15 November 2019, 20:30 WIB

Kampanye Busana Daerah Tiap Kamis dari Komunitas Kridha Dhari


Bagus Pradana | Weekend

Antara
 Antara
Sejumlah peserta Kamis Nusantara menyanyikan lagu lagu daerah nusantara di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (10/1

SETELAH gerakan Jumat Batik dan Selasa Berkebaya, kini hadir Kamis Nusantara. Menggunakan tagar #KamisNusantara, gerakan ini merupakan ajakan mengenakan pakaian tradisional setiap hari kamis.

Komunitas Kridha Dhari dan Forum Alumni Nusantara (FAN) sebagai penggagas gerakan itu menyatakan jika pakaian tradisional yang ingin diangkat sangatlah luas. Tidak hanya berbagai jenis kain adati melainkan juga aksesorisnya, termasuk penutup dan ikat kepala.

"Otomatis dengan kita bangga berpakaian nusantara ini para pelaku dan pengerajin budaya di daerah-daerah itu bisa lebih terbantu, saya mengajak terutama untuk orang-orang yang berada di kota-kota besar dengan memakai pakaian seperti ini baik untuk aktivitas sehari-hari," tutur Precilla Estevina, Ketua Umum Komunitas Kridha Dhari Indonesia, dalam konfrensi pers yang berlangsung di Jakarta, kamis (14/11).

Pada kesempatan itu digelar pula acara bincang kebudayaan dengan tajuk "Kita Indonesia Keren, Wastra Nusantara Untuk Bangsa". Sejalan dengan Precilla, mantan model tahun 90an yang kini dikenal sebagai perancang busana dan pegiat budaya, Dhanny Dahlan turut hadir sebagai pemateri dalam acara bincang-bincang tersebut.

Ia mengakui bahwa Indonesia memiliki khasanah budaya terutama kain nusantara yang amat banyak. Setidaknya di Indonesia tersebar 12 teknik tenun tradisional yang mampu menghasilkan ribuan motif kain tenun dengan cerita dan ciri khas yang berbeda-beda di tiap daerahnya.

"Indonesia adalah negara yang terkaya dalam penguasaan teknik tenunnya, kita memiliki 12 teknik tenun tradisional yag tersebar dari Sabang dan Papua. Tenun adalah teknik dasar pembuatan kainnya, yang darinya lahirlah pengembangan 12 jenis teknik tadi, seperti Tenun Songket dan Tenun Ikat. Itu penting saya sampaikan karena kita sering terbalik dalam menyebut tenun ini," terang Dhanny Dahlan.

Selain Dhanny Dahlan, acara tersebut juga dipandu oleh Asep Kambali, sejarawan Indonesia yang juga merupakan pendiri dan presiden dari Komunitas Asep Dunia. Ia mengapresiasi gerakan berbusana nusantara yang telah diinisiasi oleh Kridha Dhari, menurutnya salah satu kunci utama untuk menjaga persatuan dan kesatuan di negara ini adalah mengenali ragam budaya yang tersebar di seantero Indonesia.

"Kebhinekaan yang dimiliki Indonesia ini sebenarnya mampu menjadi potensi kalau kita mampu menjaga dan mengelolanya. Tapi ia bisa juga menjadi petaka bila kita tidak saling kenal satu sama lainnya, konflik horizontal akan terjadi bila kita tidak saling kenal, makanya budaya itu harus kita jaga sebagai potensi untuk membangun Indonesia," tegas Asep. (M-1)

BERITA TERKAIT