09 November 2019, 09:05 WIB

Restorasi dan Misi Rekonsiliasi NasDem dan Jokowi


Gantyo Koespradono, Mantan Jurnalis, Pemerhati Sosial Politik | Opini

MI/Caksono
 MI/Caksono
Gantyo Koespradono, Mantan Jurnalis, Pemerhati Sosial Politik

KONGRES II Partai NasDem yang digelar sejak kemarin (Jumat 8/11/2019) hingga Senin (11/11/2019) bukan saja menjadi pusat perhatian kader partai itu, melainkan juga masyarakat, khususnya pengamat, tidak terkecuali para penyinyir.

Mendapat kehormatan sebagai peninjau di arena kongres, saya mengamati jalannya pembukaan kongres. Saya sengaja duduk di kursi deretan paling belakang agar leluasa mengamati apa yang terjadi di sana.

Ratusan wartawan dari media dalam dan luar negeri meliput kongres yang diklaim panitia dihadiri 8.000 orang. Semoga tidak lebih dan berubah menjadi 8.000.000 lantaran Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, hadir dan memberikan sambutan di forum tersebut.

Para wartawan seolah menjadi wakil "peserta" kongres yang berada di luar Jakarta Internasional Expo (JIE) Kemayoran, tempat berlangsungnya kongres.

Para "peserta" (saya sengaja menggunakan tanda petik) yang saya maksud adalah kader partai lain, pengamat, pakar, warganet, penyindir dan penyinyir.

Maklum, mereka juga merasa suaranya ingin didengar meskipun dalam pemilu tempo hari tidak memilih partai yang kini punya 59 kursi di DPR dan masuk dalam kelompok partai papan atas.

Bahkan ada pula yang tiba-tiba menjadi "mendadak NasDem" setelah mengetahui -- dan kemudian menyayangkan -- Partai NasDem lewat Surya Paloh melaksanakan misi restorasi (salah satu unsurnya memulihkan) mendekati Anies Baswedan dan PKS, partai yang selama ini dianggap sebagai biang kerok intoleransi.

Kehadiran Anies ke arena kongres, apakah ada yang istimewa? Menurut saya tidak. Ia datang ke sana hanya sebagai gubernur yang kebetulan menjadi "tuan rumah" lantaran provinsi DKI Jakarta dipakai NasDem untuk menggelar kongres yang pastinya dihadiri oleh orang-orang daerah.

Di forum itu, Anies hanya memberikan sambutan ucapan selamat datang dan berkongres kepada para peserta sambil (maaf) basa-basi bahwa ke depan Partai NasDem-lah yang diyakini mampu mempererat tali persatuan bangsa. Benar juga sih.

Saat Surya Paloh berpidato (seperti biasa berapi-api), ia sama sekali tidak menyinggung sosok Anies dan tata katanya ketika ia memberikan sambutan.

Jadi buat saya, daya pikat Anies di mana pun ia berada, tetap pada permainan dan perencanaan anggaran lem Aica Aibon, tata kata (bukan tata kota) dan terakhir proyek jembatan penyeberangan orang tanpa atap. Maklum, sudah mendekati musim hujan dan warga Jakarta merindukan air dari langit setelah berbulan-bulan disengat sinar matahari yang amat terik.

Seperti yang sudah diperkirakan banyak orang dan ditunggu-tunggu, terutama oleh media, dalam kongres, Paloh akhirnya berbicara juga soal sikap partainya yang belum lama ini beranjangsana ke Partai Keadilan Sejahtera. Paloh bahkan berangkulan dengan Sohibul Iman, presiden PKS.

Sangat mungkin, kongres dan Paloh tidak akan menjadi seksi jika Presiden Jokowi tidak menyinggung silaturahmi dan rangkulan Paloh dengan Sohibul di PKS saat Jokowi menghadiri ulang tahun ke-55 Partai Golkar beberapa hari lalu.

Saat itu Jokowi berkata seperti ini: "Para ketua umum partai yang hadir. Bapak Surya Paloh yang kalau kita lihat malam hari ini lebih cerah dari biasanya. Sehabis pertemuan beliau dengan Pak Sohibul Iman di PKS, saya tidak tahu maknanya tapi rangkulannya tidak biasa. Tidak pernah saya dirangkul seperti itu."

Kata-kata Jokowi di atas langsung disambar oleh para penyinyir dan "lawan politik" NasDem sebagai Jokowi sedang menyindir Paloh; Jokowi marah kepada Paloh; NasDem munafik, berpijak di dua kaki; NasDem akan bersikap oposisi. Ada pula yang diam-diam "ngarep" tiga menteri asal NasDem segera keluar (dikeluarkan) dari Kabinet Indonesia Maju.

Bahkan ada yang bermain kompor dan seolah-olah menasihati Paloh agar jangan anggap remeh kata-kata Jokowi. Nasihat dan mengadu domba dalam kasus ini rupanya sangat tipis. Surya Paloh hadir dalam acara HUT ke-55 Golkar. Saat itu saya menduga wajah Paloh tidak sedang galau, apalagi cemberut. Ketika Jokowi berkata seperti itu, Paloh bahkan ceria tertawa.

Jokowi orang Jawa. Andai saat itu ia melihat Paloh sedang cemberut, tentu ia tidak akan berkata-kata seperti itu. Oleh sebab itu saya sependapat dengan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang memaknai kata-kata Jokowi bukan sebagai sindirian, melainkan  "gojekan" (guyonan) khas ala Pak Jokowi. Bak berbalas pantun, Paloh saat membuka kongres partainya, juga menyinggung soal perlunya silaturahmi kebangsaan tanpa spesifik menyebut PKS dan ucapan Jokowi.

Berkata Surya Paloh: "Bangsa ini sudah capek dengan segala intrik yang mengundang sinisme satu sama lain. Curiga satu sama lain. Bangsa model apa yang seperti ini. Tingkat diskursus politik yang paling picisan di negeri ini adalah hubungan rangkulan tali silaturahmi pun dimaknai dengan berbagai macam tafsir dan kecurigaan."

Dalam tempo singkat, kata-kata Paloh yang demikian ditafsirkan bahwa Paloh sedang melawan Jokowi; Paloh membalas dengan pedas kata-kata Jokowi. Aha, politik adu domba ala Belanda di zaman penjajahan pun dimainkan. Benarkah Paloh melawan dan menantang Jokowi? Untuk menjawabnya saya coba menyimak ulang dan membaca lagi transkrip mentah pidato Surya Paloh. Saya tidak membaca teks, tapi konteks.

Hasilnya? Sama sekali tidak ada unsur bahwa Paloh melawan, apalagi menantang. Apa yang disampaikan Paloh adalah otokritik buat semua partai politik (termasuk NasDem) yang mengaku berpaham kebangsaan nasionalis dan mencintai Pancasila, tapi tidak pernah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Ayolah, negeri kita ke depan banyak menghadapi tantangan. Tahun 2020 akan ada turbulensi ekonomi. Saatnya kita melakukan rekonsiliasi. Mari kita bergandeng tangan, memperteguh ikatan tali persaudaraan. Amalkan sila-sila Pancasila dalam kehidupan nyata, termasuk dalam berpolitik dan berdemokrasi."

Setidaknya benang merah seperti itulah yang saya tangkap dari pernyataan Paloh yang meledak-ledak dan kalimatnya sering tidak beraturan itu.

Sayang memang, saat berpidato, Paloh tidak mendiskripsikan atau mencoba kembali menjelaskan makna restorasi yang diusung partainya. Padahal soal ini penting diingatkan lagi dalam hajatan kongres.

Restorasi yang diusung dan akan terus dilakukan Partai NasDem menurut sepengetahuan saya mencakup empat kata kerja sekaligus kata kunci perjuangan partai ini, yaitu memperbaiki, mengembalikan, memulihkan, dan mencerahkan.

Saya membaca apa yang dilakukan NasDem dan Paloh di luar disebut dengan istilah yang berkonotasi negatif "manuver" dengan mendatangi PKS, berangkulan dengan Sohibul Iman dan menepuk pundak Anies adalah upaya mengaplikasikan restorasi.

Paloh ingin memperbaiki hubungan antarparpol yang selama ini "rusak" selama bertahun-tahun saat kita menggelar Pemilu Serentak yang di dalamnya ada pemilihan kepala daerah, anggota legislatif dan presiden.

Diakui atau tidak rusaknya hubungan di antara elite politik pasti berimbas pada rusaknya hubungan di antara komponen masyarakat. NasDem ingin memperbaiki dan mengembalikan ini semua pada tempatnya.

Paloh lewat Partai NasDem juga rindu memulihkan hubungan yang selama ini terputus antarpartai, antar-elite partai, dan antaranak bangsa pasca Pilpres 2014 dan 2019 yang sangat melelahkan.

Mengapa harus Anies dan PKS? Menurut saya Anies dan PKS adalah simbol atau representasi rusaknya hubungan dan kekerabatan kita sebagai bangsa.

Lewat Pilkada DKI Jakarta dua setengah tahun lalu, terpilihnya Anies yang didukung PKS membuktikan bahwa gara-gara politik identitas, Indonesia ternyata belum siap berdemokrasi secara benar dan adil.

Persoalan itu juga harus diperbaiki, dipulihkan dan dikembalikan kepada tempat yang seharusnya, sehingga demokrasi Indonesia kelak benar-benar mencerahkan.

Diakui atau tidak, menurut saya, Presiden Jokowi telah melakukan restorasi (memperbaiki, mengembalikan, memulihkan, dan mencerahkan).

Kenekatannya mengajak (merangkul) rival beratnya saat pilpres, Prabowo Subianto, masuk ke dalam kabinetnya sebagai menteri pertahanan adalah wujud restorasi untuk rekonsiliasi.

NasDem lewat Paloh giliran mendekati dan merangkul Anies dan PKS. Dampaknya, sama-sama kena nyinyir. Inilah konsekuensi dari upaya rekonsiliasi seperti yang pernah dilakukan Nelson Mandela di Afrika Selatan.

Beruntung dalam mengaplikasikan restorasi untuk rekonsiliasi itu, NasDem dan Paloh punya keberanian, lantaran seperti dikatakan Paloh, dalam komunikasi politik, Partai NasDem sangat cair dan tidak ada hambatan psikologis apa pun, baik terhadap partai pengusung Jokowi maupun yang ada di luar pemerintahan.

Semoga semangat Jokowi dan Paloh melakukan restorasi untuk rekonsiliasi bisa diikuti oleh partai-partai lain. Berlomba-lomba merangkul pihak yang selama ini dianggap musuh, mengapa tidak?

 

BERITA TERKAIT