10 November 2019, 01:00 WIB

Berkumpul dalam Cita Rasa Melayu


Fetry Wuryasti | Weekend

MI/Adam Dwi
 MI/Adam Dwi
Suasana Frestro Asia

TAICHING : Hidangan Asia peranakan menjadi pilihan mereka. Tidak semata cita rasa makanan Asia yang autentik, tapi juga konsep kebersamaan melalui makan tengahan.

SUASANA bergaya Betawi modern langsung terasa memasuki Jambuluwuk Thamrin Hotel di Jalan Riau, Jakarta Pusat. Tidak hanya suasana yang modern, saat bertandang ke restoran Frestro Asia-All Day Dining aneka makanan Asia bercita rasa modern bisa ditemukan di sana.

Hotel yang baru dibuka pertengahan Oktober 2019 itu memiliki berbagai pilihan makanan yang bisa menjadi pilihan untuk bersantap siang dengan kolega. Nah saat bertandang ke sini, jangan lupa untuk mencicipi hidangan pembuka berupa roti canai chicken curry. Menurut Chef Jambuluwuk Thamrin Hotel, Hendryan, kudapan ini paling sering dipesan pengunjung. Keunggulan hidangan ini terletak di bumbu kari dan lembaran roti canai yang terbuat dari tepung terigu dan susu kental manis.

"Roti canai ini mengadaptasi dari Malaysia. Dari kultur kita sendiri jarang yang membuat roti canainya. Selama ini, mayoritas orang membeli bahan jadi lembaran rotinya di supermarket. Kami membuat adonannya sendiri," ujar Hendryan di Jakarta, Selasa (5/11).

Secara tekstur, roti ini memiliki bagian pinggir yang garing. Meski dengan ketipisan yang sama, bagian tengah roti canai yang dilipat tetap kenyal dan memiliki rasa manis dari susu.

Pasangan roti berupa saus kari ayam beserta potongan bagian paha ayam. Sausnya pun terbuat dari olahan bawang putih, bawang merah, bunga lawang, biji pala, dan rempah-rempah Indonesia lainnya. Dengan banyaknya rempah, tak heran kari kental berwarna kuning kecokelatan ini memiliki rasa rempah yang kental khas kari Melayu Sumatra, namun tidak pedas.

Makan tengah

Beralih ke hidangan pembuka, di sini makanan yang dihidangkan berupa makan tengah atau bisa disantap bersama. Hidangan unggulan di sini ialah crispy beef dan ayam sambal matah.

Hidangan ini berhasil menyampingkan bayangan daging sapi yang alot ketika diolah dengan bumbu basah. Ternyata pengolahannya spesial, irisan daging sapi yang telah dimarinasi (direndam dalam cairan bumbu bumbu khusus) itu dilapisi tepung. Dengan cara ini, rasa daging sapi tidak hilang, namun renyah di bagian luarnya.

Sebagai sausnya, Chef Hendryan memilih menggunakan saus soya Singapura yang memiliki rasa manis dan asin. Saus itu dimasak bersama dengan serutan wortel, paprika merah, paprika hijau, dan bawang bombay. Ketika saus dan daging dikombinasikan, terasa ringan dan pas.

Adapun pada ayam sambal matah, campuran potongan sambalnya menyerupai sambal potong sayur dan cabai ala Thailand. Meski mirip, unsur khas Bali masih terlihat. Apalagi dengan tambahan kecombrang memberikan rasa khas, tapi tidak terlalu keras.

Untuk santapan ini, Chef Hendryan dengan tegas memberikan rasa pedas nan segar pada tiap kunyahannya. Kesegaran itu berasal dari irisan tipis bawang merah dan cabai rawitnya.

Streetfood

Beralih ke makanan penutup, lagi-lagi berupa camilan ala foodstreet Malaysia yaitu roti canai tisu cokelat lava. Tidak semata rasa cokelat, tersedia juga varian tisu keju dan cokelat kacang.

Roti tisu ini berupa gulungan lebih tipis dari Canai, yang dibuat berdiri seperti gunung dengan tinggi sekitar hampir dua jengkal tangan orang dewasa. Pada permukaan luar, biasanya dilapisi melingkar susu cokelat kental manis ataupun keju dan susu putih kental manis.

Setelah bersantap, coba minuman unggulan mereka. Dengan menyesuaikan situasi Jakarta yang terik, restoran itu menyediakan minuman unggulan yakni Blue Lagoon Squash yakni perpaduan sari nanas dan passion fruit dalam sirup Blue Curacao Monin yang dicampur dengan soda.

Minuman ini disajikan dengan crushed ice atau hancuran batu es agar lebih cepat dingin. Minuman ini diberi topping buah ceri dan daun mint. Dari tampilan memang awalnya akan terpisah antara sirup biru di bawah dengan soda pada lapisan tengah ke atas. Maka untuk meminumnya harus diaduk agar rasanya tercampur. Rasanya menjadi agak asam ketika telah menyatu.

"Penggunaan crushed ice lebih untuk memunculkan sensasi dan serpihan batu es di dalam mulut," jelas Food & Beverage Supervisor, Hondo.

Di samping itu, minuman yang menjadi favorit dan sering di take-away yakni es kopi susu pandan. Campuran sirup pandan, susu full cream, lalu dimasukkan ice cube, dituang espresso, dan ditutup dengan foam sampai ke ujung gelas. Bisa saja campuran diganti ke skim milk, namun efek rasa espresso akan menjadi lebih kuat.

"Rasa manisnya sudah berasal dari sirup pandan. Jadi kami tidak menambahkan gula lagi," jelas Hondo.

Corporate Marketing Communications Manager Jambuluwuk Hotel & Resorts, Martha W Thomas menjelaskan konsep masakan peranakan yang dihadirkan hotel ini melihat pangsa pasarnya yang sedang meningkat. Masyarakat saat ini sudah mulai bosan dengan aneka hidangan Chinese food, maupun masakan Jepang. Saat ini rasa masakan peranakan dirasa lebih masuk dengan cita rasa lidah orang Indonesia.

"Jambuluwuk Thamrin Hotel ini jatuhnya memang lebih bergaya Betawi. Di mana pun kami membangun, kami mengangkat dari sisi budaya daerah. Karena berlokasi di Jakarta, budaya Betawi yang kami angkat. Betawi itu banyak campurannya dari Tiongkok, Melayu, dan segala macam. Kami ambil titik tengahnya. Makanya kenapa menunya lebih banyak ke Asia."

Aslinya, Frestro adanya di Bali dan mengusung makanan western. Hingga diputuskan dibawa ke Jakarta dengan konsep makanan Asia menyesuaikan lidah masyarakat Jakarta.

Fresto Asia ini memang sengaja mengonsepkan makanan sharing,karena porsi makan tiap orang berbeda. Di samping itu, konsep makan tengah membuat tamu berkumpul dan bersantap.

"Restoran ini nempel dengan hotel karena ini bukan hanya untuk tamu menginap hotel, melainkan juga buat umum, pekerja perkantoran, orangtua yang mengantar anak sekolah, masyarakat yang selepas car free day. Kami buka all day," tukas Martha. Kisaran makanan yang disajikan Fresto mulai dari Rp85 ribu-Rp100 ribuan. (M-3)

BERITA TERKAIT