16 November 2019, 23:20 WIB

Rasa Warisan Khas Solo


Fetry Wuryasti | Weekend

MI/MOHAMAD IRFAN
 MI/MOHAMAD IRFAN
Ragam Menu andalan dari resto Mbok Dhoro di M Bloc Space, Jakarta Selatan, Senin (4/11).

LIMA tahun lalu kedai satu ini hadir dalam format le­sehan dan tenda bongkar pasang di kawasan parkir Sudirman Park. Tetap mengusung aneka hidangan khas Solo, mereka pun menghadirkan konsep baru dengan nama yang sama, Mbok Ndoro, di kawasan M Bloc Space, Jakarta Selatan.

Di kawasan yang tengah hype di kalangan anak muda itu, sang pemilik, Nonita Respati, ingin berbagi pengalaman masa kecil di dapur ibunya, yakni semua makanan khas solo ini mudah didapatkan.

“Ibu adalah orang Jawa totok, perpaduan Solo dan Yogyakarta. Dia senang sekali masak. Dahulu, sebelum wafat, ibu sempat mewariskan resep masakan keluarga kepada salah satu orang dapur yang dipercaya oleh keluarga kami. Kebetulan orang itu punya generasi kedua yang mampu melestarikan resep dari ibu,” kenang Nonita, Senin (4/11).

Tak mengherankan jika cita rasa makanan mereka tetap terjaga auten­tisitasnya. Tidak semata va­rian yang dikenal umum, seperti nasi liwet dan gudeg solo, ada juga va­­ri­an yang dikenal para sesepuh Jawa, seperti botok, sambal tumpang, ketan juruh, gudeg jenang, canil, dan bubur sumsum.

“Jadi konsepnya pertama resep dari ibu turun-temurun. Lalu, kami simpan dan kami praktikkan kembali racikan ibu. Konsep kedua, mengajak semua orang berkumpul menikmati masakan rumahan atau comfort food yang based-nya adalah masakan Jawa Tengah,” jelas Nonita.

Menariknya, rumah makan ini menyajikan 18-20 jenis makanan ala warteg sehingga pengunjung tinggal menunjuk hidangan yang mereka ingin santap kepada pelayan. Hidangan itu ialah nasi merah dan nasi putih, aneka satai, seperti jamur, kikil, telur puyuh, kulit, dan udang. Kudapan seperti sosis solo, dan tahu, dilanjutkan dengan aneka tumisan, aneka sayur, beserta lauk, seperti ayam lengkuas, gongseng tempe, dan gongseng mercon.

Langka

Salah satu makanan yang menarik dan langka, yakni botok. Makanan yang terbuat dari parutan kelapa dicampur petai cina, dibungkus daun pisang, memiliki rasa sedikit pedas. Saat dikunyah, petai cina mirip kedelai tempe. Anda bisa makan dengan nasi atau digado tanpa nasi.

Hidangan menarik lainnya ada sambal tumpang, yakni lauk yang berasal dari tempe bosok (busuk). Tempe bosok merupakan sebutan lain dari tempe yang sengaja didiamkan atau dibusukkan selama lebih dari satu hari, menjadi warna hitam dan mengeluarkan bau seperti terasi. Tempe ini kemudian diolah bersama bumbu khas, tahu, dan kikil, menjadi bubur tempe dengan cita rasa gurih, pedas, sedikit manis, dan segar. Bila ingin olahan tempe yang lain, tersedia gongseng tempe gembus dan gongseng kikil.

Di sini tersedia aneka satai. Ada satai telur puyuh dan satai hati ampela yang dimasak dengan bumbu bacem yang manis. Ada juga telur dadar mumbul, yakni telur yang di­goreng dengan adonan terigu hingga ada efek crispy.

Bagi penyuka sayuran, jangan lewatkan mencicipi pecel ndeso. Pecel ini berisikan kacang panjang, tauge, dan kol yang disiram dengan bumbu kacang. Rasa bumbu kacangnya pedas manis, berbeda dengan bumbu kacang Jawa Timur yang pedas, gurih, dan manis.

Aneka es

Setelah mencicipi semua hidang­an, saatnya menutup dengan mi­numan yang segar dan kudapan. Di sini tersedia aneka minuman yang sangat pas disatukan dengan hidangan, seperti es beras kencur, es kunyit asam, dan soda gembira.

Yang istimewa dan penting bagi lidah wong Jowo ialah kehadiran teh dengan standar manis dan ke­kentalan khas Jawa. Minuman itu ialah teh nasgitel panas legi (manis) dan kental, serta es teh gitel legi dan kental. Rasa teh itu beda karena di luar orang Jawa tidak terlalu penting rasa es teh kayak apa. “Tapi bagi orang Jawa itu penting sekali,” ujar Nonita.

Sebagai penutup, es grim klepon. Hidangan ini berupa es krim lembut rasa klepon berwarna hijau muda, lengkap dengan taburan kelapa, dan gula jawa yang dicairkan. Tamu juga bisa memesan pisang goreng dan sosis solo sebagai camilan.

Salah satu camilan yang menarik ialah ketan juruh bubuk kedelai. Ketan masak diberi juruh, yaitu gula jawa yang dicairkan lalu dikasih sedikit taburan kelapa dan bubuk kedelai yang memberikan rasa seimbang dan tidak terlalu manis.

“Pada Senin-Sabtu, Mbok Ndoro buka pukul 11.00-22.00. Hari Minggu, kami buka sejak pukul 07.00 untuk warga Jakarta yang CFD (car free day). Kami sediakan menu spesial, seperti gudeg jenang, canil, jajanan pasar, sampai bubur sumsum,” jelas Nonita.

Demi menjaga kesegaran makanan, semua hidangan ditaruh dalam baki khusus. Bila makanan habis, mereka segera memasaknya. Lagi pula khas masakan Jawa juga menganut paham semakin dipanaskan akan semakin nikmat rasanya.

Ruang berkumpul

Meski berpindah dari lesehan ke ruang makan yang yang lebih nyaman, misi Mbok Ndoro tetap sama. Misinya menghadirkan tempat yang mengaburkan antara perbedaan usia dan status sosial. Sampai hari ini tamu yang datang cukup variatif, dari mereka yang sudah sepuh, dewasa, remaja, sampai anak kecil.

“Jadi idenya selain melestarikan resep ibu, juga membuat tempat makan ini menjadi hub atau tempat bertemunya masyarakat tanpa mengenal status sosial batasan usia atau apa pun itu untuk bisa sama-sama menikmati masakan rumah,” ujarnya.

Tentu saja dengan perpindah­an lokasi dari lesehan di lapangan parkir beda konsep ke tempat nyaman dengan pendingin ruangan juga ada perubahan harga. Namun, harganya juga tidak semata-mata tanpa dipikirkan.

“Kami bikin formula harga yang bisa diterima oleh semua masyarakat dan status sosial. Kami membuat warteg ini naik kelas sehingga orang makan warteg tidak gengsi. Misalnya, direktur yang datang makan juga masih merasa keren. Untuk pekerja starter di dunia kerja juga merasa ter-elevate dengan makan warteg,” tukas Nonita. (M-3)

BERITA TERKAIT