14 November 2019, 15:00 WIB

Macet, Kendaraan di Jakarta Hanya Berkecepatan 22 Km/Jam


Ilham Pratama Putra | Megapolitan

ANTARA/Reno Esnir
 ANTARA/Reno Esnir
Kendaraan terjebak kemacetan saat melintasi Tol Dalam Kota arah Jalan Gatot Subroto, Jakarta.

KEMACETAN di DKI Jakarta menurunkan kecepatan pergerakan kendaraan. Rata-rata laju kendaraan di jalan arteri Ibu Kota pada jam padat hanya 22 km per jam.

"Untuk kota megapolitan, seharusnya 30 km per jam," kata Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Bambang Prihartono di Hotel Red Top, Jakarta Pusat, Kamis (14/11).

Menurut dia, perlambatan itu selaras dengan peningkatan pergerakan manusia di Jabodetabek.

Pada 2015, pergerakan masyarakat 47,5 juta orang per hari dengan laju kendaraan hingga 30 km per jam. Sementara itu, di 2019, pergerakan mencapai 88 juta orang per hari.

Baca juga: Dishub DKI Ancam Sita Skuter Listrik

"Apalagi di Jabodetabek pengguna kendaraan bermotornya lebih dari 74%. Seharusnya lebih banyak pejalan kaki atau yang menggunakan transportasi publik," ungkap dia.

BPTJ berkomitmen mengembalikan standar kecepatan jalanan Jabodetabek. Dia mendapat mandat dari Presiden Joko Widodo untuk mengurai kemacetan Jabodetabek.

"Ini cakupannya sangat besar, delapan kota loh ini. Dananya Rp700 triliun untuk 10 tahun dan akan kita usahakan akan ada bantuan dari pihak swasta," kata Bambang.

Dia mengatakan transportasi umum akan terus digencarkan dalam 10 tahun ini. Dari segi kuantitas maupun kualitas layanan, transportasi publik bakal didandani.

"Karena kerugian atas kemacetan ini, Jakarta saja bisa sampai Rp65,7 triliun pada tahun lalu. Mulai dari segi kesehatannya, efesiensi bahan bakar, hingga produktifitas ekonomi," jelas dia. (Medcom/OL-2)

BERITA TERKAIT