12 November 2019, 06:00 WIB

Partai NasDem 2019-2024, Sebuah Refleksi


IGK Manila Gubernur Akademi Bela Negara (ABN) Partai NasDem | Opini

Dok.MI/Tiyok
 Dok.MI/Tiyok
Opini

SECARA elektoral, Partai NasDem sedang di atas angin. Setelah memberi kejutan pada Pemilu Legislatif (Pileg) DPR-RI 2014 dengan mendapatkan 8.402.812 atau 6,72% suara, pada Pileg 2019 Partai NasDem memperoleh 12.661.792 atau 9,05% suara. Dengan perolehan itu, jumlah kursi DPR RI untuk Partai NasDem naik dari 36 menjadi 59 kursi. Hasil pileg ini menaikkan posisi Partai NasDem yang semula berada pada urutan tujuh menjadi lima besar.

Sebagai perbandingan, dalam Pileg DPRD I dan II tahun 2014, Partai NasDem berhasil meraih 1350 kursi di 34 provinsi. Dalam Pileg 2019, perolehan kursi meningkat menjadi 1.873, yakni untuk DPRD I diperoleh 185 kursi dan untuk DPRD II diperoleh 1.629 kursi.

Hal yang tak kalah fundamental tentulah komitmen Partai NasDem untuk secara bulat mendukung Joko Widodo-Ma'ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia, di tengah angin yang bertiup kencang ke kubu Prabowo-Sandiaga Uno. Sikap politik yang tidak 'plinplan', penuh perhitungan dan berjuang dengan kekuatan penuh terbukti efektif.

Mengiringi keberhasilan dalam Pemilu Legislatif 2014, Partai NasDem 'mewakafkan' tiga kader terbaik di kursi menteri dalam Kabinet Indonesia Maju. Saat ini juga terdapat lima gubernur dan empat wakil gubernur, 82 bupati/wali kota dan 68 wakil bupati/wakil wali kota yang merupakan kader dari atau diusung oleh Partai NasDem.

Secara kuantitatif, bisa disimpulkan bahwa sebagai partai muda, yakni dalam usia 8 tahun, Partai NasDem berhasil mengukuhkan diri sebagai partai yang berhasil membangun diri. Yang dimulai dalam Pemilu 2014 dan berhasil dengan gemilang melewati ujian pertama dalam Pemilu Serentak 2019.

Sementara itu, secara kualitatif, Partai NasDem dipandang sebagai partai yang berhasil mewarnai dinamika politik Indonesia. Terutama terkait dengan praktik-praktik demokratisasi dan berbagai terobosan kebijakan publik, baik yang diperjuangkan secara langsung oleh partai melalui sistem perwakilan (legislatif) maupun oleh kader-kader terbaiknya yang duduk di lembaga eksekutif.

Berbenah diri

Menghadapi tahun politik 2024, Partai NasDem tentulah perlu berbenah diri sedini mungkin. Pencapaian 2014 dan 2019 tak bisa dilihat terlepas dari aspek ruang dan waktu, pilihan strategi, dan ketersediaan sumber daya.

Di samping itu, kita perlu melihat kejutan-kejutan politik yang tidak terprediksi sebelumnya (political unpredictability), yang wajib dijadikan sebagai bagian dari pertimbangan strategis di masa berikutnya. Pertama, dari segi ruang dan waktu, Partai NasDem terlahir 14 tahun setelah gelombang pasang demokrasi di Indonesia, Gerakan Reformasi 1997-1998. Momentum ini sering kali dianggap tidak lagi berpengaruh kuat terhadap partai-partai yang lahir satu dasawarsa sesudahnya.

Momentum yang lebih kuat memengaruhi kelahiran dan bisa jadi keberhasilan Partai NasDem ialah pertarungan politik di gelanggang demokrasi pascaamendemen UUD 1945. Partai-partai lama yang besar dan berpengaruh di awal sepak terjang Partai NasDem--seperti PDI Perjuangan, Golkar, dan PPP--tengah mengalami penggerusan kepercayaan publik. Oleh karena itu, elektabilitas, yang bisa dilihat dengan terjadinya migrasi pemilih pada 2014.

Sebagian besar suara Partai NasDem sendiri berasal dari partai-partai nasionalis, baik yang lama maupun yang didirikan di era pascareformasi. Di samping itu, era 2009-2014 ditandai juga dengan merosotnya kepercayaan publik terhadap partai politik.

Perlu dicatat bahwa suara Partai NasDem sebagian besar berasal dari para pemilih yang belum sampai pada taraf memiliki party-ID atau afiliasi 'hidup-mati' dengan partai-partai lama. Dalam hal ini, bisa dilihat bahwa Partai NasDem berhasil mencuri perhatian publik serta meraup dukungan dan suara yang signifikan sebagai pendatang baru dalam arus surut demokratisasi.

Di tengah arus politik yang semakin transaksional dan keras dalam Pemilu 2019, Partai NasDem ternyata kembali berjaya. Dengan posisi sebagai partai pendukung pemerintah, badai politik identitas, situasi, dan kondisi ekonomi dunia yang menekan perekonomian nasional, kasus-kasus korupsi yang menimpa banyak penyelenggara negara serta praktik-praktik politik yang banal, Partai Nasdem berhasil menggugurkan semua prediksi survei.

Kedua, berkelindan dan tak terpisahkan dari aspek ruang dan waktu, dalam persiapan dan pelaksanaan Pemilu 2014 dan 2019, Partai NasDem dinilai telah melakukan pilihan-pilihan strategi yang tepat. Di sini, tentu saja kita harus menghargai setinggi-tingginya kepiawaian Ketua Umum Partai NasDem sebagai chief-strategist.

Di sepanjang masa menjelang dan saat kampanye pemilu sebagai contoh, rangkaian rekrutmen, safari, manuver, dan lobi politik menunjukkan Partai NasDem ialah salah satu yang paling aktif. Bahkan, jauh-jauh hari sebelum itu, Partai NasDem sudah melakukan berbagai kerja politik monumental, seperti mendirikan Akademi Bela Negara (ABN) yang ditujukan untuk mendidik dan melatih kader-kader partai.

Tak kalah pentingnya, ketimbang partai-partai lain, Partai NasDem ialah partai yang secara konsisten menggunakan basis-basis ilmiah-terukur sebagai bahan pertimbangan dalam membuat keputusan. Meskipun berbiaya besar, Partai NasDem memanfaatkan secara maksimal kerja-kerja lembaga survei dan konsultan politik dan melakukan berbagai follow up strategis yang sesuai.

Ketiga, sejauh ini Partai NasDem bisa dikategorikan sebagai partai nasionalis dengan sumber daya yang kuat, yang meliputi sumber daya manusia (struktural/korporatif), jaringan media informasi (TV, koran, media daring), jaringan eksekutif/legislatif, dan keuangan.

Sebagai sebuah lembaga, Partai NasDem dikelola seperti sebuah 'perusahaan besar' atau 'corporative (or corporate) party'.

Tak kalah suportifnya, tentu saja, Partai NasDem menjadi rumah bagi banyak tokoh nasional, mulai politisi sampai pengusaha, dosen, teknokrat, pensiunan, dan advokat. Dengan keahlian berkawan, berorganisasi, dan kepemimpinan, Pak Surya berhasil menghimpun semua sumber daya ini menjadi satu kekuatan yang solid dalam mendukung pembangunan dan pengembangan partai.

Pekerjaan rumah

Di atas semua keberhasilan elektoral, Partai NasDem tentu saja dihadapkan pada berbagai pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan secara saksama dalam rangka merawat dan kapitalisasi pencapaian di sepanjang 2014-2019 menghadapi tahun politik 2024.

Pekerjaan rumah tersebut juga bisa dikategorisasi menjadi aspek ruang dan waktu, pilihan strategi dan kapitalisasi, serta mobilisasi sumber daya. Pertama, harus diakui dan disadari bahwa berbagai peristiwa politik di Indonesia, terutama yang elektoral, telah dan berpotensi untuk terus-menerus divisive (merusak nilai-nilai kebinekaan), transaksional, dan liar (tidak mudah diprediksi dan mudah bergerak keluar koridor). Di sini, Partai NasDem perlu memastikan penguasaan teritorial dan menemukan-membuat-mengapitalisasi setiap momentum.

Apalagi, dengan melihat hasil Pileg DPR-RI 2019, terdapat tantangan untuk menimbang secara saksama hal-hal yang tak terduga (predicting the unpredictable). Sebagai contoh, dalam kasus Partai NasDem sendiri, dari 59 calon anggota legislatif yang terpilih, hanya 13 orang yang berstatus petahana, ketika selebihnya ialah wajah baru yang tidak terprediksi akan memenangi kursi sebelumnya.

Meskipun kita bisa saja mengasumsikan bahwa ini merupakan hasil kerja politik partai, yang mana secara sadar telah dilakukan berbagai mekanisme rekrutmen, lobi, dan sebagainya. Sampai ada hasil riset yang menunjukkan faktor-faktor penentu yang sebenarnya, Partai NasDem tetap wajib waspada.

Oleh karena itu, alih-alih mematikan atau melambatkan mesin politik, pemanfaatan rangkaian momentum pasca-Pemilu 2019 dan perluasan teritorial harus dilakukan semaksimal mungkin, yakni seperti yang telah dilakukan menjelang Pemilu 2014 dan 2019. Mesin politik mesti bekerja terus.

Kedua, pilihan-pilihan strategi Partai NasDem menghadapi dan dalam Pemilu 2014 dan 2019 sangat bergantung pada chief strategist, sang ketua umum. Sebagai politikus kawakan dan pengusaha dengan pengetahuan dan pengalaman panjang, Surya Paloh melakukan kerja rangkap (multitasking) yang belum tentu bisa dilakukan sembarang orang.

Hanya, meskipun terdapat berbagai tim pendukung, model kepemimpinan transformasional yang digunakan Pak Surya memiliki kelemahan, di antaranya terjadinya ketergantungan yang kuat antara pemimpin dan yang dipimpin (Kark et al, 2003). Ketika seorang pemimpin transformasional mundur atau tiada lagi serta tidak berhasil membangun sistem yang efektif, lembaga seperti partai berpotensi mengalami penyurutan.

Salah satu alternatif yang bisa dilakukan Partai NasDem tentu saja ialah pembangunan dan pengembangan sistem yang memungkinkan pengambilan berbagai keputusan strategis seperti dalam model-model organisasi modern. Melekat dengan itu, seperti sudah dilakukan sejak Partai NasDem mengikuti kompetisi elektoral, penggunaan basis-basis ilmiah-terukur wajib menjadi norma yang tak bisa ditawar-tawar.

Ketiga, belum satu pun lembaga analis atau pengamat politik yang menyatakan bahwa Partai NasDem telah menjadi self-supporting party dalam aspek sumber daya manusia, pembiayaan, jaringan, pengelolaan informasi, dan aspek-aspek lainnya.

Ketergantungan sumber daya dalam berbagai aspeknya kepada korporasi dan jaringan ketua umum, rekrutmen politik nonkader, serta bentuk-bentuk kebijakan dan pengelolaan sumber daya jangka pendek lainnya (short-cuts) akan menjadi bom waktu bagi partai jika tidak dibangun dan dikembangkan sistem yang efektif.

Pemilu 2019 tidak bisa diklaim, umpamanya, sebagai murni hasil kerja struktur partai sampai ke tingkat Dewan Pengurus Ranting (DPRT). Kemenangan banyak calon anggota DPR/DPRD terpilih juga ditentukan kerja tim pemenangan pribadi, konsultan politik, dana pribadi, kekuatan pengaruh, dan langkah-langkah politik 'darurat'.

Di samping itu, untuk mendukung kerja-kerja politik dalam Pemilu 2014 dan 2019, perjalanan roda organisasi partai sebagai lokomotif utama dalam partisipasi elektoral amat bergantung pada sentralisasi komando, pembiayaan, dan pengelolaan dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP).

Menyikapi realitas ini, terutama dalam 5 tahun menjelang Pemilu 2024, jauh-jauh hari perlu dimulai upaya-upaya eksplorasi gagasan, konsepsi, dan model-model alternatif untuk pengembangan Partai NasDem supaya tetap berkibar di 'atas angin'. Sebagai ujian dan sekaligus kesempatan pertama dalam menguji gagasan dan konsepsi tersebut pasca-Pemilu 2019 ini ialah rangkaian Pilkada Serentak 2020.

Alat ukurnya, selain keberhasilan memenangkan sebanyak mungkin kader Partai NasDem, juga keberhasilan mengikat dan memfasilitasi transformasi anggota legislatif, gubernur, bupati, dan wali kota terpilih sehingga menjadi kader militan yang berkontribusi maksimal bagi pengembangan partai.

BERITA TERKAIT