11 November 2019, 14:25 WIB

Redakan Sakit dengan VR


Fetry Wuryasti | Weekend

123rf
 123rf
Penggunaan VR ternyata bisa mengurangi rasa sakit bagi mereka yang menderita penyakit kronis.

MENONTON pemandangan Samudera Arktik mengunakan virtual realitas (VR) ternyata membantu meringankan rasa sakit terutama mereka yang memiliki penyakit kronis.

Menggunakan VR, para peneliti memainkan pemandangan 360 derajat ke pada mereka yang mengalami sakit kronis. Tontonan VR yang diperlihatkan ialah pemandangan gunung es, lautan yang membeku, dan hamparan es yang luas.

Ternyata setelah menyaksikan video tersebut, rasa sakit bisa berkurang. Terbukti penggunaan teknologi membantu mengurangi tingkat rasa sakit, tapi hanya sensitivitas mereka terhadap rangsangan yang menyakitkan.

Ini menambah 'bukti yang berkembang' untuk potensi teknologi VR untuk membantu pasien dengan nyeri kronis, menurut tim dari Imperial College London.

Penelitian ini melibatkan 15 sukarelawan dalam kondisi sehat. Para sukarelawan itu menggunakan krim tropikal dan membuat mulut mereka terasa terbakar. Tim peneliti menerapkan kejutan listrik kecil untuk menguji reaksi mereka terhadap rangsangan eksternal.

"Sementara hasilnya menggembirakan," kata para peneliti dikutip melalui Daily Mail, Senin (11/11). Peneliti tidak menawarkan bukti nyata dari efek positif VR, karena tes itu melibatkan serangkaian hasil terbatas berdasarkan hanya sejumlah kecil sukarelawan sehat. Tim mengatakan mereka juga ingin menguji hasil adegan realitas virtual alternatif, di luar pemandangan Arktik.

Para relawan diminta menilai rasa sakit yang mereka derita pada skala dari 0- 100, saat menonton adegan VR melalui headset atau melihat gambar diam adegan Arktik. Tim menemukan ketika menonton adegan VR skor nyeri yang didaftarkan lebih rendah dari krim dan kejutan listrik. Namun kondisi ini tidak terjadi pada pasien yang melihat gambar diam.

Dr Sam Hughes, penulis pertama penelitian ini mengatakan salah satu fitur utama dari nyeri kronis adalah Anda mendapatkan peningkatan sensitivitas terhadap rangsangan yang menyakitkan.

"Ini berarti saraf pasien terus-menerus menembak dan memberi tahu otak mereka bahwa mereka dalam keadaan sakit yang semakin tinggi," jelas dia.

Dia mengatakan menggunakan headset realitas virtual membantu mengalihkan perhatian orang dari rasa sakit yang mereka derita. Kondisi yang sama pun ditunjukan pada pasien gigi.

Di luar efek yang mengganggu, Dr Hughes berpikir pasien yang tenggelam dalam VR sebenarnya dapat memicu sistem penghilang rasa sakit yang dibangun di dalam tubuh sendiri, mengurangi sensitivitas mereka terhadap rangsangan yang menyakitkan, dan mengurangi intensitas rasa sakit yang berkelanjutan.

"Pekerjaan kami menunjukkan VR mungkin mengganggu proses di otak, batang otak, dan sumsum tulang belakang, yang dikenal sebagai bagian kunci dari sistem penghilang rasa sakit," katanya.

Di masa depan virtual reality headset dapat memberikan terapi alternatif untuk beberapa kondisi nyeri kronis, menurut Dr Hughes.

Dia mengatakan itu juga bisa membantu pasien dengan nyeri kronis yang sering memiliki sistem melawan nyeri inbuilt yang kurang.

"Masih ada banyak hal yang harus dipecahkan, tetapi satu aspek yang menarik dari penelitian kami adalah desain VR yang kami gunakan benar-benar pasif - artinya pasien tidak perlu menggunakan lengan mereka. Artinya pasein yang terbaring di tempat tidur atau tidak bisa menggerakan anggota tubuh mereka, bisa memanfaatkan pendekatan ini," kata Dr Hughes. (M-3)

Baca juga : Menikmati Suguhan ala Jepang di Bandung
 

BERITA TERKAIT