14 November 2019, 07:20 WIB

Anak Muda, Terorisme, dan Khilafah


Al Chaidar Dosen Antropologi Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh | Opini

Dok. MI
 Dok. MI
Ilustrasi Teroris

LEDAKAN bom di Kantor Polrestabes Medan kemarin yang diduga dilakukan Rabbial Muslim Nasution merupakan sebuah tragedi yang memilukan dan mengejutkan.

Rabbial ialah anak muda yang sudah berumah tangga dan memiliki anak. Ia berusia 24 tahun dengan latar belakang pendidikan dan status sosial ekonomi yang berasal dari kalangan bawah.

Warga asli Medan, Sumatra Utara, itu diduga meledakkan dirinya saat memasuki kompleks Kantor Polrestabes Medan, Jalan HM Said, Kota Medan, kemarin.

Profil pelaku peledakan bom bunuh diri itu tersebar di dunia maya. Rabbial menjadi Youtuber yang sangat aktif. Terduga pelaku itu merupakan warga Jalan Nangka, Medan Petisah.

Ia dikenal dengan panggilan Dedek sejak kecil. Dedek dinilai baik, punya jiwa setia kawan. Dedek juga merupakan pemuda yang aktif di lingkungan rumahnya.

Selama ini banyak terduga pelaku terorisme yang sudah berkeluarga dan memiliki anak kemudian melakukan bom bunuh diri dengan mengajak serta seluruh keluarganya. Aksi tersebut dikenal dengan familial terrorism.

Namun, apa yang dilakukan Rabbial ini ialah sesuatu yang lain, yang membutuhkan penjelasan teoretis dari sudut ilmu pengetahuan.

Rabbial ialah anak muda yang baru memiliki keluarga dan memiliki pandangan politik yang radikal. Hal itu terlihat dari akun Youtube miliknya yang banyak menceritakan tentang pemimpin negeri ini dan juga gubernur.

Bagi dia, banyak pemimpin tidak menjalankan prinsip-prinsip Islam, dan dia pun ingin mengubahnya dengan cara yang agak sedikit berbeda.

Ia kemudian menjadi pelaku bom bunuh diri yang tidak menewaskan siapa pun, kecuali dirinya sendiri.

Ini merupakan sebuah tragedi yang mesti dipahami tentang mengapa ada anak muda yang sudah berkeluarga, berasal dari lingkungan agamais yang moderat seperti kelompok remaja masjid di lingkungannya, melakukan aksi terorisme dengan cara seperti itu.

Selama ini banyak teroris yang melakukan serangan bom bunuh diri ialah kalangan yang berasal dari kelompok intoleran, jarang dari kalangan konservatif yang cenderung moderat.

Rabbial muncul dengan serangannya yang aneh dan tampak tak terlatih. Mungkin dia pelaku terorisme lone wolf. Pelaku terorisme lone wolf melakukan secara mandiri dan umumnya anak muda. Lone wolf ini dilakukan atas inisiatif sendiri, tidak terikat jaringan atau kelompok teroris lain.

Mereka menyerang dengan mengumpulkan bahan-bahan tentang target secara sendiri, survei target sendiri, dan bahkan merakit bom atau alat penyerangan pun sendiri. Pelaku teror perorangan ini umumnya ialah anak muda (PJ Phillips, 2011).

Pelaku teror lone wolf umumnya terbentuk dari media sosial seperti Telegram. Para pelaku teror perorangan  ini memiliki paham sendiri yang diperoleh dari internet dengan berbagai propaganda kelompok radikal-teroris.

PJ Phillips (2011) mengatakan kelompok radikal menjerat pengikutnya dengan doktrin atau meracuni pemikiran seseorang, seperti melalui tayangan video aksi yang menindas dan membantai kelompok radikal yang mengaku sebagai umat muslim melalui media sosial, seperti Youtube, Facebook dan Telegram, serta Tweeter dan Whatsapp. Sasarannya ialah anak muda dengan kelas ekonomi menengah bawah, bukan yang bukan kelas rendah.

Kelas menengah bawah atau kelas miskin inilah yang dianggap rentan terindoktrinasi oleh lone wolf. Media sosial sangat berpengaruh terhadap munculnya terorisme jenis ini. Mereka memiliki smartphone atau komputer dan juga kuota internet.

Dengan dimulai dari rasa empati, itu membuat seseorang menjadi radikal secara sendirinya dan termotivasi menjadi seorang lone wolf.

Pertanyaan tentang apakah dan bagaimana teroris lone wolf termasuk daftar yang lebih luas dari kelompok-kelompok teroris ialah sesuatu yang mengacaukan analis keamanan karena berbagai alasan (R Pantucci, 2011).

Data menunjukkan, dalam hal kematian, terorisme lone wolf di Amerika tidak meningkat, tetapi tetap saja menjalani dua perubahan penting dalam metode yang digunakan.

Yang pasti, polisi dan militer berseragam personel telah menjadi target utama teroris yang beraksi sendirian.

BERITA TERKAIT