10 November 2019, 03:00 WIB

Lucia Martini Tugas Sekolah Berakhir Petaka


(Gas/M-1) | Weekend

MI/PIUS ERLANGGA
 MI/PIUS ERLANGGA
 Lucia Martini Tugas Sekolah Berakhir Petaka

KISAH orang hilang yang memilukan juga dialami keluarga Lucia Martini. Makin menyesakkan dan sulit diterima karena sang anak, Denny Murdani, sebetulnya pergi dalam rangka tugas sekolah dari SMKN 1 Sanden, Bantul, DI Yogyakarta.

Denny bersama dua teman sekolahnya, Agil dan Ginanjar, menjalani program magang di sebuah perusahaan penangkapan ikan di Bali. Namun, pada 5 Maret 2010, pihak sekolah mengabarkan jika Kapal Jimmy Wijaya yang menjadi tempat kegiatan siswa-siswa itu hilang. Kabar itu disampaikan melalui surat dan menyebutkan jika kejadian nahas itu terjadi pada 28 Februari 2010.

Keluarga pun menuntut penjelasan dari pihak perusahaan, tapi hanya dijawab dengan ketidaktahuan. Lucia dan keluarga jelas tidak puas karena pada awal masa-masa hilang, Denny yang ketika hilang berusia 16 tahun itu masih bisa berkomunikasi. Pada suatu waktu, Denny mengabarkan jika berada di Timor Leste dan minta dikirimi pulsa. Setelah itu Denny pernah menyebut berada di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

"Walaupun dari perusahaan juga sudah menyatakan bahwa kapal itu hilang, tetapi tidak tahu hilangnya di mana. Kami punya keyakinan bahwa ketiga anak itu masih hidup, tetapi entah ada di mana," tutur ayah siswa yang juga hilang, Ginanjar, Joko Priyono.

Lucia dan orangtua dari dua siswa lainnya menempuh beragam cara untuk meminta keadilan dan mencari keberadaan anak-anak mereka, termasuk menempuh jalur hukum. Dari proses peradilan pula kebusukan-kebusukan di balik program magang ini terungkap.

Salah satunya ialah kenyataan jika KTP siswa-siswa itu dipalsukan. Pihak perusahaan mengaku tidak tahu jika bocah-bocah pria tersebut sesungguhnya ialah siswa yang menjalani program magang/praktik kerja lapangan (PKL).

Pengakuan kemudian menyibak kenyataan jika sosok bernama Mugiri yang semula mengaku Direktur PT Jangkar Kemudi dan menjalani surat-menyurat dengan pihak sekolah, tidak lain ialah seorang calo. Perusahaan itu pun nyatanya fiktif.

"Dari sekolah itu mengirimkan surat yang namanya Pak Mugiri. Pak Mugiri ini adalah direktur dari PT Jangkar Kemudi. Kami juga tahunya seperti itu, ternyata kok PT Sentral Benoa Utama. Setelah dicari-cari ternyata Pak Mugiri adalah calo di sana dan PT Jangkar Kemudi itu tidak ada perusahaannya," imbuh Lucia.

Kenyataan itu jelas membuat marah dan remuk orangtua para siswa. Sungguh menyakitkan bahwa anak-anak sekolah dapat menjadi korban percaloan. Apalagi, praktik penipuan ini bisa masuk ke program sekolah.

Hal ini tentunya membuat pertanyaan besar akan tanggung jawab sekolah dalam menjalankan program-programnya serta melindungi para siswanya.

Kini meski telah sembilan tahun tidak ada kabar dari anak mereka, para orangtua tidak hilang harapan. Mereka bertekad terus berjuang untuk mengembalikan ketiga orang terkasih itu. (Gas/M-1)

BERITA TERKAIT