14 November 2019, 04:40 WIB

Singsaras Pengganti Beras


(UA/H-1) | Humaniora

MI/ BARY FATHAHILAH
 MI/ BARY FATHAHILAH
Beras singkong (Rasi) yang siap masak dan disajikan di Kampung Adat Cirendeu, Cimahi, Bandung, Jawa Barat,

KETERGANTUNGAN penduduk Indonesia terhadap beras sangatlah tinggi. Karena itu, Indonesia masih mengimpor beras setiap tahunnya untuk memenuhi kebutuhan dan persediaan dalam negeri. Padahal, dari sisi kesehatan, mengonsumsi nasi yang dihasilkan dari beras berpotensi memicu penyakit gula (diabetes).

Diperlukan inovasi bidang pangan agar masyarakat punya alternatif selain beras dalam memenuhi konsumsi pangan hariannya. Bertepatan dengan Dies Natalis ke-55 Universitas Jember (Unej), Minggu (10/11), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Unej meluncurkan inovasi produk makanan pokok pengganti beras. Produk yang terbuat dari singkong tersebut bernama singsaras, kependekan dari singkong disawut jadi beras. Peluncuran produk inovasi ini juga diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan nasional.

Ketua LP2M Unej Achmad Subagio mengatakan peluncuran produk singsaras merupakan bentuk dukungan Unej terhadap permasalahan kekurangan pangan dan pertanian nasional. Diharapkan, singsaras bisa menurunkan konsumsi beras yang saat ini mencapai 114,6 kilogram per kapita per tahun.

Achmad menjelaskan singsaras bisa diolah dengan teknologi sederhana. Itulah sebabnya ia yakin bahan pangan ini bisa dibuat di setiap rumah tangga dengan mudah. Pengolahan singsaras dimulai dengan pemilihan singkong yang baik dengan kadar hidrogen sianida (HCN) rendah.

Setelah itu, singkong dikupas, dicuci, dan diolah menjadi sawut. Selanjutnya itu direndam untuk menghilangkan tapioka. Lalu diperas dan direndam dengan bumbu dan dilakukan pengeringan. Hasilnya singkong akan berubah menjadi sawut kering kecil berwarna putih cerah yang mirip dengan beras. Cara memasakknya pun sama dengan saat memasak beras.

Singsaras bisa dicampur beras dengan perbandingan 1:1. Singsaras diyakini baik dikonsumsi untuk memperbaiki sistem pencernaan. Pasalnya produk pangan ini mempunyai kandungan serat yang cukup tinggi dilengkapi dengan karbohidrat kompleks.

Achmad yang dikenal sebagai pakar modified cassava flour (mocaf) menambahkan, singsaras juga bisa mengurangi kenaikan kadar gula darah setelah makan.

Sementara itu, Rektor Unej Moh Hasan mengatakan peluncuran singsaras sesuai dengan tema Dies Natalis Ke-55 Unej, Inovasi tiada henti, Universitas Jember membangun untuk negeri. Ia berharap invoasi yang dilakukan Unej bermanfaat bagi seluruh masyarakat Indonesia, bahkan dunia. (UA/H-1)

BERITA TERKAIT