13 November 2019, 23:30 WIB

Aksi Demonstrasi tidak Membuat WNI Ingin Tinggalkan Hong Kong


Melalusa Susthira K | Internasional

 (Photo by Dale DE LA REY / AFP)
  (Photo by Dale DE LA REY / AFP)
Polisi menahan seorang pria dalam sebuah flash mob untuk memblokir jalan-jalan di distrik Central di Hong Kong pada 13 November 2019

KONSULAT Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong mengkonfirmasi demonstrasi yang kian memanas di Hong Kong dalam beberapa hari terakhir. Namun dengan situasi yang mencekam tersebut, pihak KJRI belum mendapatkan laporan Warga Negara Indonesia (WNI) ingin meninggalkan Hong Kong dengan alasan kericuhan demonstrasi.

"Hingga saat ini kami belum mendapat laporan bahwa WNI ingin meninggalkan Hong Kong karena situasi ini," terang Konsul Muda Bidang Pendidikan Sosial dan Budaya (Pensosbud) KJRI Hong Kong, Vania Alexandra Lijaya, kepada Media Indonesia, Rabu (13/11).

Meski demikian, sambung Vania, KJRI terus memantau perkembangan situasi di Hong Kong. Ia mengungkapkan KJRI juga terus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan berbagai pihak guna memastikan keselamatan WNI yang berada di Hong Kong.

"KJRI terus memantau secara dekat situasi di lapangan, berkoordinasi dengan pemerintah setempat, berkomunikasi dengan warga, turun ke lapangan untuk memastikan keamanan dan keselamatan WNI," ujar Vania.

Kepada WNI yang berada di Hong Kong, KJRI pun mengimbau agar tetap selalu waspada dan melaporkan ke hotline KJRI apabila ada hal yang mengancam keamanan ataupun keselamatan.

"Tetap tenang, waspada, menjauhi wilayah demonstrasi dan meminimalisir aktivitas di luar rumah yang tidak mendesak. Tidak mudah terprovokasi terhadap ajakan demo, mentaati segala tata tertib dan peraturan yang berlaku," tutur Vania.


Baca juga: Warga Venesia Mengungsi akibat Banjir


Vania menjelaskan dalam beberapa hari terakhir demonstrasi yang ricuh memaksa sekolah-sekolah diliburkan, beberapa perkantoran dan toko-toko terpaksa ditutup, dan transportasi umum menjadi terhambat. Namun ia mengatakan bahwa untuk aktivitas di KJRI tetap berjalan normal seperti hari-hari biasanya.

Kericuhan pecah di Hong Kong setelah aparat polisi bergulat dengan seorang demonstran di sebuah jalan yang diblokade para demonstran pada Senin (11/11) lalu. Polisi tersebut kemudian menembakkan peluru tajam ke arah seorang demonstran lain yang berusaha mendekati perkelahian tersebut.

Pada hari yang sama, seseorang yang memakai topeng dilaporkan telah menyiram seorang pria dengan bensin lalu membakarnya akibat pertengkaran antara mereka berdua.

Adapun pada Jumat (8/11), seorang mahasiswa Hong Kong meninggal setelah terjatuh dari sebuah gedung parkir saat aparat polisi berusaha membubarkan massa dengan tembakan gas air mata. Kematian tersebut menjadi yang pertama sejak demonstrasi meletus di Hong Kong pada pertengahan Juni lalu. (OL-1)

BERITA TERKAIT