14 November 2019, 06:40 WIB

Restorasi untuk Indonesia Maju


Charles Meikyansyah Anggota DPR RI | Opini

Dok.MI/Seno
 Dok.MI/Seno
Opini

PADA 26 Juli 2011, Jakarta sedang cerah-cerahnya. Tidak seperti biasanya, Hotel Mercure, Ancol, sedang ramai dengan sekumpulan penerus bangsa. Bukan tanpa maksud, mereka berkumpul karena prihatin terhadap arah bangsa. Seperti tanpa kompas, bangsa ini seakan tak bisa lepas landas.

Hotel Mercure menjadi saksi bagaimana peta jalan dan kompas sekaligus semangat gerakan restorasi dideklarasikan. Pada 26 juli 2011, momentum untuk terus bergerak maju. Ibarat peribahasa, sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang,

Delapan tahun kemudian, kapal bergerak kencang, restorasi terus dikumandang agar Indonesia jadi bangsa pemenang. Kapal itu bernama NasDem. Awalnya diremehkan memang, partai baru tidak akan bertahan di rimba politik. Namun, seluruh penghuni kapal yakin, kerja keras tidak akan mengkhianati hasil.

Di tengah badai ketidakpercayaan masyarakat kepada partai, NasDem malah dipercaya rakyat. Lolos dari parliamentary threshold dengan 8.402.812 suara (6,72%) pada Pemilu 2014, capaian yang menandai NasDem sebagai partai baru yang memperoleh suara terbesar.

Selanjutnya, ketika politik Indonesia diterpa 'politik berbiaya mahal', NasDem lagi-lagi menggratiskan seluruh anak bangsa yang terbaik dalam gerakan restorasi tanpa ada pungutan. Bebas mahar.

Hasilnya, pada Pemilu 2019, NasDem mendapatkan 12.661.792 suara atau 9,05%. Terjadi peningkatan 4.258.980 suara atau 2,33%. Torehan yang memukau di tengah hampir sebagaian besar partai politik mengalami stagnasi dan penurunan perolehan suara.

Tentu, torehan yang memukau pada 2014 dan 2019 bukanlah akhir dari perjalanan partai dalam mewujudkan cita-citanya. NasDem harus terus bergerak maju. Maka itu, di tengah dua momen penting partai, yaitu kongres dan ulang tahun, diskursus gerakan restorasi harus dihadirkan.

Membumikan restorasi Indonesia

Sebagai gagasan, restorasi Indonesia bertumpu pada Indonesia yang merdeka sebagai negara bangsa, berdaulat secara ekonomi, dan bermartabat dalam budaya. Pada tataran praksis, gagagasan restorasi Indonesia mewujud dalam advokasi kebijakan yang ke depan akan menjadi arah partai. Pertama, amendemen konstitusi. Penting karena sebagai fondasi, konstitusi harus mengalami pembaruan agar tak lekang oleh zaman. Kontekstualisasi konstitusi akan membuat kita terhindar dari kungkungan masa lalu.

Kedua, modernisasi partai. Partai sebagai agregasi kepentingan publik harus menghasilkan kader-kader terbaik untuk menjadi penerus estafet kepemimpinan bangsa. Maka dari itu, sejatinya partai harus membuka diri untuk seluruh lapisan masyarakat yang menghibahkan hidupnya untuk memimpin Indonesia. Konvensi calon presiden 2024 menjadi manifestasi politik restorasi ke depan. Konvensi secara filosofis memberikan kemungkinan bagi seluruh anak bangsa dalam menentukan jalannya Republik.

Ketiga, situasi global yang penuh dengan volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity (VUCA) membutuhkan pemikiran dan jalan keluar agar Indonesia mampu menghadapi ancaman resesi global. Hari ini ekonomi global diprediksi terus memburuk. International Monetary Fund (IMF) telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia 2019 menjadi 3%, dari sebelumnya 3,2% pada 2018.

Perlambatan ekonomi global diperparah dengan semakin dinamisnya konstelasi geopolitik global yang membuat kinerja ekonomi negara emerging market tertekan dan berada dalam tepian resesi yang dapat merembet. Ancaman krisis yang terjadi di Argentina (Peso mengalami tekanan -52,2%) dan Turki (-43,2%) pada 2018 juga merembet ke Indonesia, yakni rupiah mengami pelemahan -9,2% yoy atau terparah di Asia Tenggara.

Maka dari itu, NasDem sebagai partai koalisi mendorong agar tidak terkena badai krisis ekonomi dan menawarkan politik restorasi sebagai proposal dalam menghadapi resesi dan ancaman bangsa. NasDem mendorong seluruh kekuatan partai untuk menciptakan stabilitas politik dan keamanan serta pembangunan iklim ekonomi yang aman dan berkelanjutan.

Basis kekuatan dan stabilitas bangsa hanya bisa dicapai dengan semangat gotong royong sebagai anak bangsa, maka politik restorasi harus menyatukan. Oleh karena itu, rumusan ke empat ialah silaturahim kebangsaan agar ada ruang konsesus tercipta secara deliberatif. Silaturahim juga menjadi adab berkomunikasi bangsa yang menyatukan sekat dan perbedaan.

Kelima, tantangan dan ancaman ke depan ialah permasalahan lingkungan. Harus ada konsesus dan aksi global dalam menghadapi ancaman lingkungan. Itu mengapa selain mendorong upaya kerja sama global seperti Paris Agreement dan pengarusutamaan green policy dalam level domestik, juga menyerukan aksi konkret dalam mendukung Indonesia bebas sampah plastik melalui pengurangan penggunaan air kemasan dan atau pembangunan fasilitas air minum gratis di instansi/kantor/sekretariat masing-masing.

Yang terakhir ialah memperteguh Pancasila sebagai napas dalam setiap kebijakan legislatif dan eksekutif untuk tercapainya cita-cita kemerdekaan. Membumikan politik restorasi ialah pekerjaan rumah NasDem selanjutnya, selebihnya selamat ulang tahun NasDem.

BERITA TERKAIT