16 November 2019, 08:45 WIB

Griselda Sastrawinata: Dari Sekretaris ke Dapur Seni Disney


Fetry Wuryasti | Weekend

MI/ADAM DWI
 MI/ADAM DWI
Griselda Sastrawinata

PADA 20 November ini, film Frozen 2 mulai tayang di bioskop. Sekuel dari film Frozen ini sudah ditunggu banyak orang setelah kesuksesan pendahulunya pada 2013.

Kisah kekuatan cinta dua kakak beradik perempuan, Ratu Elsa dan Putri Anna, itu, memang menyentuh sekaligus seru. Tidak heran bukan hanya anak-anak, orang dewasa juga banyak yang menjadi penggemar Frozen.

Kini, hadirnya Frozen 2 akan lebih spesial bagi Indonesia. Itu karena dalam film itu ada goresan anak bangsa. Dialah Griselda Sastrawinata, yang ikut mendesain kostum Anna.

“Jadi, tokoh Anna sekarang lebih dewasa dan menjadi seseorang yang lebih serius dengan perjalanan kehidupannya. Oleh karena itu, kami menempatkan Anna dalam warna pakaian-pakaian yang lebih gelap untuk menggambarkan kematangan dan lebih berpengalamannya dari karakter dia di film pertama,” tutur Griselda saat berbincang dengan Media Indonesia seusai menjadi pembicara di acara IdeaFest 2019, Jakarta, bulan lalu.

Perempuan yang bergabung sebagai Visual Development Artist di Walt Disney Animation Studios pada 2015 itu mengaku mengembangkan desain kostum Anna bersama desainer Michael Giaimo. Ia juga berkerja sama dengan Brittney Lee, yang merancang kostum Elsa.

Pindah ke Amerika Serikat saat kelas 2 SMA dan kemudian berkuliah di ArtCenter College of Design, Pasadena, Amerika Serikat, Griselda mengungkapkan jika Disney sangat menghargai budaya-budaya dari negara yang menginsprirasi filmnya. Maka itu, pada film tersebut mereka mengambil inspi­rasi dari kebudayaan Finlandia, Islandia, dan Norwegia. Khususnya, mereka sangat terinspirasi oleh Bunad, pakaian tradisional penduduk Norwegia.

Untuk dapat menghasilkan konsep kostum yang matang, Griselda dan rekan-rekannya menghabiskan waktu berbulan-bulan. Mereka mencoba berbagai potongan dan warna, juga mencoba berbagai elemen fesyen, seperti jubah panjang dan pendek, serta seberapa panjang rok.

“Jadi, kami mencoba sesuatu yang berbeda dan lakukan terus sampai menemukan yang dituju. Kami tahu baju itu diterima ketika sutradara Jennifer Lee dan Chris Buck menyukainya. Jadi untuk pakaian Anna yang dipilih setelah 122 kali percobaan,” tukas perempuan yang sebelumnya pernah menjadi sekretaris itu.

Dalam menjalani profesinya, Griselda juga harus siap dengan perubahan mendadak. Di sisi lain, istri dari Normand Lemay itu juga harus cepat beradaptasi dan tetap memenuhi tenggat waktu. Sebab, perubahan di bagian desain akan memenga­ruhi semua departemen.

Salah satu contohnya terjadi pada desain bagian depan jubah Anna yang semestinya tertutup rapat. Desain diubah menjadi terbuka dan memasukkan gambar-gambar ikon daerah Arendelle, termasuk gambar gandum.  

Dalam mendesain kostum, ia juga harus menyesuaikan dengan karakter Anna dan kebiasaannya. Membuat baju itu pun memperhitungkan karakter kain layaknya membuat baju sungguhan. Semuanya dipikirkan sangat detail. Tidak heran, kartun-kartun dari rumah produksi tersebut memiliki kehalusan prima.

“Karena Anna berbicara dengan tangannya dan dia perlu ruang untuk bergerak, maka bagian siku kita lebarkan. Ini membuat masalah-masalah baru yang tidak kami kira. Karena ketika dia menggerakan tangan, bagian bahunya menggelembung. Tim kami harus mengakalinya dan membuatnya halus,” tambah Griselda yang berharap penonton akan menyukai film itu sebesar dirinya menyukai proses pembuatannya.

Ide terliar

Meski sejak kecil menyukai film-film Disney dan berharap bisa bekerja di sana, Griselda mengaku terwujudnya impian itu sangatlah sukar dipercaya. “Menjadi disemarakkan seni di Disney rasa­nya seperti ide yang sangat liar bagi saya. Ini sama halnya bila anak kecil ditanya cita-citanya, pasti mereka menjawab mau jadi astronaut, atau ba­lerina. Saya i­ngin beker­ja di Disney,” ujar perempuan berusia 37 tahun itu.

Bahkan, me­nu­rutnya, hingga hari ini keluarga­nya masih belum percaya jika ia dia bisa terlibat dalam pembuatan film animasi Frozen 2.
Griselda menuturkan, perjalannya mencapai Disney cukup berliku. Awalnya, sebagaimana anak Indonesia lainnya, walau berbakat menggambar sejak kecil, ia tetap disarankan mengambil kuliah di jurusan-jurusan yang umum. Maka itu, ia masuk ke jurusan akuntansi.

Namun, saat magang menjadi sekretaris di American Express, ia menyadari betapa ia tidak menyukai bidang kerja itu. Ia malah menghabiskan sebagian besar waktu untuk menggambar.

Dari situlah ia memilih mengejar hasrat di bidang seni. Lulus dari ArtCenter College of Design di Pasadena, Amerika Serikat, ia bertemu Disney yang hadir pada acara Career Day. Griselda pun langsung menyerahkan lamaran kerja, dan baru mendapat respons setelah beberapa bulan.

Namun, selama 10 tahun berikutnya, ia belum juga berjodoh dengan Disney karena selalu saja ditawarkan proyek ketika ia sudah memiliki pekerjaan. Sebaliknya, ketika ia menganggur, Disney justru mengatakan tidak ada lowongan.

Kesempatan yang ditunggu akhirnya tiba ketika ia dihubungi untuk proyek film Moana oleh Ron Clements dan John Musker. Film itu memiliki tim yang sangat besar, mencapai 800 orang dari 25 negara.

Kerja bagus di Moana membuat Griselda kembali dilibatkan dalam film Frozen 2.

Sampai hari ini, Griselda merupakan satu-satunya pekerja Indonesia di departemen Art Disney. Sebelumnya, setahu dia, sempat ada beberapa juga orang Indonesia di departemen lain.

Ia menuturkan jika Disney terbuka sangat lebar bagi siapa pun. Mereka tidak memusingkan usia, gender, apalagi ras. Yang diperhitungkan hanya portofolio.

“Tidak ada satu pun yang menanyakan asal saya. Kami punya map di studio yang menempelkan pin asal negara pekerja. Saya sendirian di sana peta Indonesia. Jadi, semua orang bisa bekerja di Disney selama mempunyai portofolio bagus,” tegasnya.

Sebagai seseorang yang berdarah Indonesia, diakuinya secara tidak langsung budaya Tanah Air akan ia sematkan dalam tiap desain apa pun yang dibuat, antara lain, ia terbiasa mendesain dengan banyak detail.
“Pada baju yang saya terinspirasi dari batik. Anda pasti tahu, pada batik, semuanya secara detail dibuat tangan dan sangat halus. Ini sesuatu yang akan pasti kamu lihat di hasil kreasi saya, tidak hanya pada film Frozen,” pungkasnya. (M-1)

BERITA TERKAIT