15 November 2019, 06:20 WIB

Evaluasi sebelum Rombak Buku


(Rif/Medcom.id/H-2) | Humaniora

 MI/Susanto
  MI/Susanto
 Rektor Universitas Islam International Indonesia (UIII) Komaruddin Hidayat 

KEMENTERIAN Agama diingatkan untuk tidak buru-buru merombak 155 buku pelajaran agama Islam yang kontennya dianggap bermasalah, sebelum ada evaluasi menyeluruh dari berbagai lintas disiplin. Hal itu ditegaskan Rektor Universitas Islam International Indonesia (UIII) Komaruddin Hidayat saat dihubungi Media Indonesia di Jakarta, kemarin.

"Jangan terburu-buru menyusun buku baru tanpa kajian mendalam dengan melibatkan lintas disiplin. Jangan parsial dan tambal sulam, Jangan hanya jadi proyek tahunan," kata dia.

Komaruddin sependapat, buku pendidikan agama Islam perlu ditulis ulang karena kontennya sudah ketinggalan. Salah satu yang membuat buku-buku tersebut ketinggalan ialah isi dan uraiannya yang rumit sehingga sulit dipahami.

"Sejarah Nabi Muhammad SAW itu sangat menarik jika disajikan semacam novel dengan pesan moral yang tinggi. Jangan cerita perang melulu tanpa pemaknaan yang cerdas dan visioner, mengapa perang itu mesti terjadi. Islam itu bukan agama perang, tapi awal kemunculannya terpaksa perang, sebagaimana sejarah kemerdekaan Indonesia, negara ini bukan mesin perang," urai Komaruddin mencontohkan.

Sebelumnya, Dirjen Pendidikan Kementerian Agama Kamaruddin Amin mengatakan penulisan ulang 155 buku pelajaran agama Islam menjadi upaya mencegah masuknya paham radikal melalui lingkungan sekolah.

"Kurang lebih ada 155 buku yang sedang kita tulis ulang, kita siapkan dan insya Allah akhir tahun ini sudah bisa di-launching oleh Menteri Agama. Ya, semua jenjang, dari kelas 1 sampai 12."

Saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim setuju buku agama Islam ditulis ulang karena itu merujuk ke arahan Presiden. Nadiem belum bicara banyak karena ia belum sempat berdiskusi dengan Fachrul Razi terkait dengan masalah itu. (Rif/Medcom.id/H-2)

BERITA TERKAIT