11 November 2019, 21:58 WIB

Jokowi Meruntuhkan Semua Spekulasi


Gantyo Koespradono, Mantan Jurnalis, Pemerhati Sosial Politik | Opini

MI/ Caksono
 MI/ Caksono
Gantyo Koespradono

MERAJUT rekonsiliasi demi persatuan bangsa dan perdamaian itu ternyata sungguh teramat berat dan menyakitkan.

Setidaknya itu kesimpulan sementara saya setelah menyaksikan upaya Partai NasDem lewat ketua umumnya Surya Paloh dan kawan-kawan membantu Presiden Jokowi untuk memulihkan negeri ini setelah "gontok-gontokan" dalam Pemilu Serentak 2019 (pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden) tempo hari.

Diakui atau tidak, hajatan demokrasi itu memang meninggalkan luka yang sakitnya masih terasa hingga saat ini.

Penyebab luka itu diawali ketika Jakarta menggelar pilkada yang sarat dengan sentimen SARA yang kemudian mengantarkan Basuki Tjahaja Purnama (BTP) ke penjara dan Anies Baswedan ke Balai Kota.

Anies dan para pendukungnya (Partai Gerindra, PKS), juga itu para alumni Lapangan Monas, silakan kalian membantah. Faktanya, gara-gara ulah kalian, hubungan persaudaraan bangsa ini retak, pecah dan renggang.

Percuma, untuk merekatkan kembali sesuatu yang telah retak itu tidak mudah, meskipun kalian coba dengan lem Aica Aibon seharga Rp 82 miliar!

Bekas luka yang sulit sembuh itu semakin bernanah saat Pilpres 2019 digelar. Orang baik, bijaksana dan berwajah "ndeso" bernama Joko Widodo dibully habis-habisan.

Siapa yang membela Jokowi? Pastinya orang baik dan partai-partai pendukungnya yang juga baik, satu di antaranya adalah NasDem.

Babak baru menyongsong Indonesia menjadi negara yang maju, luka-luka itu dicoba untuk disembuhkan. Jika perlu tanpa bekas meskipun sulit.

Rekonsiliasi kecil-kecilan pun dilakukan. Jokowi berpelukan dengan Prabowo Subianto, rival bebuyutannya di Pilpres 2014 dan 2019.

Prabowo bahkan dipercaya duduk di Kabinet Indonsia Maju (KIM) sebagai menteri pertahanan. Jokowi tampaknya yakin betul bahwa Prabowo lebih TNI daripada TNI.

Selesai. Masuknya Prabowo ke KIM sempat memunculkan gejolak. Sebentar, sebelum akhirnya semua diam dan sadar bahwa berangkulan itu lebih mulia daripada bertinju. Berpelukan itu lebih elegan daripada adu otot.

Upaya membersihkan nanah di luka kita mengakibatkan kita menjerit-jerit ketika Surya Paloh lewat NasDem mengikuti jejak Jokowi melakukan rekonsiliasi dalam ruang yang lebih besar.

Beberapa pekan lalu, Partai NasDem menyambangi markas PKS di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Sekadar pengingat, PKS selama ini dituduh sebagai biang kerok intoleransi dan radikalisme yang amat dibenci NasDem.

Di sana, Paloh bahkan berangkulan dengan Presiden PKS Sohibul Iman dan foto serta videonya beredar ke mana-mana. Rekonsiliasi ala NasDem ini menimbulkan syak wasangka. Para pendukung NasDem dan Jokowi gerah dan sok geram.

Anies yang dikagumi dan diperalat para "kadrun" (kadal gurun) didekati NasDem. Maaf, saya meminjam istilah yang sedang populer di dunia media sosial.

Siap menanggung risiko, NasDem pun mengundang Anies sebagai gubernur DKI Jakarta ke Kongres II Partai NasDem yang digelar di Jakarta International Expo Kemayoran.

Di arena itu, Anies diberi panggung untuk memberikan sambutan selamat datang. Tidak lebih dari itu.

Di luar beredar hoaks dan analisis recehan bahwa Anies-lah yang membuka kongres, sehingga ada yang menyimpulkan Partai NasDem melanggar etika politik dan ketatanegaraan, "masa Anies yang membuka kongres, Presiden Jokowi yang disuruh menutup?"

Gara-gara Anies, suasana kongres kedua NasDem, menurut pengamatan saya, mirip Sidang Istimewa MPR. Apalagi di akhir kongres (bukan dalam rangka kongres, ya), partai ini menggelar peringatan HUT ke-8 di tempat yang sama dan mengundang Presiden Jokowi.

Tafsir dan tuduhan bahwa Jokowi menutup Kongres II Partai NasDem pun merebak ke mana-mana hingga saya menulis artikel ini, Senin (11/11) malam.


Benar, apa yang telah saya tulis di atas bahwa melakukan rekonsiliasi demi persatuan bangsa dan perdamaian itu ternyata sungguh teramat berat dan menyakitkan. Penuh risiko.

Komentar banyak orang (mereka umumnya orang baik dan pintar, lho) berdasarkan info yang masuk ke WA group saya, antara lain seperti ini:

1. Meskipun para elite NasDem mulai dari Surya Paloh sampai pimpinan partai mengatakan masih dalam barisan koalisi pemerintahan Jokowi-Amin, tapi tetap saja perilaku mereka menunjukkan hal yang sebaliknya.

2. NasDem partai oportunis, berdiri di dua kaki. Satu di koalisi, satu lagi di kubu lain. Munafik. Mau cari untung sendiri.

3. Semoga Pak Jokowi segera memecat tiga menteri asal NasDem.

4. Partai NasDem nekat merusak etika dan tatanan ketatanegaraan. Kongres dibuka oleh seorang gubernur dan akan ditutup oleh Presiden.

5. Partai NasDem melakukan perlawanan terbuka kepada Presiden Jokowi. Anies yang membuka kongres adalah pesan perlawanan kuat kepada Presiden Jokowi karena Anies adalah figur perlawanan kepada Presiden Jokowi.

6. Belum ada dalam sejarah suatu partai dalam kongresnya dibuka oleh seorang gubernur dan ditutup oleh Presiden. Ini logika terbalik elite partai NasDem yang jelas-jelas ada unsur pelecehan marwah Kepala Negara.

7. NasDem kecewa karena Presiden Jokowi cuma memberikan jabatan tiga menteri kepada NasDem. Mereka minta jaksa agung tetap dari NasDem.

8. NasDem belagu. Partai ini pasti didukung oleh kekuatan yang tidak tampak. Dasar si bewok!

Itu sekadar contoh. Boleh jadi info dan komentar sejenis yang lebih sadistis kini masih tersimpan dengan baik di HP para pendukung NasDem dan Jokowi.

Semoga fakta-fakta berikut tidak membuat mereka yang nyinyir kepada NasDem dan Surya Paloh menjadi malu. Beruntung tidak ada yang bernazar akan memotong kemaluan terkait dengan NasDem dan Jokowi.

Setelah menunggu sambil berharap yang tidak-tidak, para analis dadakan, akhirnya harus kecewa, setelah mengetahui Presiden Jokowi hadir ke arena Kongres II Partai NasDem pada Senin (11/11) malam.

Datang ke sana, Jokowi bukan untuk menutup kongres, melainkan ikut senang merayakan HUT ke-8 partai yang punya 59 kursi di DPR (peningkatannya paling mencolok dibandingkan partai-partai lain, sebelumnya 36 kursi).

Soal penambahan kursi  NasDem yang demikian spektakuler itu bahkan diapresiasi Jokowi saat dia memberikan sambutan dalam perayaan ulang tahun partai restorasi ini.

"NasDem selayaknya mensyukuri itu semua. Saya juga bersyukur sebab NasDem sampai saat ini tetap konsisten mendukung saya," kata Jokowi.

Lalu apa komentarnya soal rangkulan Paloh dengan Sohibul Iman yang diributkan para penyinyir?

Dengan enteng, Jokowi menjawab, itu hanya soal cemburu karena Paloh memang "tidak pernah memeluk saya sekuat saat  Bang Surya memeluk Pak Sohibul."

Lagi pula kalau ada orang rangkulan, "apa yang salah?  Ini bagus. Kalau rangkulan untuk komitmen kebangsaan apa yang salah?"

Jokowi juga menjelaskan tentang canda kepada  Paloh  yang disampaikannya saat menghadiri peringatan ulang tahun Golkar. Dia menegaskan bahwa itu adalah candaan seorang sahabat biasa.

Ada yg curiga. Ada yang tidak percaya. Apa yg salah. Betapa sayangnya bang SP kepada Ibu sayangi.

Jokowi akhirnya mengajak semua komponen bangsa untuk tidak membesar-besarkan persoalan kecil dan dibawa ke mana-mana, sementara ke depan bangsa ini menghadapi tantangan besar di bidang ekonomi.

Kehadiran Jokowi dalam HUT ke-8 Partai NasDem akhirnya membuyarkan semua analisis ngawur para pakar dan pengamat musiman bahwa NasDem akan beroposisi dan koalisi Jokowi pecah. "Itu keliru besar," kata Jokowi.

Masih ingin terus nyinyir terhadap misi rekonsiliasi kebangsaan Presiden Jokowi dan NasDem? (OL-8)

 

BERITA TERKAIT