16 November 2019, 10:05 WIB

Defisit Neraca Dagang Menurun Drastis


Andhika Prasetya | Ekonomi

Medcom.id/Ilham Wibowo
 Medcom.id/Ilham Wibowo
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto 

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat, secara akumulasi, ­nilai ekspor sepanjang Januari-Oktober 2019 mencapai US$139,11 miliar. Sebaliknya, nilai impor yang dibukukan ialah US$140,89 miliar. Dengan demikian, dalam 10 bulan di tahun ini, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,78 miliar.

Meskipun masih defisit, jumlahnya menurun jauh dari tahun lalu yang mencapai US$5,57 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan, pada tahun ini kinerja ekspor dan impor memang berjalan hampir selalu seimbang.

“Ketika terjadi surplus, surplusnya tipis. Saat defisit, defisitnya pun tipis. Jadi, tahun ini memang tidak terjadi banyak fluktuasi seperti di 2018,” jelas Suhariyanto di Jakarta, kemarin.

Sejak Mei, selisih antara ­ekspor dan impor tidak pernah lebih dari US$300 juta.

Pada Mei, surplus tercatat U$218,5 juta. Berlanjut ke Juni, surplus kembali terjadi dengan angka US$297,3 juta. Sedikit tergelincir pada Juli, neraca dagang menderita defisit US$64,3 juta.

Lalu kembali surplus di Agustus sebesar US$112,4 juta dan turun lagi menjadi defisit US$163,9 juta pada September.

Hingga akhirnya neraca dagang kembali surplus US$161,3 juta di Oktober.
Kondisi perekonomian dunia yang tidak stabil menjadi alasan utama mengapa kinerja perdagangan relatif stabil sepanjang tahun.

Banyak negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat yang menahan belanja karena mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi.

“Kondisi sekarang memang berat. Dengan perang dagang yang masih terus berlanjut, harga komoditas yang berfluktuasi, ini akan menjadi tantangan besar ke depan,” ucap Suhariyanto.

Saat ditemui secara ­terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2019 membuktikan keberhasilan program pemerintah.    

“Pencapaian ini mengindikasikan berbagai program yang dijalankan pemerintah berada pada arah yang benar,” ujarnya.

Airlangga menyebutkan realisasi nilai ekspor pada Oktober 2019 melebihi ­ekspektasi yang diperkirakan banyak pengamat sehingga pemerintah pun akan merencanakan berbagai hal untuk terus mendukung peningkatan kinerja ekspor.    

“Salah satunya dari sisi kemudahan dan penyederhanaan proses perizinan dan investasi melalui omnibus law,” ujarnya.

Studi kelayakan

Dalam rangka penjajakan pendalaman akses pasar, ­Indonesia dan Kolombia sepakat untuk segera memulai studi kelayakan bersama (joint feasibility study/JFS)

Kesepakatan tersebut dicapai pada Pertemuan Persiapan Perjanjian Perdagangan Masa Depan Indonesia-Kolombia (Preparatory Meeting of Indonesia-Colombia Future Trade Agreement) di Bogota, Kolombia, awal pekan ini.

Direktur Perundingan ­Bilateral Kementerian Perdagangan Ni Made Marthini meng­ungkapkan studi kelayak­an bisa dimulai segera awal bulan depan dan ditargetkan selesai pada Juni 2020.

“Kami sudah siapkan kerangka acuan kerja bersama yang tinggal diimplementasikan ke depannya,” ujar Made melalui keterangan resmi, kemarin.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, pada 2018 nilai ekspor Indonesia ke Kolombia tercatat sebesar US$141,1 juta. Adapun impor Indonesia dari Kolombia sebesar US$18 juta. Dengan begitu, surplus bagi Indonesia sebesar US$123 juta. (Ant/E-1)

BERITA TERKAIT