12 November 2019, 16:00 WIB

Cianjur Jadi Percontohan Pengembangan Bunga Krisan


Benny Bastiandy | Nusantara

MI/Benny Bastiandy
 MI/Benny Bastiandy
Panen perdana bunga krisan yang dikembangkan di dataran rendah Kampung Tipar, Desa Hegarmanah, Kecamatan Karangtengah, Selasa (12/11/2019).

KABUPATEN Cianjur, Jawa Barat, jadi percontohan perbenihan varietas unggulan bunga krisan di dataran rendah yang dikembangkan Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kementerian Pertanian. Lokasi pengembangannya berada di Kampung Tipar, Desa Hegarmanah, Kecamatan Karangtengah, sekaligus panen perdana.

"Ini baru pertama kali. Jadi, ini merupakan embrio untuk nanti dikembangkan lebih lanjut," terang Kepala Pusat Litbang Hortikultura Kementerian Pertanian, Hardiyanto, usai panen perdana krisan, Selasa (12/11/2019).

Dari segi kualitas, terang Hardiyanto, varietas bunga krisan yang dikembangkan di dataran rendah tak kalah dengan yang dikembangkan di dataran tinggi. Di antara keunggulannya yakni lebih tahan dari serangan hama, batang tanaman lebih kokoh, ukuran daun lebih tebal, dan warna daun lebih cerah.

"Pengembangannya berdasarkan clon. Tentu dari clon-nya sendiri dirancang untuk adaptif di dataran rendah. Ini artinya bisa jadi alternatif. Artinya, para penangkar atau petani bisa mengembangkannya," jelas dia.

Hardiyanto optimistis, pengembangan bunga krisan di dataran rendah bisa menjadi lahan bisnis sektor pertanian yang bernilai ekonomis. Sejauh ini, produksi bunga krisan di Indonesia sudah diekspor ke berbagai negara.

"Sekitar 35% benih dari produksi bunga krisan di Indonesia didistribusikan dari Kementerian Pertanian. Jadi, bagaimana caranya kita ikut andil mendongrak perekonomian Indonesia dengan mengembangkan tanaman hortikultura," jelasnya.

Perbenihan varietas bunga krisan di dataran rendah merupakan sebuah inovasi atau terobosan baru di Badan Litbang Kementerian Pertanian. Varietasnya bakal segera dipatenkan sebelum nanti diproduksi massal.

"Apalagi di Cianjur ini, informasinya jadi sentra terbesar hortikultura di Indonesia. Nah, sekarang bagaimana Pemkab Cianjur mempunyai grand design pengembangannya. Kami akan support penuh," bebernya.

Sejauh ini varietas bunga krisan yang dikembangkan di dataran rendah baru berwarna kuning dan putih. Di masa mendatang, tim dari Badan Litbang Kementerian Pertanian akan mengembangkan dengan membuat varian warna lain. Meskipun bukan tanaman endemik khas Indonesia, tapi dengan berbagai inovasi bisa dikembangkan karena kecocokkan kontur tanah.

"Setiap tahun produksi bunga krisan di Indonesia mencapai 480 juta tangkai di lahan seluas 11,6 juta meter persegi. Bunga krisan mempunyai harga jual mahal dan sangat diminati tak hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri," tandasnya.

Plt Bupati Cianjur, Herman Suherman, menambahkan pengembangan varietas bunga krisan di dataran rendah di Cianjur jadi sebuah terobosan dalam bidang pertanian, khususnya florikultura. Sebab, selama ini bunga krisan hanya dikembangkan di dataran-dataran tinggi di Kabupaten Cianjur seperti di Kecamatan Cipanas, Pacet, atapun Cugenang dengan luas tanam mencapai 1,6 juta hektare.

"Kami ucapkan terima kasih kepada Kementerian Pertanian yang telah berhasil mengembangkan bunga krisan di dataran rendah. Inovasi yang luar biasa," tegas Herman.

Pemkab Cianjur akan mengajak para petani bunga hias agar bisa mengembangkan varietas krisan lebih maksimal. Pasalnya, selain harganya yang relatif cukup mahal, pangsa pasarnya sudah jelas.

"Cianjur harus menjadi sentra bunga krisan terbesar di Indonesia dan Asia," ucap Herman.

Selain di Karangtengah, lanjut Herman, bunga krisan di Kabupaten Cianjur juga akan dikembangkan di Cibeber serta sejumlah wilayah lain di selatan. Pengembangannya dilakukan dengan cara memanfaatkan lahan-lahan kosong.

baca juga: Petambak Udang Keluhka Perda Pesisir Barat

"Pada 2016, Cianjur memproduksi sebanyak 86 juta lebih tangkai bunga krisan. 2017 meningkat lagi menjadi 104 juta tangkai. Pada 2018 sebanyak 107 juta tangkai. Ke depan, dengan adanya inovasi pengembangan di dataran rendah, produksinya bisa lebih meningkat," pungkas Herman. (OL-3)

BERITA TERKAIT