13 November 2019, 10:02 WIB

Keinginan Djaduk Berkolaborasi Dengan Rhoma Irama


Medcom.id | Hiburan

MI/Puji Santosa
 MI/Puji Santosa
Seniman Djaduk Ferianto meninggal dunia di kediamannya, Yogyakarta, Rabu (13/11/2019) pukul 02.30 WIB. . 

TIGA hari menjelang pelaksanaan Ngayogjazz 2019 yang digelar di Padukuhan Kwagon, Desa Sidorejo, Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, seniman Djaduk Ferianto wafat. Padahal Djaduk akan menjadi salah satu pengisi acara Ngayogjazz 2019. Wartawan Medcom.id Agustinus Shindu Alpito  mewawancarai Djaduk Ferianto menjelang penyelenggaraan Ngayogjazz. Berikut petikan wawancaranya:

Festival jazz di Indonesia banyak yang tidak mampu menerjemahkan jazz itu sendiri. Dan akhirnya hanya menjadi festival musik pop dengan embel-embel jazz. Bagaimana pandangan Anda soal festival jazz yang ideal?
 
Menurut saya seharusnya event jazz ada satu tema. Tidak hanya memindahkan tempat saja. Banyak yang terjebak dalam eksotisme, sengaja kita mendekonstruksi jazz sebagai sesuatu yang elite.  Kalau melihat aspek historis, jazz itu lahir dari masyarakat proletar. Masuk Indonesia seakan-akan elite. Sekarang bahkan di dunia, festival jazz terbanyak hanya di Indonesia. Persoalannya, adalah hanya memindah (artis-artis), tetapi kita lupa mau bicara apa. Secara konten bisa dikatakan orangnya (artisnya) itu-itu saja. Jazz punya kekuatan yang unik, para musisi jazz yang memang berangkat dari musik jazz, biasanya orientasinya untuk tidak menjadi populis, attitude-nya kelihatan sekali. Ada namanya musician, dan artist-musician (seniman-musik). Musician itu seperti tukang, terjebak dalam aspek untuk terkenal. Tetapi seniman-musik, itu berbagi. Ada saatnya memberi dan menerima. Tidak menjadi bos, checksound pun datang.

Sebagai penyelenggara festival jazz, bagaimana memberi porsi yang ideal musik jazz dan musik yang ideal?
 
Kita tidak bisa pungkiri ketika kita ingin mendapatkan audiens. Saya tidak menutupi, ketika kita membuat sebuah festival jazz, genre musik apapun sebenarnya bisa masuk. Dari fussion, contemporary. Kita juga mencari grup-grup yang punya nilai, sejauh kita berpikir tentang satu konsep, yang ingin kita kabarkan ke khalayak yang lebih luas.
Semua mengerucutnya dengan tema.
 

Di Eropa dan Amerika Latin terutama, jazz melebur dengan baik dan membentuk satu identitas musik yang baru dan berkarakter. Adakah karakter jazz Indonesia menurut Anda?
 

Itu sebuah proses, yang terpenting memaknai jazz itu sendiri. Jazz itu pada era mutakhir, jazz itu sebagai perilaku kehidupan. Gotong royong itu jazz banget. Itu jam session. Untuk jazz menjadi warna Indonesia itu proses panjang. Tetapi yang tidak bisa dipungkiri, ketika jazz Indonesia itu muncul, tentu tanpa pretensi untuk menjadi jazz Indonesia. Tetapi jazz yang punya karakter ketika dibawakan oleh orang-orang Indonesia. Mudah-mudahan ini tidak menjebak anak-anak muda yang hanya puas menjadi peniru. Akhirnya lupa mencari jati dirinya.  Dwiki, Tohpati, Balawan, Budjana, itu diakui secara internasional. Tetapi banyak anak muda yang fussion dengan alasan gampang cari duit.
 

Bagaimana Anda melihat korelasi jazz dan world music?
 

Setiap daerah punya warna sendiri-sendiri. Itu aset yang luar biasa. Artinya kalau kita mau mengeksplorasi, itu kesempatan yang menarik. Sebenarnya Jazz Gunung itu semangatnya ke world music juga tetapi ada pendekatan aspek bisnis, aspek yang ingin disampaikan.
Memahami jazz bukan sekadar avant garde, classic jazz, fussion, contemporary. Begitu banyak ragamnya. Disitulah sebenarnya kesempatan Jazz Gunung memberi apresiasi.
 

Apa tantangannya membuat festival jazz di Indonesia?
 

Tentunya berkaitan dengan modal. Kami itu bondo nekat, kalau tidak consent pada jazz tidak bikin. Apa yang saya buat adalah investasi kultural. Yang menikmati bukan kami, tetapi generasi berikutnya. Ada usaha yang kita persembahkan untuk bangsa ini. Seni bagian dari produk seni dan budaya. Kebudayaan selalu dianggap sebagai ban serep oleh pemerintah. Politik cuih, agama pun jadi komoditi politik. Festival musik, keroncong, pop, musik elektronik, itu sebuah sumbangsih untuk bangsa ini. Indonesia itu kuat kulturnya. Maaf misal saya bandingkan dengan Singapura, apa yang mereka punya? Kita punya (banyak kesenian).
 

Anda sudah banyak bertemu musisi jazz dunia, bagaimana mereka melihat jazz di Indonesia?
 
Banyak yang jadi peniru, ketika menemukan musisi yang tidak jadi peniru. Mereka melihatnya unik. Ada seorang penggagas festival jazz dari Eropa datang ke Ngayogjazz bingung karena gratis. Mereka kira kami kaya, saya bilang saya jujur bilang tidak punya uang dan artisnya tidak dibayar karena ini bagian dari gerakan sosial budaya.
 
Soal musikalitas musisi jazz Indonesia?

 
Ada ruang dan potensi menjadi lebih. Keterpengaruhan adalah hal wajar, justru kreativitas anak-anak Indonesia yang tidak dimiliki (bangsa lain) adalah spontanitas. Ada yang paling menarik, ada musibah membawa berkah. Dengan penuh keterbatasan musisi kita kreatif. Kultur kita saling memberi, saling berbagi. Gotong royong. Di sini bekerja secara komunal. Komunitas kuat. Esensi dari jazz berbagi, dan itu yang hilang di Eropa.
 

Saya selalu tertarik melihat aksi panggung Anda yang fasih membawakan beragam instrumen. Ngomong-ngomong, instrumen apa saja yang Anda kuasai?
 
Saya lahir dari komunitas seni tradisi. Sangat multi-dimensi. Saya bisa dalang, teater, sastra. Cara berpikir kita yang katanya modern, justru jadi individual. Modern itu menurut kami bukan hal baru, tetapi cara berpikir. Buat orang seperti kami di seni tradisi, main musik, teater, main trumpet, main berbagai instrumen itu hal biasa.
 

Putri Anda, Gusti Arirang saat ini bermusik juga. Bagaimana respons Anda ketika mengetahui sang putri fokus terjun ke industri musik?

Saling berbagi. Saya malah belajar sama anak saya. Belajar penguasaan teknologi, membangun relasi dengan media.
 
Menurut Anda, ada energi yang beda antara musisi generasi saat ini dengan generasi Anda?
 
Beda banget. Karena sekarang banyak fasilitas, kemudahan dalam proses kreatif. Sedangkan angkatan saya dari nol. Sekarang orang bisa ngulik dari mana-mana. Saya berharap ketika mereka kolaborasi dengan yang tua-tua ini saling mengisi. Pertanyaan saya selalu, kamu bermusik mau ngomong apa? Untuk siapa? Dari situ terjadi dialog yang menarik.

Di Jogja ada dua hal yang berjalan bersamaan, seni tradisi yang inkulsif dan beberapa kelompok masyarakat yang eksklusif, bahkan cenderung radikal. Bagaimana Anda melihat hal itu?
 
Seni adalah satu medium untuk membicarakan masalah-masalah yang harus kita cari solusinya. Seni itu sangat luas, tidak hanya musik, tari, sastra. Setiap manusia punya seni, polisi punya seni, orang perbankan punya seni. Seni bukan semata keindahan, seni itu energi. Ketika ada isu yang mengganggu kita, kita mencari solusi. Syukur-syukur kita juga bisa mengkritik dan mencari solusi.
 

Bagaimana proses kreatif Anda dikaitkan dengan banyak medium kesenian yang dijalani?
 

Saya menggunakan neng saya. Neng itu tidak bisa diterjamahkan secara verbal, tetapi ada hal yang mendorong. Neng itu adalah sebuah tanda. Bagaimana neng kita bisa hidup. Apalagi ketika bilang musik bahasa universal. Ketika saya ke New York, bermusik itu membaca kode. Dialog dengan musik. Setiap orang punya neng, sebagai respons atas rasa.
 

Bagaimana mempertahankan neng itu di tengah hiruk-pikuk kehidupan?
 
Itu harus diasah. Orang Timur sensitif akan hal itu.

baca juga: Peluncuran Layanan Streaming Disney+ Diwarnai Gangguan

Siapa musisi yang sampai sekarang Anda ingin kolaborasi?

Saya punya mimpi bekerja sama dengan Rhoma Irama. Beliau punya energi Inilah Indonesia. Kalau kita baca dari aspek historisnya, kita kord nya minor. Melankoli. Ketika orang jazz malu dengan dangdut, dia menipu dirinya. Karena di dalam darah orang Indonesia, ada rhtym dangdut pasti ingin bergoyang. Tapi kadang malu. Saya pengin, kolaborasi. Saya rasa akan menemukan sesuatu yang warnanya baru. Saya lihat kenakalan Rhoma di awal, sepertinya sama dengan saya. Deep Purple dia dulu kuat. Di dalam dangdut ada ruang-ruang sosial yang macam-macam. Di situlah tempat kita belajar bersama. (OL-3)
 

 

BERITA TERKAIT