11 November 2019, 14:20 WIB

Masih Banyak Lansia Alami Malnutrisi di Indonesia


Eni Kartinah | Humaniora

Istimewa
 Istimewa
Diskusi kesehatan lansia yang bertema '‘Hidupkan Mimpi yang Tertunda’ di Jakarta, Senin (11/11). 

JUMLAH penduduk berusia lanjut atau 60 tahun ke atas di Indonesia terus mengalami peningkatan. Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi pada tahun 2035 jumlah lansia akan mencapai 48 juta jiwa atau 15% dari total penduduk Indonesia.

Tingginya jumlah penduduk lansia dapat membawa dampak positif, hanya apabila mereka tetap dalam keadaaan sehat, aktif, dan produktif. Sebaliknya, penduduk lansia yang memiliki masalah penurunan kesehatan dapat mengakibatkan peningkatan biaya kesehatan serta menciptakan lingkungan yang tidak ramah terhadap lansia.

Dokter spesilais geriartri Dr. dr. Purwita Wijaya Laksmi, Sp.PD-KGer menjelaskan, “Di Indonesia, masih banyak lansia yang mengalami ketidakcukupan gizi (malnutrisi), padahal asupan gizi yang seimbang sangat penting untuk membantu para lansia agar tetap sehat.”

“Seiring bertambahnya usia, terjadi penurunan fungsi tubuh dan perubahan metabolisme yang dapat membuat para lansia lebih rentan terhadap penyakit dan kehilangan massa otot,” kata Purwita dalam acara Nestlé Boost Optimum yang bertema ‘Hidupkan Mimpi yang Tertunda’ di Jakarta, Senin (11/11).

Pada acara yang diadakan Nestlé Health Science (NHS) dan digelar untuk memperingati Hari Kesehatan Nasional yang jatuh pada 12 November, Purwita menjelaskan bahwa malnutrisi pada lansia bisa mengakibatkan penurunan berat badan, kelelahan, dan tidak berenergi, kehilangan massa dan kekuatan otot, daya ingat yang melemah, kerentaan, mudah sakit dan perlu waktu lama untuk sembuh.

“Kondisi ini dapat mengganggu para lansia dalam menjalani aktivitas hariannya,” tegas Purwita.

Marketing Manager Nestlé Health Science (NHS), dr. Yulia Megawati mengatakan, “Berkomitmen dalam mengembangkan terapi gizi sebagai solusi bagi perawatan kesehatan di Indonesia.”

Menurut Yulia, NHS menghadirkan Nestlé Boost Optimum, produk yang diformulasikan secara khusus, yang mengandung 50% protein whey dan perbandingan komposisi whey dan kasein-nya sebesar 50:50.

Yulia menjelaskan untuk memenuhi kecukupan gizi untuk mendukung aktivitas harian para lansia, maka membutuhkan produk yang diperkaya dengan Vitamin D, E, B6 dan B12, serta probiotik (Lactobacillus paracasei) dan prebiotik (serat pangan yaitu inulin dan fructo-oligosaccharides).

Probiotik dan prebiotik ini berguna untuk membantu menjaga kesehatan pencernaan,” ujar Yulia.   

Dalam acara tersebut, dihadirkan sosok lansia yang sehat dan masih aktif melakukan aktivitas yakni Don Hasman, fotografer legendaris Indonesia, yang berusia 70 tahun. Kendati lansia, Don mampu melakukan perjalanan sejauh 1.000 km dengan berjalan kaki.

“Jika tubuh sehat, usia bukanlah halangan untuk bisa meraih mimpi. Saya merasa sangat beruntung memiliki keluarga yang terus menyemangati saya untuk menjalani gaya hidup sehat, sehingga saya dapat tetap aktif hingga kini,” jelas Don.

“Tidak sedikit lansia yang memilih untuk mengesampingkan mimpi mereka karena ingin memastikan anak-anaknya dapat menikmati kehidupan terbaik. Karenanya di perayaan Hari Kesehatan Nasional ini, Nestlé Boost Optimum ingin mengajak masyarakat untuk turut meningkatkan kualitas hidup para lansia agar mereka lebih termotivasi dalam meraih mimpi-mimpi mereka yang tertunda,” tutup dr. Yulia Megawati selaku Marketing Manager NHS. (OL-09)

 

 

BERITA TERKAIT