12 November 2019, 10:55 WIB

Mengayuh Sepeda 547,8 Km untuk Mengenang Jasa Pahlawan


Amiruddin Abdullah Reubee | Nusantara

MI/Amiruddin Abdullah Reubee
 MI/Amiruddin Abdullah Reubee
Muchtar, 75, mengayuh sepeda ke Banda Aceh untuk mengenang jasa pahlawan

MUCHTAR, 75, bersemangat mengayuh sepeda onthel menyusuri jalan nasional Banda Aceh-Lhokseumawe. Di bagian depan sepeda zaman dulu itu terpasang spanduk bertuliskan Hari Pahlawan Nasional 10 November 2019.

Tak hanya itu, berlanjut tulisan di bawahnya yakni Bangsa yang besar mengenang jasa-jasa para pahlawan. Seorang lansia dengan sepeda bututnya mengenang hari pahlawan. Beberapa nama ulama besar, tokoh Islam dan pahlawan nasional Indonesia juga tertera di spanduk putih tersebut.

Tetiba, gagang stang spedanya goyang. Muchtar pun mendorong sepeda onthelnya dan berusaha meminjam kunci pas pada warung di pinggir jalan kawasan Seupeng, Kecamatan Pekan Bari, Kabupaten Pidie. Kunci tersebut untuk mengencangkan kembali kerusakan pada leher stang sepeda.

Sembari berdiri di pinggir jalan, Muchtar menceritakan dirinya berasal dari Kampung Jawa Lama, Blok Hamente, Meunasah Almanar, Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh.

Pada Minggu (10/11), lelaki tua yang akrab di panggil om Muchtar itu berhasil mengikuti upacara bendera memperingati Hari Pahlawan ke-74 di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, Provinsi Aceh. Hal itu memang menjadi tujuan utama Muchtar datang ke Banda Aceh.

Berangkat dari Lhokseumawe tujuan Banda Aceh, berjarak sekitar 273,9 km. Untuk pulang pergi antardua kota tersebut, dia harus mengayuh sepeda sejauh 547,8 km dengan waktu tempuh 5 hari. Perjalanan mengayuh sepeda onthel oleh kakek yang berusia uzur itu bukan sekadar mengenang jasa pahlawan, tapi juga kampanye untuk menggugah jiwa semua orang supaya tidak melupakan jasa para pahlawan.

"Walaupun harus mengayuh sepeda sejauh 547,8 km, pulang pergi Lhokseumawe-Banda Aceh, tidak terasa berat dibandingkan perjuangan para pahlawan kita dulu. Perjalanan saya ke Banda Aceh hanya ingin mengikuti upacara Hari Pahlawan pada 10 November 2019" tutur kakek yang sudah terlihat lekuk keriput di wajahnya kepada Media Indonesia, Senin (11/11).

Kakek kelahiran 1944 itu mengaku sangat puas bisa ikut mengheningkan cipta saat puncak upacara di Lapangan Padang Banda Aceh bersama ribuan orang dari berbagai kalangan di Aceh itu. Apalagi itu upacara peringatan Hari Pahlawan paling besar di Aceh dan dihadiri oleh masyarakat, pelajar hingga para petinggi di Serambi Mekkah.

Tapi masih ada suatu kekecewaan besar dari seorang kakek Muchtar terhadap fenomena yang tidak sepatutnya terjadi hingga 74 tahun Indonesia merdeka. Dia menyayangkan kondisi makam pahlawan Nasional Cut Meutia di hutan rimba kawasan hulu sungai Krueng Keureutoe, Kecamatan Pirak Timu, Kabupaten Aceh Utara.

Pasalnya, hingga kini makam pahlawan perempuan bermental baja dan berwajah ayu itu tidak terurus dengan baik. Tidak ada penjaga atau orang yang ditugaskan untuk memelihara kelestarian layaknya makam seorang pahlawan paling berjasa terhadap negeri ini.

Baca juga: Peringati Hari Pahlawan, Super W Guncang Sidoarjo

Padahal Cut Meutia bersama suami Teuku Cik Di Tunong, anaknya T Raja Sabi, serta para pengikut rela meregang nyawa. Pengorbanan tersebut untuk mempertahankan Islam dan Indonesia dari cengkraman penjajahan kolonial Belanda.

"Padahal harus malu dengan tingkah kita yang lupa terhadap jasa-jasa Cut Meutia. Begitu gigih perjuangannya dan sangat getir apa yang pernah beliau rasakan hingga melahirkan sebuah kemerdekaan bangsa ini. Tapi kita seperti tidak malu dan seolah lupa karena berkat ikthiar atau perjuangan siapa hingga menikmati indahnya kemerdekaan" tutur Muchtar.

Hingga saat ini untuk berziarah ke makam Cut Meutia harus menyusuri hutan rimba, menyeberangi sungai dan naik turun gunung terjal. Bahkan, untuk mencapai lokasi makam membutuhkan waktu tempuh dua hingga tiga hari.

Butuh Perbaikan Infrastruktur ke Makam Cut Meutia

Sebagaimana penelusuran Media Indonesia, jalur menuju makam yang pernah dibangun sekitar tahun 2007 melalui Bakti TNI semasa Dandim Aceh Utara Letkol Yogi Gunawan, belum juga rampung hingga sekarang. Tidak diteruskan oleh pihak berwajib hingga kini.

Bahkan badan jalan tersebut sekarang sudah rusak parah karena tergerus hujan dan kembali ditumbuhi hutan semak. Ironisnya jalur tersebut sekarang digunakan oleh pembalak liar untuk menurunkan kayu hutan. Tidak ada tanda-tanda jalur tersebut akan kembali dibangun.

Warga pun mengharapkan ada jalan tembus dan bisa dilalui kendaraan roda empat untuk menuju makam Cut Meutia. Cukup banyak peziarah yang ingin sampai dan berdoa di makam pahlawan perempuan asal Desa Mesjid, Kemukiman Pirak, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, itu.

Hal itu terlihat dari tingginya minat para mahasiswa, aktivis pecinta sejarah dan kelompok pramuka yang melakukan napak tilas ke makam Cut Meutia. Mereka rela berhari-hari menembus hutan belantara hanya untuk mengenang perjuangan sang pahlawan.

Bagi yang tidak sanggup menempuh jalur sulit untuk berziarah ke makam, hanya mengunjungi lokasi rumah pasangan Cut Meutia-Teuku Cik Di Tunong di pinggiran sawah Desa Mesjid, Kemukiman Pirak, Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara.

Semoga keinginan masyarakat dan harapan kakek Muchtar agar terbangun jalan tembus ke makam Cut Meutia segera mendapat perhatian serius dari pemerintah.(OL-5)

BERITA TERKAIT