13 November 2019, 18:59 WIB

Digitalisasi Bisa Percepat Penetrasi Ekonomi Syariah


Ihfa Firdausya | Ekonomi

Antara/Hafidz Mubarak A
 Antara/Hafidz Mubarak A
Gubernur BI saat membuka Islamic Financial Service Board (IFSB) Summit 2019

TEKNOLOGI digital dapat menjadi medium akselerasi ekomoni dan keuangan syariah di Indonesia maupun di tingkat global.

Hal itu ditegaskan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam pidatonya di ajang Islamic Financial Service Board (IFSB) Summit yang merupakan rangakaian dari Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-6 di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (13/11).

Ia menginginkan transformasi teknologi bisa melayani masyarakat dalam hal ekonomi dan keuangan syariah untuk mencapai kesejahteraan umat.

"Ini mengingatkan saya pada perjalanan Nabi (Muhammad) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Kita ingat perjalanan Isra Miraj, Nabi berdoa dan membawa kesejahteraan kepada umat," tutur Perry.

Ia membandingkan peristiwa tersebut dengan cara generasi baru menggunakan teknologi untuk keuangan.

Baca juga : Pemerintah akan Maksimalkan Teknologi untuk Dorong Perekonomian

"Sekarang generasi milenial cukup menekan klik saja untuk memesan makanan untuk dibawa ke kamar. Dulu saat ingin buka rekening bank harus antre. Sekarang cukup dengan klik, seperti Isra Miraj," imbuhnya.

Perry mencontohkan, transformasi digital dapat mempercepat pendanaan ekonomi Islam dari desa kecilnya di Solo, Jawa Tengah sampai ke Abuja di Nigeria.

"Cukup dengan klik di ponsel. Dan ini transformasi yang coba kita dukung untuk ekonomi dan keuangan syariah seperti disampaikan dalam pembukaan (ISEF)," katanya.

Untuk mencapai transformasi di bidang ekonomi dan keuangan syariah tersebut, Perry merekomendasikan lima hal.

Pertama adalah mendorong digitalisasi perbankan.

"Ingat, dulu semua dilayani bank. Sekarang jasa keuangan terurai. Kenapa? Karena bank tidak lagi cepat melakukan digitalisasi perbankan mereka," ujarnya.

Menurutnya, perbankan belum mengembangkan transfer teknologi yang cepat dan membuat aplikasi.

"Mereka tidak mengubah sistem jasa keuangan mereka. Ini yang saya dorong agar mereka memberi pelayanan terbuka dengan teknologi digital agar dapat menyediakan banyak aplikasi," katanya.

Kedua adalah mempromosikan platform teknologi finansial (fintech) yang tertaut dengan perbankan terbuka.

"Bagaimana mengelola financing menjadi aset terbuka. Bukan dengan menciptakan perbankan bayangan tapi terintegrasi dengan teknologi," imbuh Perry.

Ketiga yakni meningkatkan peran startup dalam ekonomi dan keuangan syariah.

Baca juga : Potensi Ekonomi Pesantren Digarap

"Kita ingin anak muda mentransfer kemampuan dan keuangan mereka untuk mengembangkan startup-startup baru dari pertanian, UMKM, ritel, dan wakaf," jelasnya.

Keempat, lanjut Perry, Bank Indonesia sedang mengembangkan pembayaran cepat BI. Ini merupakan infrastruktur yang akan menggantikan sistem ritel pembayaran kota yang beroperasi 24 jam.

"Dari desa saya bisa melakukan transfer dengan cepat. Malaysia dan Singapura telah melakukan ini. Kita bisa mengkoneksikan lintas pembayaran ini, di mana bisa melakukan pembayaran dengan cepat dan terhubung di kawasan," tuturnya.

Yang terakhir adalah kolaborasi lintas batas. Menurutnya, kolaborasi pembayaran cepat juga perlu dibicarakan dalam aspek ekonomi dan keuangan syariah.

"Ini kenapa saya sangat mendorong, dan kita akan bekerja sama dalam standar regulator dan keamanan lintas batas untuk mengembangkan digitalisasi dan keuangan syariah. Sebagaimana saya sampaikan soal perjalanan Isra Mi'raj tadi," pungkasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT