12 November 2019, 11:35 WIB

Dua Korban Pembunuhan Bos Sawit Diyakini Bukan Wartawan


Yoseph Pancawan | Nusantara

Antara
 Antara
Ilustrasi

KOMITE Keselamatan Jurnalis meyakini dua korban pembunuhan di Kabupaten Labuhanbatu, Sumatra Utara, yang didalangi seorang pengusaha sawit, bukan berprofesi sebagai wartawan seperti yang banyak diberitakan media massa. Sasmito Madrim, Ketua Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) mengungkapkan, KKJ yang diwakili Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan, telah melakukan verifikasi terhadap dugaan kekerasan terhadap jurnalis  dalam kasus pembunuhan di Perkebunan Sawit KSU Amelia, Dusun VI Sei Siali, Desa Wonosari, Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu.

"Verifikasi dilakukan dengan cara mengumpulkan data serta mewawancarai sejumlah orang yang mengenal korban pembunuhan bernama Maratua P Siregar alias Sanjai, 42 tahun, dan Maraden Sianipar, 55 tahun," paparnya dalam keterangan resmi yang diterima Selasa (12/11/2019).

Keduanya ditemukan tewas dengan beberapa luka sabetan senjata tajam di kepala, badan, lengan, punggung, dada dan bagian perut. Korban Maraden Sianipar ditemukan, Rabu (30/10) sekitar pukul 16.00 WIB, sedangkan Sanjai ditemukan Kamis (31/10) sekitar pukul 10.30 WIB.

Pemberitaan di media massa menyebutkan keduanya berprofesi sebagai wartawan di Pindo Merdeka, surat kabar berkala dengan daerah edar Labuhanbatu Utara, Labuhanbatu dan Labuhanbatu Selatan.

Ketua AJI Medan Liston Damanik mengungkapkan, dari hasil verifikasi termasuk istri, disimpulkan bahwa Maratua P Siregar, alias Sanjai, dan Maraden Sianipar tidak berprofesi sebagai jurnalis.

"Atas dasar tersebut, kami menyimpulkan kasus pembunuhan ini bukanlah kasus kekerasan terhadap jurnalis," tegasnya.

Pada Jumat (8/11), Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto menyatakan pihaknya telah menangkap lima dari delapan tersangka pembunuh Maratua Siregar dan Maraden Sianipar.

Pada Selasa (5/11) Tim Reskrim Polres Labuhanbatu dan Reskrim Polsek Panai Hilir telah menangkap dua tersangka atas nama Victor Situmorang alias Revi, 49, ditangkap sekitar pukul 01.00 WIB di kediamannya.

Tersangka Sabar Hutapea alias Tati, 50, ditangkap 30 menit kemudian, atau sekitar pukul 01.30 WIB dari rumah tersangka di Sei Berombang, Panai Hilir. Pada hari yang sama, sekitar pukul 19.30 WIB, tim yang dipimpin Kasubdit III Jatanras AKBP Maringan Simanjuntak menangkap tersangka Daniel Sianturi alias Niel, 40, di rumah saudaranya di Desa Janji, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan.

Kemudian pada Rabu (6/11) sekitar pukul 22.30 WIB, tim yang dipimpin Kasubdit III Jatanras AKBP Maringan Simanjuntak bersama Tim Reskrim Polres Tanah Karo menangkap tersangka Janti Katimin Hutahaean di kos-kosan Jalan Jamin Ginting, Kabanjahe. Hari berikitnya. Kamis (7/11) sekitar pukul 14.00 WIB, tim gabungan kembali menangkap tersangka kelima, yaitu Wibharry Padmoasmolo alias Harry, 40, di Komplek Perumahan CBD, Kelurahan Suka Damai, Kecamatan Medan Polonia, Kota Medan.

baca juga: Konservasi Bekantan Tapin Selamat Dari Karhutla

Menurut Kapolda, masalah yang terjadi dalam kasus ini adalah sengketa perebutan lahan di Perkebunan Sawit KSU Amelia yang dikelola Wibharry Padmoasmolo.(OL-3)

 

 

 

BERITA TERKAIT