15 November 2019, 23:15 WIB

Ismail Hadisoebroto Dilogo: Berinovasi dengan Moyang Sel


Gas/M-4 | Weekend

MI/SUMARYANTO BRONTO
 MI/SUMARYANTO BRONTO
Prof Dr dr Ismail Hadisoebroto Dilogo SpOT(K)

SELAIN Damayanti, narasumber berikutnya yang turut diwawancarai Andy ialah Prof Dr dr Ismail Hadisoebroto Dilogo SpOT(K). Ia merupakan dokter spesialis ortopedi dan traumatologi RSCM yang menjadi orang pertama dari Indonesia terkait penelitian stem cell atau sel punca. Ia melakukan penelitian stem cell sejak 2004, yang mana stem cell sendiri merupakan sel induk yang bisa beregenerasi dan membentuk sel baru, yang jika diinjeksikan ke dalam tubuh dapat menggantikan sel-sel yang rusak.

“Kami menyiapkan kebutuhan sel punca, terutama untuk penyakit-penyakit yang dengan pengobatan konvensional itu hasilnya belum memuaskan. Sel punca adalah nenek moyangnya sel yang mampu memperbarui dirinya, mampu memperbanyak dirinya, juga mampu berdiferensiasi, yang artinya berubah menjadi sel matang. Misalnya, dia ditaruh di tulang, jadi sel tulang. Jika ditaruh di sel jantung, dia jadi sel jantung. Kalau ditaruh di saraf, menjadi sel saraf, dan lain sebagainya,” tutur Ismail.

Selain menjadi dokter spesialis, Ismail dewasa ini juga mengabdi sebagai Kepala Unit Pelayanan Terpadu Pengembangan Teknologi Kedokteran Stem Cell di RSCM. Sejak 2010, ia sudah berhasil menangani berbagai kasus, dari tulang atau ortopedi dan kasus lainnya seperti glukoma, diabetes, jantung, luka bakar, dan stroke. Ketekunan dokter berkacamata dalam mengembangkan stem cell itu, akhirnya turut menghasilkan penghargaan dari BPPT Innovation Award 2018, khususnya dalam hal inovasi bidang kesehatan dan pemanfaatan stem cell.

Menurut Ismail, hingga saat ini RSCM sudah memiliki 288 pasien yang mendapatkan terapi stem cell. Setiap pasien mendapat terapi bersamaan dengan pengobatan konvensional, yang kemudian dapat merasakan manfaat 5R. Ismail menjelaskan bahwa 5R merupakan istilah yang ia gunakan untuk menjelaskan manfaat stem cell, yaitu regenerasi, restorasi, reparasi, rekonstruksi, dan rejuvenation.

“Yang lebih tren saat ini adalah rejuvenation untuk antiaging atau estetika. Tapi sebenarnya empat yang pertama ini tadilah yang kita kembangkan di RSCM untuk mengatasi penyakit-penyakit yang tidak bisa dijangkau dengan pengobatan konvensional atau nonoption treatment,” tutur Ismail. (Gas/M-4)

BERITA TERKAIT