17 November 2019, 00:00 WIB

Kejujuran dari Kolong Jembatan


Bagus Pradana | Weekend

DOK. IMAGE DYNAMICS
 DOK. IMAGE DYNAMICS
Salah satu adegan dalam pementasan J.J Sampah-Sampah Kota, bercerita tentang kehidupan rakyat di kolong jembatan.

TEATER Koma didukung Bakti Budaya Djarum Foundation kembali menampilkan pementasan terbarunya dengan tajuk J.J Sampah-Sampah Kota. Lakon ini merupakan produksi ke-159 sehingga layak dinobatkan menjadi kelompok teater paling produktif di Indonesia ini. Pentasnya pun panjang, 10 hari mulai 8–17 November 2019 di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Lakon J.J Sampah-Sampah Kota ini ditulis Nano Riantiarno di masa peralihan Orde Lama menuju Orde Baru, yaitu sekitar 1967 dan pernah dipentaskan Teater Koma pada 1979. Setelah 40 tahun berlalu, Teater Koma kembai mementaskan lakon ini dengan disutradarai Rangga Riantiarno yang merupakan anak Nano.

Lakon ini berkisah sepasang suami-istri bernama Jian (Zulfi Ramdoni) dan Juhro (Tuti Hartati) yang hidup terlunta-lunta di kolong jembatan. Juhro sedang hamil tua, sedangkan Jian hanya bekerja sebagai kuli angkut sampah untuk memenuhi kebutuhan istrinya. Meskipun berada dalam kondisi yang serbakekurangan, mereka hidup bahagia. Sang suami bekerja dengan giat untuk menghidupi sang istri dan calon bayi yang dikandungnya, serta sebisa mungkin berusaha memegang prinsip hidupnya, yaitu menjadi orang yang jujur.

Di kolong jembatan ada Mbah Kung (Budi Ros) dan istrinya, Puci (Ratna Ully) yang menjadi sesepuh di tempat itu yang selalu memberi ­upeti pada hansip agar tidak digusur. Ada juga Tarba (Bayu Dharmawan), Bakul (Febri Siregar), dan Kentong (Hengky Gunawan) yang menjadi tetangga Jian dan Juhro. Selain itu, ada Bordes (Ade Firman Hakim) yang sangat senang menghasut para kuli angkut sampah untuk memberontak pada para mandor (yang diperankan Ohan Adiputra, Idries Pulungan, Daisy Lantang, dan masih banyak lagi).

Kehidupan kolong jembatan rutin dipantau para mandor yang korup, mereka menyelidiki satu per satu, dan mengupayakan berbagai cara agar para kuli itu tunduk pada mereka. Suatu hari mereka menemukan satu ide, yaitu menjebak salah satu kuli untuk diperkarakan. Mereka ingin semua kuli akan semakin tunduk dan patuh pada mereka ketika menyaksikan kekuasaan mereka bekerja saat memutuskan suatu perkara.

Jian dipilih sebagai orang yang akan dijebak. Ia dijebak dengan tas berisi uang yang dijatuhkan para mandor. Meskipun tas itu dikembalikannya, ia tetap ditahan. Pristiwa itu memicu Bordes untuk menggerakan massa menuntut kebebasan Jian. Seketika Jian menjadi sosok pahlawan. Para Mandor tidak suka dan meminta Jian untuk memilih: mengakhiri hidupnya sendiri atau menunggu vonis yang akan diberikan.

Berbicara mengenai sampah dan kekuasaan yang korup hampir di tiap zaman selalu ada. Namun, bagaimana dengan kejujuran? Ada satu prinsip yang berusaha dipegang Jian. Bagaimana mempertahankan kejujuran di kala ketidakjujuran dan ketidakadilan berkuasa? Pertanyaan inilah yang berusaha dijawab ulang oleh Rangga Riantiarno, setelah 40 tahun lakon ini lahir.

“Lakon ini berusia 40 tahun pertama kali dipentaskan oleh ayah saya pada September 1979, dan saya tidak melihatnya, jelas saya tidak tahu seperti pentas J.J Sampah-Sampah Kota ini digarap Teater Koma di zaman ayah saya. Saya merasa kisah yang disajikan lakon ini tidak lekang oleh waktu, akan selalu ada orang jujur dan orang korup,” kata Rangga.

Elemen baru

Dia menambahkan, setelah 40 tahu berlalu, rasa itu waktu yang cukup lama untuk kembali mementaskan Lakon ini dengan para pemain yang berbeda tentunya. Ada tokoh yang dulu diperankan pria, kini dimainkan perempuan. Multimedia juga menjadi elemen baru dalam pentas kali ini karena ada tokoh yang dimunculkan secara multimedia, dan ia berinteraksi dengan tokoh lainnya, bahkan bernyanyi.

Dalam sambutannya Pimpinan Produksi Teater Koma, Ratna ­Riantiarno menyatakan beberapa pandangan kritisnya tentang dunia seni dan kebudayaan Indonesia dengan mengorelasikan pada lakon J.J Sampah-Sampah Kota ini, menurutnya.
 
“Kisah Jian dan Juhro mungkin bisa jadi kisah kita. Kitalah rakyat yang bekerja dengan rajin dan ­riang, berharap agar para pemutus atau pengambil keputusan mampu memandu kita. Apalagi khususnya dalam dunia seni budaya, kebijakan mereka bisa menjadi kompas yang menentukan berdetaknya kehidupan berkesenian dan berbudaya bangsa ini.”

Ratna juga menaruh perhatian pada banyaknya perubahan terhadap tempat-tempat yang ­disewa. Bisa dikatakan mereka kini ­kesulitan mencari tempat untuk berpentas karena gedung-gedung teater yang dikelola pemerintah daerah ­Jakarta sedang mengalami proses peremajaan. “Untuk tahun depan, kami masih harus terus memantau perkembangan situasi dan kondisi,” tutup dia. (M-4)

BERITA TERKAIT