11 November 2019, 09:50 WIB

Polisi Hong Kong Tembak Demonstran


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP/Anthony WALLACE
 AFP/Anthony WALLACE
Seorang polisi Hong Kong memasang pembatas di lokasi tertembaknya seorang demonstran oleh polisi.

SEORANG polisi menembak setidaknya satu orang dalam aksi protes selama jam sibuk, Senin (11/11) pagi, di Hong Kong.

Rekaman yang ditampilkan secara langsung di Facebook menunjukkan petugas meraih senjatanya sebelum bergulat dengan seorang pria di penghalang jalan.

Pria lain, mengenakan masker, lalu mendekat dan petugas menembaknya, menyasar bagian dada atau badannya.

Ketika pergulatan berlanjut, petugas melepaskan tembakan lagi--meskipun tidak jelas dari rekaman apakah peluru mengenai siapa saja.

Kondisi orang pertama yang ditembak tidak diketahui.

Baca juga: Warga Jepang Sambut Parade Kaisar Naruhito

Penembakan itu merupakan kali kedua polisi menembak seseorang dengan peluru tajam sejak protes Hong Kong dimulai pada Juni lalu.

Insiden pertama adalah selama protes pada 1 Oktober lalu ketika Tiongkok merayakan 70 tahun pemerintahan komunis.

Penembakan Senin (11/11) pagi terjadi ketika pengunjuk rasa berusaha memblokade persimpangan di Sai Wan Ho di timur laut pulau itu.

Para pengunjuk rasa menggunakan barikade untuk memblokade jalan di berbagai daerah, yang menyebabkan kemacetan lalu lintas yang panjang. Beberapa jalur kereta api dan kereta bawah tanah juga terganggu.

Kekerasan terbaru terjadi setelah seorang siswa meninggal pada Jumat (8/11) lalu setelah jatuh dari pinggiran yang sempit di tempat parkir, dilaporkan berusaha melarikan diri dari gas air mata polisi.

Hong Kong adalah bagian dari Tiongkok tetapi sebagai bekas jajahan Inggris kota itu memiliki beberapa otonomi dan penduduk di sana menikmati lebih banyak hak.

Protes dimulai pada Juni lalu terhadap rencana untuk memungkinkan ekstradisi pelaku criminal ke daratan--yang banyak dikhawatirkan akan merusak kebebasan Hong Kong.

RUU itu dibatalkan pada September tetapi demonstrasi berlanjut dan sekarang pemrotes menyerukan demokrasi penuh dan penyelidikan tentang perilaku polisi.

Bentrokan antara polisi dan aktivis menjadi semakin ganas dan pada Oktober saat pemerintah kota melarang semua penggunaan masker. (BBC/OL-2)

BERITA TERKAIT