11 November 2019, 06:20 WIB

Ada Tjokro di Hati Surya (Dari NasDem untuk Indonesia)


Ahmad Baedowi Direktur Eksekutif Yayasan Sukma, Jakarta | Opini

Dok.MI/Seno
 Dok.MI/Seno
Opini

DI tengah hiruk pikuk pujian dan kritik terhadap manuver Surya Paloh (SP) sebagai Ketua Umum Partai NasDem dalam membangun relasi politik antarpartai, ada satu yang luput dari amatan kita tentang perilaku politik SP dalam konteks kesejarahan bernegara. Harus kita akui bahwa perilaku politik SP tentang ketegasan, kecepatan dalam bertindak, tangkas, tak suka basa-basi seperti melekat pada semua sisi dan perilaku politik SP.

Secara kultural, ada banyak indikator untuk menyebut SP sebagai wajah Islam moderat yang nasionalis, yang mana antara keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan bergabung jadi satu. Selama 8 tahun memimpin dan menakhodai Partai NasDem, tindakan dan pernyataannya selalu ditunggu media, meskipun penuh kontroversi. Jangan lupa, kontroversi ialah bagian tak terpisahkan dari batang tubuh dan pikiran SP selama 8 tahun terakhir. Meskipun demikian, sesungguhnyalah, pada diri seorang SP terdapat sifat dan sikap seorang guru (bangsa) yang mampu memberikan inspirasi bagi tumbuhnya kesadaran untuk bertindak, berpikir, dan berasa.

SP, bak seorang master dari Tibet (dalam Zen Meditation, 2004:110), adalah sosok yang memiliki kemampuan untuk menggabungkan kesadaran dan tindakan, meskipun hal itu sangat sulit karena seperti mencampur minyak dengan air, seperti mencoba keluar dari kulit kita sendiri. Namun demikian, SP seperti kita lihat memang mempunyai kesadaran penuh untuk menyinergikan perbedaan-perbedaan tersebut.

Hakikatnya guru bangsa ialah bagian dari hierarki moral kebangsaan. Melalui mereka atau lebih tepatnya melalui kebijaksanaan mereka, rakyat dituntun agar tetap berada di jalan yang benar. Mulder menyebutkan bahwa guru adalah orang yang memiliki wahyu untuk membagi pewahyuan, membagi kebenaran kepada murid sehingga murid tersebut mempunyai kebijaksanaan (2007:189). Contoh dan perilaku politik SP akan dicatat sejarah sebagai sebuah awal dari kebangkitan moralitas kebangsaan yang selalu berusaha untuk terus memperbaiki diri.

Kesatuan kebangsaan dan keagamaan

Jika ada pertanyaan tentang siapakah the real founding fathers of Indonesia, secara historis menurut saya jawabannya ialah Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Seseorang yang harus diberi apresiasi besar dan tinggi karena keteladanan beliau yang selalu menginginkan terbentuknya kesatuan kebangsaan dan keagamaan dalam hati nurani setiap rakyat Indonesia. Lewat perjuangan Tjokroaminoto dengan Sarekat Islam, Indonesia kemudian melahirkan tokoh-tokoh lainnya yang progresif dan andal, di antaranya ialah Soekarno, Semaun, dan Kartosoewiryo.

Salah satu semboyan HOS Tjokroaminoto yang tersohor kala itu ialah kata mutiaranya yang sangat menginspirasi, yaitu setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat. Kesadaran akan pentingnya ilmu bagi negara yang belum merdeka ketika itu diletakkan dalam kerangka kebangsaan yang segar, sambil tak lupa untuk tetap berpegang teguh dengan prinsip keagamaan. Kesadaran normatif seperti inilah yang justru melahirkan banyak sekali ide dan inspirasi dari para pemuda ketika itu.

Interaksi Tjokroaminoto dengan Soekarno, Semaun, dan Kartosoewiryo seolah menjadi garis linier kesejarahan Indonesia hingga saat ini. Laksana sebuah takdir, untuk tak menyebutnya kutukan, Indonesia seolah tak bisa keluar dari himpitan dan godaan sayap kiri (left wing) yang diwakili oleh Semaun dengan sosialisnya, sayap tengah (middle wing) oleh Soekarno dengan nasionalismenya, serta sayap kanan (right wing) oleh Kartosoewiryo dengan Islamismenya. Tiga warisan inilah yang terus-menerus bertikai dalam peta politik Indonesia yang katanya demokratis, tetapi terkadang lalai dalam mengawal elan dasar kesatuan kebangsaan dan keagamaan yang dirumuskan dengan sangat elegan dalam Pancasila.

Pancasila ialah jalan tengah antara kiri, kanan, dan tengah. Semua kepentingan etnik, budaya, dan agama terangkum dengan baiknya dalam rumusan sila-silanya. Mengapa harus Pancasila? Karena seperti kata Supomo Indonesia tidak perlu menjadi negara Islam, tetapi menjadi negara yang memakai dasar moral yang luhur, yang dianjurkan juga agama Islam. Meskipun alasan Supomo diterima banyak nasionalis Islam waktu itu, tapi perdebatan tentang hal tersebut muncul kembali pada 1950-1959, pada setelah lengsernya Presiden Soeharto, serta munculnya Reformasi pada 1998 sampai sekarang Pancasila seperti tak bergaung lagi.

Gagasan kesatuan kebangsaan dan keagamaan juga bisa ditelusuri jejaknya dari tulisan Mohammad Hatta tentang collectivisme (1930). Dalam pandangan Hatta, suatu bangsa tidak mungkin dibangun tanpa prinsip-prinsip solidaritas dan subsidiaritas. Prinsip solidaritas mengisyaratkan perlunya kerja sama (koperasi) yang aktif secara kolektif dari komponen-komponen budaya, etnik, tradisi, dan agama yang ada dalam masyarakat. Prinsip subsidiaritas ialah nilai-nilai kebersamaan yang mampu membantu yang tidak mampu, yang kuat membantu yang lemah, khususnya di bidang ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan. Semangat kebangsaan dan keagamaan inilah yang seharusnya mendominasi struktur berpikir masyarakat Indonesia saat ini.

Perekat ideologi

Tiga nilai dasar keberbangsaan Indonesia sejatinya ada pada diri HOS Tjokroaminoto. Selain memiliki pandangan keislaman yang kuat dan rasa nasionalisme yang pekat, Tjokroaminoto juga memiliki kemampuan mengatasi kemiskinan dan masalah-masalah sosial secara konkret dengan mendirikan Sarekat Dagang Indonesia. Sosok dan keteladanan Tjokroaminoto sebagai perekat ideologi tampaknya seperti mengalir deras pada diri Surya Paloh. Perilaku politik SP dengan NasDem yang memiliki kepedulian terhadap bangunan kebangsaan yang menggabungkan nilai-nilai nasionalisme, sosialisme, dan Islamisme sangat kentara dan kuat. Setidaknya, seperti dituahkan Dryden dan Vos (2000:296), proses pembelajaran yang telah dilakukan SP kepada publik telah memberi ruang kepada kita untuk senantiasa berusaha menciptakan kondisi yang benar, mempresentasikan dengan benar, memikirkan, mengekspresikan, mempraktikkan, serta tak segan untuk dievaluasi dengan benar.

William Arthur Ward pernah bilang, The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires. Semoga saja apa yang pernah dikatakan, diterangkan, serta dilakukan SP tentang pentingnya bangunan kebangsaan yang kukuh benar-benar akan memberi inspirasi bagi anak bangsa ini untuk melangkah ke depan. Dari aspek kompetensi, pribadi SP juga menyiratkan dua hal sekaligus, yaitu kompeten di bidang ekonomi yang dialaminya sebagai pengusaha (a hard dimension) dan pada waktu yang bersamaan SP juga memiliki sikap dan sifat yang elegan sebagai seorang negarawan yang menjunjung tinggi budaya negeri (a soft skill dimension).

Karena itu, definisi kompetensi menurut Naresh Makhijani ialah competency can essentially be defined as having both job-related technical skills (a hard dimension) as well as attitudinal and behavioral components (a soft dimension), sangat pas dengan perilaku dan sikap kenegarawanan SP yang mengedepankan rasa persatuan kebangsaan dan keagamaan.

Hal ini terlihat dari isi pidato SP pada pembukaan Kongres ke-2 Partai NasDem 8 November lalu, bahwa ".... kita mau dikenang sebagai parpol yang konsisten, bukan hanya partai yang cuma melakukan pendekatan rasionalitas, melainkan juga mempertajam hati dan nurani diri." Dengan ketajaman intuisinya itu, SP tak ragu untuk terus melakukan silaturahmi ketimbang memelihara rasa permusuhan dan persaingan antarpartai.

SP tak rela jika kesatuan kebangsaan dan keagamaan tercabik-cabik hasrat dan syahwat kepentingan golongan tertentu saja serta menjadikan masyarakat kita saat ini tak lagi menghargai keragaman etnik, budaya, tradisi, dan agama yang menjadi kekayaan bangsa. Sering kali SP memberi respons yang sporadis dan reflektif tentang kondisi saat ini sebagai akibat dari rendahnya apresiasi kita terhadap segala jenis keragamaan kebangsaan dan keagamaan bangsa sendiri. Selain itu, rendahnya kesadaran sejarah suatu masyarakat menandakan gagalnya pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa yang cerdas memiliki ingatan sejarah yang kuat dan mau belajar dari sejarah. Alih-alih melakukan intropeksi akan kelemahan dan kesalahannya, malahan banyak orang Indonesia sekarang lebih suka menyalahkan konstitusi yang dibangun dengan susah payah oleh pendiri negara bangsa.

Soekarno dan Hatta ialah proklamator, tetapi inspirasi kesatuan kebangsaan dan keagamaan mengalir jauh dari pribadi HOS Tjokroaminoto, yang saat ini coba diingatkan kembali melalui serangkaian perilaku politik Surya Paloh. Bagi Surya Paloh, kesatuan kebangsaan dan keagamaan sudah paripurna dengan Pancasila. Bahkan, secara sadar dan bertanggung jawab, para founding fathers Republik ini merumuskan makna spiritual keragaman dalam Pancasila. Karena itu, tak terlalu salah jika Pancasila lahir untuk menegaskan bahwa secara sosial, budaya, tradisi, adat istiadat, dan agama Indonesia sebenarnya merupakan anak semua bangsa; di dalamnya mencerminkan sebuah mozaik yang sangat indah, penuh warna, dan nuansa.

Jika hari ini masih ada sekelompok masyarakat yang ragu dengan Pancasila, jelas orang atau kelompok tersebut sedang hidup diruang hampa atau bahkan kedap suara. Padahal, dari perjalanan sejarah bangsa jelas sekali Pancasila merupakan ikatan kesatuan kebangsaan dan keagamaan masyarakat Indonesia karena Pancasila telah memperlihatkan kemampuan integratif yang luar biasa. Pancasila bukan saja memancarkan integrasi kebangsaan dari lapisan-lapisan sosial, melainkan juga integratif kesejarahan antara masa lampau, kini, dan akan datang serta sesama umat manusia serta mahluk dengan al-Khalik. Selain itu, Pancasila juga merupakan pantulan kepribadian kita bersama karena dia memberikan corak atau ciri khas kepada bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain. Selamat ulang tahun, NasDem. Majulah Indonesia.

tiser

SP tak rela jika kesatuan kebangsaan dan keagamaan tercabik-cabik hasrat dan syahwat kepentingan golongan tertentu saja serta menjadikan masyarakat kita saat ini tak lagi menghargai keragaman etnik, budaya, tradisi, dan agama yang menjadi kekayaan bangsa.

BERITA TERKAIT