14 November 2019, 08:05 WIB

Banjir masih Jadi Ancaman


Akhmad Safuan | Nusantara

ANTARA/ANIS EFIZUDIN
 ANTARA/ANIS EFIZUDIN
Petani mempersiapkan bibit padi untuk ditanam di persawahan Desa Karangtejo, Kedu, Temanggung, Jawa Tengah, kemarin.

MUSIM penghujan ini, sejumlah daerah di pantura Jawa Tengah diperkirakan masih akan dikunjungi banjir. Pasalnya, sejumlah proyek yang dibangun untuk mencegah banjir belum kelar dikerjakan.

Proyek Banjir Kanal Timur dan normalisasi Kali Tenggang di Semarang, normalisasi Sungai Sayung dan Dombo di Demak, serta Sungai Juana di Kabupaten Pati, belum tuntas dikerjakan. Sungai-sungai itu mengalami pendangkalan akibat sedimentasi yang tinggi dan penyempitan alur karena berdirinya bangunan liar di daerah aliran sungai.

"Kendala utama pada pembangunan normalisasi sungai ini adalah pemindahan rumah dan bangunan yang ada di bantaran sungai yang tidak kunjung selesai," aku Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, Ruhban Ruzziyanto, kemarin.

Normalisasi sungai telah dimulai sejak tahun lalu dengan anggaran yang cukup besar. BKT Semarang disiapkan dana Rp464 miliar, Sungai Sayung Rp3,8 miliar, dan Sungai Juana Rp100 miliar.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Demak Agus Nugroho mengaku sudah meminta semua instansi dan warga untuk menjaga dan membersihkan sungai. "Setidaknya tanpa sampah, sungai tidak mudah meluap."

Di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, luapan Sungai Nanga Nae kembali akan mengancam warga Desa Macang Tanggar, Kecamatan Komodo. Permintaan warga kepada pemerintah kabupaten untuk melakukan normalisasi sungai tidak diindahkan pemkab.

"Setiap tahun, sawah dan kebun milik warga selalu jadi korban banjir karena luapan sungai. Kami sudah meminta pembangunan tanggul dengan batu bronjong, tapi belum ditanggapi," ungkap Kepala Desa Mancang Tanggar Jamaludin.

Benahi trotoar

Pemerintah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, bergerak cepat dengan melakukan penataan trotoar dan drainase guna menanggulangi banjir. Dana Rp13 miliar pun digelontorkan.

"Banjir terjadi akibat sebagian besar akar pohon di bawah trotoar menutup saluran air. Dengan menata trotoar sekaligus drainase, air bisa mengalir lancar saat hujan," terang Kabid Preservasi Jalan, Dinas Pekerjaan Umum, Didi Sunardi.

Beberapa titik rawan banjir luapan drainase di antaranya berada di ruas Jalan Ir H Juanda hingga ke Jalan Suroso. "Kami harapkan pengerjaan bisa selesai sebelum masuk musim hujan," tandasnya.

BPBD Banjarnegara, Jawa Tengah, juga bertindak cepat dengan mengusulkan status siaga darurat longsor, banjir, dan angin kencang di awal musim penghujan. Apalagi, pada November diperkirakan intensitas hujan tinggi.

"Selain menyiapkan status siaga darurat bencana, kami sudah menyurati sejumlah wilayah rawan bencana untuk waspada. BPBD juga sudah mulai membuka posko 24 jam siaga bencana baik longsor, banjir, maupun angin kencang, termasuk penyiapan logistik dan peralatan penanganan bencana," ujar Kepala Pelaksana Harian BPBD Banjarnegara Arief Rahman.

Kemarin, banjir merendam empat kecamatan di Kabupaten Aceh Utara, Aceh. Akibatnya, aktivitas masyarakat dan arus lalu lintas terganggu.

Empat lokasi yang terendam banjir itu ialah Kecamatan Matangkuli, Pirak Timu, Paya Bakong, dan Kecamatan Tanah Luas. (JL/BB/BK/LD/MR/FB/RF/N-2)

BERITA TERKAIT