16 November 2019, 13:35 WIB

28 Peserta Paralayang Ikut Lomba di Bukit Cinta Lembata


Alexander P Taum | Olahraga

MI/Alexander P Taum
 MI/Alexander P Taum
Salah seorang peserta atlet paralayang saat mengikuti Festival Paragliding National Open Competition, di Lembata, NTT.

FEDERASI Aero Sport Indonesia (FASI) menyebut Festival Paragliding National Open Competition, Jumat (15/11), diikuti 28 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Ini merupakan kompetisi paralayang yang pertama kali digelar di Bukit Cinta Lembata, Desa Ring Dua, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.
 
Ke-28 atlet paralayang dari berbagai daerah di Indonesia itu berkompetisi di kelas senior, junior, overall, dan juga veteran. Kelas yang diperlombakan meliputi ketepatan mendarat, serta keindahan terbang, dan tematik.

Ketua Pordiga Gantole Paralayang Indonesia, Joko Bisowarno, mengatakan, even Lembata Paralayang 2019 di Bukit Cinta Lembata tersebut akan dilaksanakan selama tiga hari, mulai 15 hingga 17 November.

"Kegiatan ini diikuti oleh 28 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, ada yang dari Jawa Timur, Bandung, Jakarta, Bali, dan Kalimantan, dan ada 7 orang peserta putri yang ikut dalam even Lembata paralayang," kata Joko, Jumat (15/11).

Joko juga menjelaskan, kompetisi ini diselenggarakan dalam rangka mendukung sektor pariwisata Lembata khusus menarik wisatawan yang gemar dengan olahraga ini dan diharapkan muncul bibit-bibit atlet paralayang di Kabupaten Lembata.

Menurutnya, Indonesia merupakan negara yang menghasilkan atlet-atlet andal paralayang. Ia mencontohkan, dalam Asian Games sebelumnya, Indonesia memperoleh 6 medali pada cabang olahraga ini dan dua di antaranya medali emas.

"Adik-adik yang ada di Lembata bisa latihan menjadi atlet paralayang. Masyarakat juga mari menonoton kompetisi ini dan kalau mau nonton bagusnya nonton di tempat mendarat," kata Joko.


Baca juga: Agar Lebih Populer, Petanque Incar Satu Emas SEA Games


Pihaknya berharap dengan perlombaan paralayang tingkat nasional tersebut akan memacu perkembangan olahraga paralayang di Lembata. Ia juga berharap untuk meramaikan festival paralayang diperlukan penerbang-penerbang paralayang yang tinggal di daerah Lembata untuk melayani para wisatawan yang mengunjungi Bukit Cinta dan tempat wisata lainnya.

Sehingga adik-adik di Lembata bisa menjadi paralayang karena kontur golongan sangat bagus dan apa yang sudah rencanakan dapat direalisasikan bersama bupati dan masyarakat sehingga ide dasar di Pulau Lembata bisa terwujud.

"Kami akan terus men-support karena kami punya kepentingan untuk mengembangkan olahraga udara," ujar Koordinator Paralayang bagian Timur, Samsul Hadi.

Ia mengatakan, 28 peserta yang ambil bagian terdiri atas 7 perempuan dan 21 laki-laki.

"Mungkin pada Maret 2020 peserta akan lebih dari 100, sehingga lokasi mendarat atau landing yang berada di sekitar pantai harus dibersihkan dan serta panjangnya sekitar 2 km sehingga tidak mengganggu paralayang saat mendarat," jelasnya.

Ia juga menuturkan Lomba Paralayang baru pertama kali di lakukan di Lembata dan hanya ada di Lembata yang berani melakukan olahraga udara.

"Untuk mengalahkan pariwisata di Bali tidak bisa kita lakukan dengan mempromosikan budaya tetapi yang dikejar adalah sport tourism, karena di Lembata ada beberapa tempat wisata yang unik untuk dijual ke mancanegara seperti Lamalera," pungkasnya. (OL-1)

 

BERITA TERKAIT