11 November 2019, 00:00 WIB

Pengunjuk Rasa Bolivia Duduki Media Pemerintah


MI | Internasional

AFP
 AFP
Unjuk Rasa di Bolivia

PARA demonstran oposisi di Bolivia menyerbu dua outlet media yang dikelola pemerintah dan memaksa mereka menghentikan kegiatan siaran, Sabtu (9/11). Polisi berhenti menjaga alun-alun tempat Istana Presiden Evo Morales berada, ketika ketegangan masih tinggi setelah pemilu yang disengketakan.

Menurut Direktur Radio, Ivan Maldonado, demonstran masuk ke kantor Bolivia TV dan Radio Patria Nueva, memaksa karyawan untuk pergi, menuduh mereka melayani kepentingan Morales. "Kami diusir secara paksa setelah menerima ancaman terus-menerus dari orang-orang yang berkumpul di luar," kata Maldonado.

Sekitar 40 karyawan terlihat meninggalkan gedung tempat dua organisasi berita berkantor di La Paz, berjalan beriringan ketika kerumunan sekitar 300 demonstran meneriaki kata-kata cercaan. Setelah itu, kedua outlet hanya menyiarkan musik.

Morales mengecam pendudukan outlet media itu. "Mereka mengatakan mereka membela demokrasi, tetapi mereka berperilaku seolah-olah mereka berada dalam kediktatoran," ujar Morales.

Dia mengatakan gerilyawan oposisi juga membakar rumah saudara perempuannya di kota Oruro Selatan sebagai bagian dari apa yang dia sebut upaya untuk menggulingkannya.

Rekaman di media sosial menunjukkan rumah kakak perempuannya, Esther, sebagian terbakar. Rumah-rumah gubernur regional dan gubernur Provinsi Chuquisaca juga dibakar.

Sebelumnya, Morales menyerukan dialog mendesak dan terbuka dengan partai-partai oposisi yang memegang kursi di Majelis Nasional, tetapi ia dengan tegas mengecualikan komite sipil regional yang kuat yang menentangnya.

Pemimpin oposisi, mantan Presiden Carlos Mesa, menolak sikap Morales, "Kami tidak punya sesuatu untuk dinegosiasikan dengan Evo Morales." (AFP/Hym/I-1)

BERITA TERKAIT