14 November 2019, 05:00 WIB

Ajaran Toleransi dari Djaduk Ferianto


(FU/AT/*/H-1) | Humaniora

ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/
 ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/
Romo Gregorius Budi Subanar (kanan) memimpin misa arwah saat prosesi pemakaman seniman Indonesia Djaduk Ferianto di Padepokan Seni Bagong 

SENIMAN RM Gregorius Djaduk Ferianto mengembuskan napas terakhirnya di kediamannya, di Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta, Rabu (13/11), pukul 02.30. Tampak banyak seniman hadir mengantarkan kepergian Djaduk ke peristirahatan terakhirnya.

Mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pun hadir dan memberikan pidato ucapan selamat jalan sebelum jenazah Djaduk diantarkan menuju permakaman. Banyak yang merasa kehilangan atas kepulangan Djaduk. "Saya belajar makna toleransi dari cara Mas Djaduk menjalani kehidupan," ujar Lukman.

Lukman teringat pada kejadian beberapa tahun silam, saat acara seni pertunjukan penggalangan dana untuk almarhum Munir di Batu, Malang. Kala itu, Djaduk sedang bermain musik sebelum waktu zuhur. Di tengah-tengah permainan, terdengar alunan puji-pujian dari masjid alun-alun tempat pergelaran berlangsung.

Meski bukan suara azan, Djaduk menghentikan pertunjukan. Wali Kota Batu waktu itu memintanya untuk terus melanjutkan pertunjukan. "Tapi Mas Djaduk tidak mau dan mengatakan, atiku ora tekan," ingat Lukman.

Peristiwa bagi Lukman ialah pelajaran toleransi yang luar biasa dari seorang Djaduk. "Semoga kita mampu menjalankan apa yang selama ini beliau lakukan, yakni bagaimana kedamaian mewujud di tengah masyarakat kita yang beragam."

Sore itu, jenazah Djaduk dimakamkan di permakaman keluarga, Sembungan, Bantul, DI Yogyakarta. Djaduk meninggalkan istri, Bernadette Ratna Ika Sari, dan lima anak. Selamat beristirahat Djaduk. (FU/AT/*/H-1)

BERITA TERKAIT