14 November 2019, 08:15 WIB

Bersiap Masuk Rantai Pasok Global


Andhika Prasetyo | Ekonomi

MTVN/Annisa Ayu Artanti
 MTVN/Annisa Ayu Artanti
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan

MENTERI Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan optimistis Indonesia akan masuk rantai pasok global di 2020 karena pengembangan hilirasi sumber daya alam sedang digenjot.

"Kita hanya ekspor, sekarang Presiden perintahkan bikin hilirasi dan sekarang proses sedang berjalan," ujarnya dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Forkopimda Tahun 2019 di Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Di hadapan para kepala daerah yang hadir, Luhut mengatakan salah satu produk yang membuat Indonesia jadi pemain dalam tataran pasar global ialah hilirisasi nikel, yakni produk baterai litium.

Ia memaparkan ekspor produk hilir nikel di Morowali, Sulawesi Tengah, tahun lalu mencapai US$5,8 miliar.

Tahun ini, angka ekspor ditargetkan US$9 miliar dan akan mencapai US$13 miliar pada tahun depan. "Hingga 2024, nilai ekspor mencapai kisaran US$30 miliar-US$35 miliar," ucapnya.

Pada 2030, lanjut Luhut, Eropa akan mengurangi 30% emisi karbon sehingga diprediksi industri otomotif akan banyak memerlukan baterai litium yang diproduksi di Indonesia.

Situasi itu menguntungkan, apalagi strategi pembatasan ekspor nikel akan membuat harga penghiliran (hilirisasi) nikel akan semakin naik.

"Indonesia untuk pertama kalinya masuk global suply chain yang membuat Indonesia akan leading dalam penyiapan baterai litium karena kita punya barang itu semua," jelas Luhut.

Dalam kesempatan itu Luhut juga mendorong pemerintah daerah menyadari perubahan model bisnis saat ini yang banyak mengandalkan teknologi, khususnya dalam hilirisasi sumber daya alam.

Dengan begitu, ekspor saat ini tidak harus dalam bahan mentah, melainkan produk jadi yang bernilai tinggi sehingga Indonesia menjadi pemain dan penentu dalam pasar global.

Daerah jadi pemimpin

Di sesi yang membahas pembangunan infrastruktur pangan, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang juga turut menjadi pemateri dalam rakornas tersebut menyampaikan bahwa para pemimpin daerah harus jadi penentu utama atas setiap program pertanian yang diterapkan di wilayah masing-masing.

"Tidak ada yang memiliki pemahaman lebih baik tentang kondisi pertanian ketimbang pimpinan daerah. Camat, bupati, dan gubernur pasti lebih tahu dari saya. Tidak boleh kementerian merasa lebih jago," ujar Syahrul.

Pemerintah pusat, imbuhnya, hanya memberi asistensi untuk menyempurnakan kebijakan yang dijalankan di daerah.

"Program-program itu harus dimulai dari daerah. Riset-riset juga harus dilakukan daerah karena mereka yang lebih paham bagaimana kondisi tanah, tanaman," tuturnya.

Dengan begitu, Mentan optimistis upaya peningkatan produktivitas pangan akan bisa dicapai. Petani pun pasti bisa menekan biaya produksi karena sudah mengetahui cara yang efektif untuk menghasilkan produksi yang masif.

"Kita harus ingat bahwa pertanian adalah sumber daya yang paling pasti. Kita punya alam yang luar biasa, kita punya rakyat yang banyak. Itu semua sumber yang besar. Pertanian pasti bisa menghidupi kita semua," tandasnya. (Ant/E-2)

BERITA TERKAIT