17 November 2019, 00:20 WIB

Mimpi Mewah Ivan dan Semangat Kebebasan Biyan


Suryani Wandari | Weekend

MI/SUSANTO
 MI/SUSANTO
Bukan hanya glamor, melainkan juga kekiniĀ­an. Begitulah karakter gaun-gaun malam karya Ivan Gunawan selama ini.

BUKAN hanya glamor, melainkan juga kekini­an. Begitulah karakter gaun-gaun malam karya Ivan Gunawan selama ini.

Desainer yang juga dikenal sebagai pembawa acara itu membedakan diri dari desainer-desainer spesialis gaun mewah lainnya, dengan desain yang sangat mengikuti tren. Karakter itu pula yang ditonjolkan Ivan dalam peragaan koleksi terbarunya yang menjadi pembuka gelaran Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) Trend Show 2020 yang berlangsung Rabu (6/11) di Jakarta. Sekaligus pula peragaan itu menjadi penan­da resminya Ivan bergabung dengan organisasi yang sudah berusia 33 tahun itu.

Dalam peragaan bertajuk Believe itu, Ivan memadukan siluet gaun malam yang seksi dan feminin dengan gaya cut-out, elemen sarung tangan, hingga tudung kepala. Salah satunya ialah gaun malam berpotongan kolom berwarna perak yang memiliki potongan lengan menyambung dengan sarung tangan. Keunikan gaun berbelahan dada rendah itu makin kuat dengan pundak yang terbuka dan elemen tudung kepala.

Maka itu, sekilas potongan atas gaun itu pun mengingatkan pada jumpsuit ungu Kylie Jenner yang dikenakan di Grammy 2019. Bedanya, gaun Ivan tampil lebih mewah karena penuh sematan payet dan manik yang menyerupai tetes air hujan.

Pada set busana lainnya, unsur kekinian hadir lewat aksesori tas pinggang. Namun, tetap tas itu dibuat semewah gaunnya yang berwarna baby pink dan juga bersemat manik-manik.

Ivan mengungkapkan jika sarat­nya detail dalam koleksi itu memang sengaja untuk menunjukkan kepiawaiannya dalam me­ngolah kain dan berbagai elemen busana lainnya. Meski begitu, pesan dari koleksi itu sebenarnya soal keyakinan terhadap mimpi.

“Saya menghadirkan koleksi terbaru dengan tema Believe yang berarti percaya. Jadi, apa pun mimpi lo, percaya apa yang lo ingin­kan dan meyakini itu terjadi,” kata lelaki yang akrab dipanggil Igun ini.

Keyakinan soal mimpi itu juga diartikan dalam karakter tangguh dan gaya maskulin dalam koleksi tersebut. Selain lewat elemen sarung tangan, tudung kepala, dan tas pinggang wujud tangguh itu juga dalam potongan celana untuk busana malam.

“Boleh dibilang perempuan banget, tapi ada sisi laki-lakinya. Bajunya enggak murni cantik banget, tapi ada detail dan aksen sedikit gagah,” lanjut Ivan.

Soal penerimaan Ivan sebagai anggota IPMI, sang ketua Tri Handoko mengungkapkan, jika hal tersebut mempertimbangkan rekam jejak Ivan yang memenuhi persyaratan, terutama ialah karena pria berusia 37 tahun itu telah lima tahun berkarya dan secara kontinu menggelar koleksinya di hadapan publik.

“Sejak enam bulan lalu kami telah melakukan seleksi, Ivan menjadi kandidat terkuat. Hal terpenting, Ivan berkomitmen memajukan organisasi. Kami gembira Ivan bersedia bergabung dengan IPMI,” jelasnya.

Keindahan lukisan Kota London

Selang sehari, desainer senior Biyan Wanaatmadja menggelar koleksi terbaru di lini Studio 133 Biyan. Desainer yang juga merupakan anggota IPMI ini masih lekat dengan karakter desainnya yang berpotongan santai, elegan, dan effortless.

Dalam koleksi kali ini kesan sporty lebih kuat karena penggunaan sepatu olahraga, kaus kaki tinggi, topi, dan juga banyaknya busana dua potong yang ditambah lagi dengan luaran.
Misalnya, pada busana bermotif bunga mawar di atas bahan eyelet. Meski busana inti itu romantis dan feminin, kesan totalnya sangat dinamis karena sepatu kets dan topi bucket.

Biyan mengungkapkan, koleksi itu terpengaruh dari kultur era Bloomsbury pada  pertengahan abad ke-20-an. Bloomsbury sebenarnya nama yang lekat dengan kelompok seniman, filsuf, dan golongan intelektual yang berasal dari Inggris, di antaranya ialah Virginia Woolf, E M Forster, dan Lytton Strachey.

“Lukisan abstrak, impresionisme, semangat kebebasan, interior, dan koleksi antik menjadi bagian dari koleksi ini, yang mana terdapat karya dari filsuf dan intelektual asal Inggris,” kata desainer berusia 65 tahun itu sebelum peragaan.

Biyan mengaku memiliki ketertarikan tersendiri dengan London karena kota ini telah menjadi bagian dari hidupnya. Sebagai lulusan The London College of Fashion, Biyan memang tidak sekadar menjalani hari-hari, tetapi juga banyak menggali inspirasi desain di kota itu sejak masa tersebut.  

Beberapa unsur desain Eropa yang lekat di koleksi ini ialah siluet lebar era 20-an, dasi kupu-kupu era 40-an, shift dress era 60-an, celana palazzo era 70-an, hingga lengan balon era 80-an. Hasilnya ialah koleksi busana yang lebih fun jika dibandingkan dengan koleksi-koleksi sebelumnya. (M-1)

BERITA TERKAIT