13 November 2019, 16:49 WIB

Produksi Migas Terus Menurun, SKK Migas Dorong Implementasi 4.0


 Hilda Julaika | Ekonomi

ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
 ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Dwi Soetjipto

TREN produksi minyak dan gas (migas) Indonesia terus menurun. Per Semester I 2019, realisasi produksi baru berkisar 1.808 barrel oil per day (boepd). Jumlah itu baru setara 90% target APBN. 

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Dwi Soetjipto, mengatakan untuk mencapai efisiensi baik dari segi produktivitas dan biaya pada industri migas diperlukan adanya implementasi teknologi 4.0.

"Implementasi 4.0 ini sangat penting karena kita mengharapkan agar cost di industri migas ini bisa serendah mungkin. Lalu antar industri bisa bersaing dengan energi terbarukan," ujarnya seusai membuka acara Facility Management Forum (FM Forum) di Hotel Santika, Palembang, Rabu (13/11).

Selain itu, tambahnya, untuk mengembangkan industri yang lain maka dibutuhkan biaya (cost) yang efisien. Termasuk dalam rangka meningkatkan produksi dari migas membutuhkan teknologi yang mumpuni beserta biaya yang efisien. 

Menurut Dwi hal tersebut hanya dapat terwujud melalui penerapan teknologi. Ia mencontohkan, dalam proses pengeboran migas melalui teknologi dapat menelisik situasi hingga kedalaman 2 Kilometer.

"Pada saat ngebor kalau kita punya teknologi digital ini kita sudah bisa memprediksi 2 Kilometer ke dalam itu situasi seperti apa. Oleh karena itu forum seperti FM Forum ini sangat tepat dengan mengimplementasikan ini bukan hanya pada pengeboran saja maupun sesmik operasional di lapangan tapi di perkantoran juga sebagai supporting unit," papar Dwi.

Baca juga: SKK Migas Inisiasi Kontrak Bersama untuk Tingkatkan Potensi

Sementara itu, Kadiv Penunjang Operasi dan Keselamatan SKK Migas Bagus Edvantoro menjelaskan keterlibatan teknologi yang selama ini diterapkan. Ia menyebutkan dalam tahap pengeboran terdapat sebuah sistem dashboard yang mampu mengawasi kegiatan pengeboran dan operasional di lapangan.

SKK Migas pun menyatakan dalam tahap produksi memiliki teknologi untuk memonitor jumlah crude (minyak mentah) yang dimasukan ke dalam tangki. Teknologi ini membentuk alur simulasi yang memberikan informasi berupa jumlah crude yang ada hingga crude yang harus diambil oleh lifter untuk mencegah kepenuhan.

"Kalau untuk projek yang biasanya kami lihat adalah dalam bentuk progres. Belum dalam bentuk digitalisasi yang khusus. Hanya berupa progres dalam bentuk persenan," ungkap Bagus.

Bagus memang membenarkan masih perlu teknologi yang bisa mendukung efisiensi dan produktivitas migas tanah air. Pihaknya mengklaim sedang memproses pendirian Integrated Operation Center untuk bisa memantau seluruh kegiatan pemborong, projek, dan produksi & lifting, hingga tracking.

"Ke depannya SKK Migas masih perlu berkembang. Karena yang namanya transformasi itu bertahap," tandasnya.

Sebagai informasi, Kepala SKK Migas Dwi mengatakan untuk target produksi migas 2020 sudah dipatok oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebesar 750 ribu barrel oil per day. Untuk target produksi gas diteken sebesar 1,2 juta barel oil ekuivalen per day. Pihaknya berharap dapat mencapai realisasi produksi sekitar 2 juta oil ekuivalen per day. (A-4)

BERITA TERKAIT