14 November 2019, 06:20 WIB

Penjualan Industri Otomotif Melambat Jelang Akhir Tahun


(Dro/S-5) | Otomotif

 ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf
  ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf
Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D. Sugiarto

PENJUALAN otomotif untuk pasar domestik Indonesia mengalami penurunan. Itu terlihat dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) September 2019, yakni hampir semua agen pemegang merek (APM) mengalami penjualan menurun.

Penjualan September hanya sekitar 92.928 unit atau mengalami penurunan 0,4% ketimbang periode sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, penjualan otomotif pabrik ke dealer atau wholesales selama Januari-September 2019 ketimbang periode sama pada tahun lalu, melambat hingga 11,8% (ytd).

Ketua Gaikindo Jongkie Sugiarto menyampaikan, penurunan penjualan tahun ini disebabkan daya beli masyarakat yang menurun pada semester I 2019. Penurunan daya beli karena adanya pemilihan umum 2019 dan perang dagang antara AS dan Tiongkok yang berpengaruh pada nilai tukar.

"Akibat terjadinya penurunan penjualan ini, Gaikindo merevisi target penjualan mobil hingga akhir 2019 menjadi 1 juta unit dari semula 1,1 juta unit," ucap Jongkie saat dihubungi Media Indonesia, Senin (16/9).

Penurunan penjualan otomotif jelang akhir tahun dibenarkan Executive General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM) Fransiscus Soerjopranoto. Namun, Toyota jadi salah satu APM yang penurunan penjualannya terkecil jika dibandingkan dengan APM lainnya.

Dia menyampaikan salah satu keberhasilan itu karena pihaknya berupaya meningkatkan layanan dengan penambahan jaringan hingga lebih dari 330 outlet serta layanan Toyota Virtual Asistant.

Yang juga penting, Toyota tahun ini memperkenalkan model-model mobil barunya dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Paling tidak untuk tahun ini Toyota memperkenalkan hingga 10 model mobil. "Itu dapat menaikkan penjualan kendaraan dan membangkitkan gairah pasar yang lesu," katanya.

Soerjopranoto juga menilai kebijakan Pemprov DKI yang bakal menaikkan pajak bea balik nama kendaraan bermotor (BBN-KB) sebesar 2,5% menjadi 12,15% sehingga berpengaruh pada harga mobil dan motor efektif per 11 Desember 2019, kurang tepat di saat kondisi pasar otomotif yang lesu. Terlebih selama ini DKI Jakarta menjadi salah satu kontributor besar penjualan otomotif nasional, yakni di atas 20%. Bukan tidak mungkin, ini juga akan membuat proyeksi penjualan otomotif 2020 melambat.

Karena itu, dia berharap ke depannya para pelaku APM atau pelaku pasar otomotif bisa meningkatkan kerja sama. Hal itu dianggap sebagai solusi untuk menjaga gairah pasar otomotif di Tanah Air.

"Kita ambil contoh, perpaduan strategi APM dalam memperkenalkan produk baru dengan kebijakan pemerintah menurunkan suku bunga kredit. Jadi, bukan menaikkan pajak yang membebankan calon konsumen," pungkas dia. (Dro/S-5)

BERITA TERKAIT