12 November 2019, 07:50 WIB

Salah Besar Anggap Koalisi Retak


Abdillah Muhammad Marzuqi | Politik dan Hukum

MI/Susanto
 MI/Susanto
Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh (kanan) dan Presiden Joko Widodo.

SUASANA cair dan penuh keakraban di antara tokoh-tokoh bangsa menjadi warna mencolok di hari terakhir Kongres II sekaligus HUT ke-8 Partai NasDem di JI Expo Kemayoran, Jakarta, tadi malam. Interpretasi bahwa ada masalah di antara mereka serta-merta termentahkan.

Ada tiga tokoh besar pemegang peranan penting di koalisi pendukung Jokowi yang belakangan disebut-sebut memiliki hubungan kurang baik. Hubungan antara Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dikatakan renggang setelah Megawati tidak berjabatan tangan dengan Surya saat menghadiri pelantikan anggota DPR periode 2019-2024 pada 1 Oktober lalu.

Kemudian, hubungan Surya dan Presiden Joko Widodo digosipkan retak setelah Surya bertandang ke Kantor DPP PKS, 30 Oktober silam. Pelukan hangat antara Surya dan Presiden PKS Sohibul Iman ketika itu bahkan menjadi bahan sindiran Jokowi di HUT ke-55 Partai Golkar pada 6 November lalu.

Namun, semua dugaan miring itu dijawab dengan lugas. Megawati memastikan bahwa hubungannya dengan Surya Paloh baik-baik saja sehingga dia memenuhi undangan untuk hadir di HUT Partai NasDem.

Surya lebih tegas lagi. Saat berpidato, dia memberikan atensi khusus kepada Megawati. "Di tengah kita hadir presiden kelima. Siapa dia?" tanyanya. "Ibu Megawati," jawab peserta kongres.

Surya mengulang pertanyaan tersebut dua kali dan dua kali pula hadirin menjawab dengan gempita. "Dan dialah sahabat sejati," ujarnya disambut tepuk tangan meriah.

Bahkan, Surya kemudian menyapa Megawati dengan sebutan spesial. "Mbak Mega yang saya sayangi," ucap Surya.

Perihal hubungannya dengan Presiden Jokowi, Surya juga menegaskan tidak ada masalah sedikit pun. Dia memastikan bahwa Partai NasDem akan tetap konsisten mendukung pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin. "Partai ini harus tetap pada tekad dan semangatnya untuk membantu suksesnya jalan roda administratif pemerintahan di bawah kepemimpinan Jokowi."

Namun, Surya Paloh menegaskan pula akan tetap berkomunikasi dengan masyarakat tanpa membedakan partai di dalam maupun di luar pemerintahan. "Diperlukan terus-menerus upaya membuka ruang komunikasi dan konsolidasi bersama seluruh komponen elemen masyarakat," tuturnya.

Jokowi juga mencairkan suasana. Dia berseloroh bahwa rangkulan Surya Paloh dan Sohibul Iman hanya masalah kecemburuan. "Karena saya tidak pernah dirangkul seerat itu. Setelah sambutan ini saya peluk erat Bang Surya lebih erat ketimbang pelukan Pak Sohibul Iman," kata Jokowi disambut tawa hadirin.

Menurutnya, rangkulan Surya dan Sohibul Iman baik dengan niat untuk persatuan bangsa. "Rangkulan apa yang salah, itu bagus. Tapi kembali pada niatnya. Kalau niatnya komitmen kenegaraan, apa yang salah? Kalau rangkulan komitmen kebangsaan, apa yang keliru? Sangat bagus sekali apa yang dicontohkan Bang Surya."

Dok.Metro TV

Presiden Joko Widodo berpelukan erat dengan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh seusai menyampaikan pidato dalam perayaan HUT ke-8 Partai NasDem di JI Expo Kemayoran, Jakarta, kemarin.

 

Jokowi menyebut negara ini merupakan negara besar yang sepatutnya tidak membicarakan hal-hal seperti itu. Gagasan dan pikiran untuk membangun bangsa lebih dibutuhkan saat ini. "Gagasan besar untuk memakmurkan, memberikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Jangan hal kecil dibawa ke mana-mana," ujarnya.

Jokowi juga menyinggung pidato Surya ihwal kedekatannya dengan Megawati. "Apalagi tadi sudah disampaikan betapa sayangnya Bang Surya ke Ibu Megawati. Jadi, salah besar koalisi ini sudah tidak rukun, keliru gede sekali, kita rukun-rukun saja."

Presiden pun memuji Partai NasDem yang konsisten mendukungnya, baik saat dirinya berpasangan dengan Jusuf Kalla maupun saat ini bersama Ma'ruf Amin.

Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Adi Prayitno menilai pertemuan antara Jokowi, Megawati, dan Surya Paloh dengan suasana yang hangat dan begitu cair menjadi kado terindah bagi HUT Partai NasDem. Hal itu sekaligus menepis anggapan publik bahwa hubungan di antara anggota koalisi pemerintah retak.

 "Kalau saya melihatnya itu bagian dari dinamika pertemanan antara Surya Paloh, Megawati, dan Jokowi. Segitiga hubungan yang sebenarnya tidak bisa digariskan hitam-putih. Itu saling sindir antarteman, berbeda dengan orang yang baru kenal. Makanya kita bisa melihat suasana malam ini begitu cair, terlihat happy."

 

Sumber: Kongres II Partai NasDem 2019

 

Konvensi capres

Kongres II Partai NasDem menghasilkan sejumlah keputusan, antara lain perlunya menggelar konvensi pada 2022 untuk menjaring putra-putri terbaik bangsa menjadi calon presiden 2024. Peserta kongres sebenarnya mengamanatkan kepada Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menjadi capres 2024, tetapi yang bersangkutan menolak.

Rencana menyelenggarakan konvensi tersebut sekaligus menepis bahwa NasDem menjagokan Anies Baswedan, Ridwan Kamil, atau Khofifah Indar Parawansa. "Katanya NasDem menjagokan Anies, ah salah itu. Ridwan Kamil, ya salah juga. Khofifah, belum tentu. Kader NasDem lebih belum tentu," ujar Surya. (Mal/Jek/Ins/X-8)

 

 

BERITA TERKAIT