10 November 2019, 01:30 WIB

Pragmatisme


Ono Sarwono Wartawan Media Indonesia | Weekend

Dok.MI/Ebet
 Dok.MI/Ebet
Ono Sarwono Wartawan Media Indonesia 

MEMBACA dinamika politik hingga saat ini ada yang pantas digarisbawahi dalam konteks perjalanan demokrasi di negeri ini. Moral dan etika belum menjadi roh berpolitik. Pragmatisme, yang kerap dikaburkan dengan agitasi demi bangsa dan negara masih dominan.

Oleh karena itu, kredo bahwa dalam politik tidak ada musuh atau teman abadi, yang langgeng ialah kepentingan, seperti semakin mendapat penguat legalisasi. Kekuasaan (jabatan) menjadi segala-galanya.

Dalam dunia wayang, praktik berpolitik tanpa risi seperti itu pernah dilakukan Suman, alias Trigantalpati. Pada awal karier politiknya, Suman bermusuhan dengan Pandudewanata dalam Sayembara Kunti. Meski telah mengerahkan segala kesaktiannya, ia kalah. Suman meminta ampun dan kemudian malah memilih ikut Pandu ke Astina.

Mengabdi Pandu

Alkisah, Pandu memenangkan sayembara pilih Dewi Kunti, putri kedaton Mandura. Putri boyongan itu diperoleh setelah mengalahkan Narasoma dari negara Mandaraka. Pascaperang tanding itu, Pandu juga mendapatkan Dewi Madrim, adik Narasoma, sebagai 'bonus'-nya.

Ketika perjalanannya kembali ke Astina, belum jauh dari Mandura, Pandu bertemu rombongan dari negara Gandaradesa. Mereka ialah raja muda Prabu Gendara, Gendari, Suman, Anggajaksa, dan Sarabasanta. Mereka merupakan putra-putri mendiang Prabu Suwala, raja Gandaradesa.

Gendara mengatakan, dirinya bermaksud ke Mandura untuk mengikuti Sayembara Kunti. Namun, betapa kecewanya setelah mendengar kabar dari Pandu bahwa sayembara telah usai. Akan tetapi, meski telah selesai, Pandu, yang memenangkan sayembara atas kebaikan Narasoma, mempersilakan Gendara bila berkenan merebut Kunti dari tangannya.

Sebelumnya, Pandu juga terlambat tiba di Mandura. Saat itu sayembara dimenangkan Narasoma yang memiliki ajian Candrabirawa. Namun, Narasoma memberikan kesempatan kepada Pandu yang datang jauh-jauh dari Astina untuk bertarung dengannya. Narasoma akhirnya kalah dan legawa menyerahkan Kunti sekaligus Madrim, adiknya.

Tawaran Pandu diterima Gendara. Maka itu, terjadilah adu kesaktian antarmereka hingga akhirnya Gendara tewas. Suman, yang sejak awal juga kepincut Kunti, meminta Pandu untuk menerima tantangannya.

Dengan senang hati, Pandu memberikan kesempatan kepada Suman. Terjadilah perang tanding. Suman bukan lawan sepadan Pandu, ia cepat-cepat menyerah kalah sehingga terhindar dari kematian.

Anggajaksa dan Sarabasanta memilih tidak ingin mencoba melawan Pandu. Keduanya kembali ke Gandaradesa dengan membawa jasad Gendara. Sementara itu, Suman pasrah kepada Pandu. Pada saat itu Suman berjanji selamanya akan setia kepada Pandu. Gendari, yang jatuh cinta kepada Pandu, mengikuti langkah adiknya, Suman, ke Astina.

Sesampainya di istana, Pandu menyerahkan ketiga putri boyongan, yakni Kunti, Madrim, dan Gendari, kepada kakaknya, Drestarastra, untuk dipilih sebagai pendamping hidupnya.

Drestarastra ialah putra sulung Raja Astina, Prabu Kresnadwipayana. Dia memiliki dua adik laki-laki, Pandu dan Yama Widura. Karena ia merasa tidak mampu menjadi raja akibat buta, ia serahkan takhta yang ditinggalkan bapaknya kepada Pandu.

Dengan berbagai pertimbangan, Drestarastra memilih Gendari. Padahal, sesungguhnya Gendari sangat berharap dipinang Pandu yang telah memikat hatinya. Dari pasangan Drestarastra-Gendari, lahirlah seratus anak yang dikenal dengan nama Kurawa. Sementara itu, Kunti dan Madrim menjadi istri Pandu dan melahirkan lima putra, yang dikenal sebagai keluarga Pandawa.

Politik bumi hangus

Setelah Kresnadwipayana lengser keprabon (turun takhta) dan kembali menjadi petapa di Pertapaan Saptaarga di Wukir Retawu, Pandu menggantikannya sebagai raja Astina. Pandu duduk di singgasana bergelar Prabu Pandudewanata alias Pandudewayana.

Suman yang bukan darah Astina, mendapat berkah menjadi anggota keluarga istana. Pandu kerap memberi kepercayaan kepada Suman dalam urusan-urusan tertentu. Bahkan, mesti tidak memiliki jabatan formal, Suman memiliki kebebasan ke mana-mana.

Itulah yang kemudian dimanfaatkan Suman mengejar impiannya. Ia menginginkan jabatan di pemerintahan. Dengan kecerdikannya, Suman berhasil menggeser Gandamana dari kursi Patih. Pandu kemudian mengangkat Suman sebagai Patih untuk menggantikan Gandamana.

Pada jabatan strategis itu Suman semakin menjadi-jadi dengan agenda besarnya. Ia membuat skenario menumbangkan Pandu dari jabatannya dan mendudukkan keponakannya, Kurawa, sebagai penguasa Astina.

Suman berhasil mengadu domba Pandu dengan Raja Pringgondani, Prabu Tremboko. Keduanya sama-sama gugur di medan laga. Padahal, Pandu dengan Tremboko sejatinya memiliki hubungan kekeluargaan yang sangat erat. Malah Trembono menganggap Pandu sebagai kakak sekaligus gurunya.

Sesungguhnya Pandu gugur akibat keteledorannya sendiri. Ia begitu percaya kepada Suman dengan sumpah setianya sehingga apa pun yang diucapkan dan lakukan dianggap kebenaran adanya. Kebaikan hati Pandu menghilangkan kecurigaannya terhadap Suman.

Berdasarkan paugeran negara, putra Pandu-lah yang semestinya memegang tampuk kepemimpinan Astina. Namun, lagi-lagi, berkat kelicikan Suman, Kurawa yang berkuasa. Malah Pandawa terusir dari Istana Astina sehingga hidup terlunta-lunta yang berkelanjutan di hutan.

Tidak sampai di situ, Suman masih berambisi menghabisi Pandawa dari muka bumi. Pemikirannya, selama Pandawa masih hidup, kekuasaan Duryudana (Kurawa) terancam tidak bertahan. Maka itu, Kurawa terus-menerus menerapkan politik bumi hangus terhadap Pandawa.

Pada akhirnya, skenario Suman mesti berakhir dalam perang Bharatayuda. Ini perang besar antara Pandawa dan Kurawa sesama trah Abisaya. Di Kurusetra itulah Kurawa musnah. Suman pun mati di tangan Bratasena.

Politik itu mulia

Hikmah kisah itu ialah bahwa Suman contoh politikus yang tidak memiliki moral dan etika. Ia pun tidak tahu diri, bahkan dengan menghalalkan cara dalam mencapai tujuan. Kebaikan Pandu yang merangkulnya dari lawan menjadi orang terdekatnya justru menjelma musuh dalam selimut yang menghancurkannya.

Kebengisan Suman tidak berhenti pada gugurnya Pandu dan sukses mengantarkan Kurawa berkuasa, tetapi kebengisannya berlanjut hingga ke putra Pandu, Pandawa. Selama Duryudana kerkuasa, Pandawa terus-menerus menjadi bulan-bulanan politik tengik Suman.

Bila dikontekskan dengan situasi kebangsaan saat ini, kita mesti membangun peradaban politik yang bermartabat. Politik yang bermoral dan beretika karena sejatinya politik itu mulia. Oleh karenanya, jangan jadikan kekuasaan segala-galanya. (M-2)

BERITA TERKAIT