialah Pantai Setrojenar. Pantai dengan nama alias Pantai Bocor ini termasuk pantai cantik yang kesehariannya masih cukup sepi. Terlihat sejumlah nelayan tengah mencari ikan di tengah teriknya sinar matahari pagi. Mereka tengah memasang ­jaring yang memanjang hingga 100 meter.

Deburan ombak Samudra Hindia yang bergulung-gulung tidak menyurutkan nelayan setempat untuk meninggalkan pantai. Kecantikan pantai dan semangat para nelayan melipur rasa gerah di atas jip terbuka.

Pada satu titik di Pantai Bocor yang terletak di Setrojenar, Kecamatan Buluspesantren, tampak sejumlah orang berjajar di pantai, tanpa baju. Mereka tengah menimbun kaki, tubuh, dan tangan dengan pasir. Bukan untuk lucu-lucuan. Mengubur diri dengan pasir dilakukan untuk meredakan sakit. Umumnya, mereka ialah orang-orang yang pernah stroke dan reumatik.

Kalau sebelumnya perjalanan hanya melewati jalanan pasir yang relatif datar, kini kendaraan mulai melewati gumuk pasir. Sopir jip kadang sengaja mengarahkan mobil menuju gumuk pasir tinggi. Maka, para wisatawan di atas kendaraan ikut berteriak. Tidak hanya sekali mereka diajak merasakan off road di gumuk pasir. Perjalanan di Pantai Setrojenar tersebut menjadi pembuka susur pantai ini, dengan tujuan akhir Pantai Menganti, di sebelah barat dengan jarak sekitar 20km.

Meski menyusuri pantai, tetap ada pemandangan lain yang dapat dilihat. Tidak jauh dari pantai, ada para petani buah-buahan, khususnya melon. Perjalanan juga tidak datar, melewati pasir di pinggir laut. Karena sesekali jip harus sengaja melewati gumuk pasir yang menanjak. Kadang kendaraan harus mundur karena tidak kuat menanjak. Adrenalin terpacu, apalagi goyangannya seperti naik roller coaster. Meski demikian, tenang saja, para sopir jip telah terlatih menghadapi kondisi seperti itu.

“Ikuti saja gerak jip supaya badan tidak pegal. Karena kalau ditahan, kaki dan tangan akan kaku dan akhirnya pegal-pegal,” ungkap Sularno, pemandu jip wisata.

Beberapa kali ada kendaraan yang selip bannya sehingga para penumpang harus turun dari kendaraan, kemudian ikut membantu mendorong mobil yang ditumpangi.

Setiba di Pantai Tegalretno, Desa Tegalretno, Kecamatan Petanahan, wisatawan ditantang untuk mencoba jip yang ditum­panginya. Bagi yang mau, bisa balapan satu dengan yang lainnya.
Salah seorang wisatawan, Saefur, menjawab tantangan itu. “Ternyata susah juga melewati medan berpasir. Balapan semacam ini mengasyikkan untuk menghindari kepenatan dan kejenuhan karena perjalanan menggunakan jip cukup lama,” ujarnya.

Perjalanan berlanjut dan sampailah di Pantai Menganti, salah satu objek wisata andalan Kebumen, yang bertempat di Desa ­Karangduwur, Kecamatan Ayah. Untuk menjangkau ke pantai itu, kendaraan harus naik ke arah perbukitan dulu. Ada baiknya sebelum sampai ke Pantai Menganti, rehat di titik tertinggi perbukitan. Dari situ, lanskap laut dengan perbukitan karst akan terhampar jelas.

Favorit

Sesampai di Pantai Menganti, wisatawan bisa berjalan ke arah bukit. Kalau ingin lebih praktis, bisa memanfaatkan angkutan dari pengelola wisata. Dari situ, pengunjung dapat menyusuri pinggiran bukit hingga ke pantainya.

Bagi pencinta surfing, Menganti merupakan salah satu pantai di Kebumen yang menjadi favorit. Ombaknya cukup tinggi dan relatif stabil.“Kalau mau surfing di sini, pada saat puncak pasang seperti pagi dan sore hari. Di Menganti, paling cocok ialah untuk surfing para pemula,” kata Ari, seorang peselancar di Pantai Menganti.

Buat yang tak ingin berselancar, bisa menengok sisi lain Pantai Menganti. Bebatuan hitam legam yang berbatasan langsung dengan pantai ternyata merupakan bekas gunung api purba. Bahkan ada batu seperti tertata rapi dengan bentuk bertumpuk-tumpuk. Fakta itu pernah diungkap peneliti geologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Fadlin.

Dalam kesempatan terpisah, ia mengatakan, bebatuan gunung api purba tersebut masuk Formasi Gabon (Tomg) dan Dike Andesite (Tma). Batuan gunung api lava basalt itu merupakan batuan hasil erupsi gunung api bawah laut yang diduga ­berumur Oligosen-Miosen atau sekitar 35-25 juta tahun yang lalu.

“Keindahan pantai dan cerita bebatuan di sekitar Pantai Menganti menjadi nilai tambah objek wisata Pantai Menganti. Di sini lengkap. Pengunjung bisa menikmati alam yang indah dengan suasana sunrise, atau mencoba surfing. Bisa juga eduwisata, karena ada bebatuan yang menurut ­peneliti adalah bukti erupsi gunung api purba,” ujar Tian dari Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Kebumen.

Gua Jatijajar

Tidak lengkap mengeksplorasi wisata di selatan Kebumen tanpa ke Gua Jatijajar, ­Kecamatan Ayah. Gua Jatijajar di perbukit­an kapur sebetulnya merupakan fenomena alam yang terbentuk dari proses geologi. Panjangnya mencapai 250 meter, dengan lebar 15 meter dan ketinggian 12 meter.

Banyak stalaktit dan stalagmit yang terbentuk di dalam gua. Begitu pula sendang atau mata air. Ada empat sendang di gua tersebut, yaitu Sendang Kantil, Sendang Mawar, Sendang Jombor, dan Sendang Puser Bumi. Wisatawan biasanya mampir ke aliran air dalam gua itu dan membasuh muka. Kesegarannya sangat terasa, maka­nya mitosnya ialah membuat awet muda.

Gua Jatijajar juga dilengkapi dengan diorama kisah legenda Raden Kamandaka dan Lutung Kasarung yang berada di pinggiran dalam gua. (M-2)

BERITA TERKAIT