11 November 2019, 22:40 WIB

Tak Didukung Militer, Morales Pilih Mundur


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP
 AFP
Presiden Bolivia Evo Morales 

PRESIDEN Bolivia Evo Morales memutuskan mundur, menyusul terjadinya unjuk rasa warga dalam tiga pekan terakhir yang menentang hasil pemilihan umum. Pilihan itu juga diambil Morales setelah polisi dan tentara tidak lagi mendukung dirinya.

“Saya berhenti dari jabatan saya sebagai presiden,” ujar politikus berhaluan kiri berusia 60 tahun itu dalam pidato yang disiarkan televisi, Minggu (10/11).

Morales kemudian menulis di Twitter bahwa dirinya akan ditangkap. Namun kepala polisi Vladimir Yuri Calderon menyatakan kepada wartawan bahwa hal itu tidak benar. Morales juga menulis bahwa “kelompok yang ganas” telah menyerang rumahnya.

Morales adalah warga keturunan suku Aymara. Ia pernah menjadi petani tanaman koka sebelum menjadi presiden Bolivia pertama yang berasal dari suku pribumi di tahun 2006.

Selama 14 tahun berkuasa, sejumlah prestasi ditorehkannya, termasuk menurunnya tingkat kemiskinan dan kelaparan. Perekonomian Bolivia juga berhasil meningkat tiga kali lipat.

Namun kontroversi terjadi saat Morales menang pemilu untuk ke empat kalinya. Komisi pemilihan umum Bolivia mengatakan Morales menang pada pemilu 20 Oktober dengan selisih suara yang kecil.

Pihak oposisi menentang hasil pemilu itu dan mengatakan telah terjadi kecurangan. Ribuan warga lalu berunjuk rasa ke jalan-jalan. Bentrokan pun terjadi dengan aparat keamanan yang menyebabkan tiga warga tewas dan ratusan lainnya terluka.


Warga gembira

Pengumuman mundurnya Morales disambut gembira oleh warga Bolivia. Jalanan di ibu kota La Paz segera dipenuhi oleh warga yang melambaikan bendera negara itu. Tetapi kekerasan dan vandalisme lalu terjadi di malam harinya di La Paz dan El Alto.

Penantang utama Morales di pemilu yakni mantan presiden Carlos Mesa mengatakan Bolivia “telah memberi pelajaran kepada dunia. Bolivia kini menjadi negara baru”.

Morales sebelumnya sempat menjanjikan pemilu ulang namun ini tidak mampu menurunkan kemarahan warga. Komandan polisi dan tentara Bolivia lalu bergabung dan meminta Morales mundur.

“Morales harus menyerahkan mandat agar tercipta perdamaian dan stabilitas di negara ini,” ujar panglima militer, Williams Kaliman.

Sejumlah menteri kemudian ikut mundur seperti Morales. Ini menimbulkan pertanyaan tentang presiden berikutnya karena wakil presiden Alvaro Garcia Linera juga mundur.

Menurut konstitusi Bolivia, kekuasaan akan jatuh kepada ketua parlemen atau ketua DPR. Tetapi kedua pejabat itu pun telah mundur. Seorang senator dari kubu oposisi, Jeanine Anez, lalu menyatakan akan menjadi presiden sementara Bolivia.


Reaksi dunia

Negara-negara di Amerika Latin maupun yang berhaluan kiri umumnya bersimpati dan mengutuk unjuk rasa yang menyebabkan Morales mundur.
Rusia misalnya menuduh unjuk rasa itu sebagai “kudeta yang direncanakan”. Pihak Kemenlu Rusia mengaku prihatin dengan terjadinya tindak kekerasan yang membuat Morales tidak bisa menjalankan mandat.

Sedangkan politisi dari Uni Eropa meminta semua pihak di Bolivia “menahan diri”. Menurut ketua misi diplomatik Uni Eropa, Federica Mogherini, semua pihak harus bertanggung jawab menciptakan perdamaian di Bolivia. “Harus segera ada pemilu baru yang memungkinkan warga Bolivia menyuarakan hak mereka,” ujarnya. (AFP/X-11)

BERITA TERKAIT