11 November 2019, 10:39 WIB

Menyemai Damai di Desa ''Indonesia Mini''


Lilik Darmawan | Nusantara

Lilik Darmawan
 Lilik Darmawan
Kerukunan beragama di Desa Banjarpanepen, Banyumas,  Jateng dijadikan magnet wisata bagi para pengunjung

Banjarpanepen merupakan sebuah desa yang terletak di lereng perbukitan di wilayah Kecamatan Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng). Masyarakat desa yang berjarak sekitar 50 kilometer (km) dari pusat Kota Purwokerto itu, hidup damai meskipun mereka menganut beragam agama dan kepercayaan. Di Desa Banjarpanepen terdapat umat Islam, Kristen, Budha, dan aliran kepercayaan atau penghayat yang dapat hidup rukun dalam bingkai kebudayaan Banyumasan. Tahun ini Desa Banjarpanepen ditetapkan Pemerintah Kabupaten Banyumas sebagai desa sadar kerukunan beragama.

Selain karena bingkai budaya Banyumasan yang mengikat masyarakat desa itu, rupanya kerukunan masyarakat juga tidak luput dari perhatian Made Subali, 59, yang sudah 16 tahun menjadi Bhayangkara Pembina Keamanan
dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) di desa itu.

Kini Made yang beragama Hindu telah purnatugas, namun dia paham betul kehidupan beragama masyarakat Banjarpanepan. ''Kebetulan saya Hindu. Seakan melengkapi keberagaman yang ada di Desa Banjarpanepen. Jelas, Islam menjadi mayoritas, namun ada juga Kristen, Budha, dan penghayat. Selama bertugas setahu saya masyarakat betul-betul menjalin kerukunan yang erat,'' ungkap Made yang berdinas sejak 2002-2018.

Tugas sebagai bhabinkamtibmas saat ini diemban Bripka Eko Hermawanto dari Polsek Sumpiuh. Untuk tetap menjaga kerukunan masyarakat Eko meneruskan upaya yang telah dilakukan Made. Hampir tidak ada sudut desa yang luput dari pantauannya bersama rekan sejawat bintara pembina desa (babinsa) Serka Wartadi.

'Hampir setiap saat, saya bersama Pak Wartadi masuk ke desa, bertemu dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat. Kalau ada kegiatan, seperti pagelaran budaya, dipastikan kami ada bersama Babinsa,'' jelas Eko.

Dikatakan oleh Eko, salah satu kunci menjaga kerukunan antarumat beragama yang beragam di Desa Banjarpanepen adalah berinteraksi dengan seluruh masyarakat. Sebab, tanpa silaturahmi, tentu tidak akan kenal dengan warga dan para tokoh yang ada. ''Dengan bersilaturahmi, mengunjungi tempat ibadah dan ikut serta melakukan penjagaan ketika ada pagelaran budaya atau pada saat upacara keagamaan, maka masyarakat merasa terayomi,'' katanya.

Kapolsek Sumpiuh Ajun Komisaris Sarjupri menambahkan, pihaknya secara rutin melakukan komunikasi dengan seluruh elemen masyarakat yang ada di desa setempat. ''Membangun komunikasi itu sangat penting, terutama kepada tokoh agama dan masyarakat. Kami tak bosan-bosan terus menggelorakan toleransi, karena di desa setempat terdapat beragam agama dan kepercayaan. Kami juga mendorong masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan pada saat saudara beragama lain melaksanakan kegiatan peribadahan. Misalnya, pada saat Natal, umat Muslim ikut menjaga lingkungan gereja, demikian juga ketika salat Id, umat Kristen, Budha dan kepercayaan melakukan penjagaan. Inilah bentuk pembuktian dari sikap toleransi. Bahkan, kalau ada hari besar, saling mengunjungi mengucapkan selamat,'' ujar Sarjupri.

Kapolsek mengatakan, jika polisi tidak sendiri dalam melakukan pembinaan warga, melainkan juga bersama dengan Babinsa. ''Kami bersinergi dengan teman TNI khususnya dari Koramil Sumpiuh. Ketika ada acara di Banjarpanepen, dipastikan kami datang bersama. Sinergi TNI dan Polri bersama masyarakat,'' ungkapnya.

Komandan Koramil 10/Sumpiuh Kapten Arm Catur Hadi menambahkan sinergitas antara TNI dan Polri sangat penting, apalagi untuk membina desa yang memiliki warga dengan beragam agama dan kepercayaan. ''Selain berkunjung dan mengajak berbincang dengan para tokoh agama dan masyarakat, kami juga terus mensosialisasikan wawasan kebangsaan. Karena hal itu sangat penting membekali warga agar tetap menjaga persatuan dan kesatuan di bawah NKRI,'' tandasnya.

Kepala Desa Banjarpanepen Mujiono mengapresiasi sinergi yang telah terbangun antara masyarakat, pemerintah desa, Bhabinkamtibmas dan Babinsa. ''Bapak-bapak dari TNI dan Polri kerap datang ke desa, melakukan pemantauan dan berbicara dengan kami. Dengan kedatangan mereka, maka masyarakat merasa makin terayomi. Mereka juga terus mendorong agar kerukunan yang tercipta selama ini tetap dipertahankan dan mampu menjadi contoh bagi daerah lainnya,'' katanya.

Ia bersyukur, karena sejak nenek moyang, Desa Banjarpanepen itu ibarat Indonesia mini, sebuah desa yang memiliki beragam kepercayaan tanpa harus saling bermusuhan. ''Ada moto yang kami buat, Banjarpanepen Satu, Banjarpanepen Maju. Dengan kata-kata itu, kami ingin supaya Banjarpanepen tetap menyatu, sehingga bisa maju bersama. Meski di dalamnya berbeda-beda, kita bisa maju bersama,'' ujar dia.

Kearifan lokal toleransi telah menjadi budaya masyarakat setempat, tetapi tetap perlu memupuk kebersamaan. ''Sebulan sekali, tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat bertemu. Bagi pemerintahan desa, pertemuan dan silaturahmi ini sangat penting, untuk tetap menjaga komunikasi antartokoh. Serta juga dihadiri dari Babinsa maupun Bhabinkamtibmas. Pertemuan itu kadang juga membahas kondisi terkini, untuk membentengi dari isu-isu yang tidak bertanggung jawab,'' tandasnya.

Tokoh adat setempat, Samun mengatakan, ada budaya yang dijaga sehingga dapat menyatukan bersama. ''Pada saat Grebeg Suran, misalnya, seluruh anggota masyarakat berkumpul di Watu Jonggol untuk melaksanakan kenduri atau makan bersama. Demikian juga ada acara adat lain, Purnamaan yang berlangsung di Kali Cawang. Nenek moyang meminta kepada kami untuk terus menjaga tradisi yang ada,'' ungkapnya.

Ketua Forum Kerukunan Umat Berimat (FKUB) Banyumas Mohamad Roqib menambahkan Banjarpepen telah ditetapkan sebagai desa sadar kerukunan beragama. Sebab, Desa Banjarpanepen yang beragam agamanya mampu menjaga toleransi, sehingga mereka menyatu dalam bingkai NKRI.  ''Keragaman, merupakan sebuah keniscayaan. Dan Banjarpanepen telah memberikan bukti dan contoh, bagaimana mereka mampu hidup bersama, saling gotong royong, meski beda keyakinan. Hal ini juga tidak lepas dari peran seluruh masyarakat dan para tokoh maupun pihak lain yang membantu menjaga kerukunan di desa itu,'' kata Roqib. (OL-11)

 

BERITA TERKAIT