15 November 2019, 12:30 WIB

Defisit Neraca Dagang Tahun ini Jauh Lebih Tipis


Andhika Prasetyo | Ekonomi

ANTARA/Aditya Pradana Putra
 ANTARA/Aditya Pradana Putra
Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat, secara akumulasi, nilai ekspor sepanjang Januari-Oktober 2019 mencapai US$139,11 miliar.

Sementara, nilai impor yang dibukukan ialah US$140,89 miliar.

Dengan demikian, dalam sepuluh bulan di tahun ini, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,78 miliar.

Walaupun begitu, defisit sepanjang tahun ini terbilang sangat tipis. Tidak seperti periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$5,57 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan, tahun ini, kinerja ekspor dan impor memang berjalan hampir selalu seimbang.

"Ketika terjadi surplus, surplusnya tipis. Saat defisit, defisitnya pun tipis. Jadi tahun ini memang tidak terjadi banyak fluktuasi seperti 2018," jelas Suhariyanto di kantornya, Jakarta, Jumat (15/11).

Baca juga: Ekspor Bijih Nikel Naik Setelah Aturan Moratorium

Sejak Mei, selisih antara ekspor dan impor tidak pernah lebih dari US$300 juta.

Pada Mei, surplus tercatat U$218,5 juta. Berlanjut ke Juni, surplus kembali terjadi dengan angka US$297,3 juta. Sedikit tergelincir pada Juli, neraca dagang menderita defisit US$64,3 juta.

Kembali surplus di Agustus sebesar US$112,4 juta dan turun lagi menjadi defisit US$163,9 juta pada September.

Hingga akhirnya neraca dagang kembali surplus US$161,3 juta di Oktober.

Kondisi perekonomian dunia yang tidak stabil menjadi alasan utama mengapa kinerja perdagangan relatif stabil sepanjang tahun. Banyak negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat (AS) yang menahan belanja karena mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi.

"Kondisi sekarang memang berat. Dengan perang dagang yang masih terus berlanjut, harga komoditas yang berfluktuasi, ini akan menjadi tantangan besar ke depan," ucapnya. (OL-2)

BERITA TERKAIT