08 November 2019, 21:16 WIB

Cerah


Fitriana MS- Praktisi Komunikasi | Opini

Dok. Pribadi
 Dok. Pribadi
Fitirana M, praktisi Komunikasi

 

PRESIDEN Joko Widodo memuji wajah Ketua Umum Partai NasDem lebih cerah dari biasanya, sehabis pertemuan dengan Presiden PKS Sohibul Iman di PKS.

Tak hanya itu, Jokowi juga menyinggung soal rangkulan Paloh dan Sohibul Iman yang tidak biasa. Kata Jokowi, dia belum pernah dirangkul seerat itu.

Pernyataan Presiden kemudian banyak dikutip. Pernyataan itu bahkan ditambahkan embel-embel sebagai sindiran bukan pujian.

Saya kemudian berandai-andai. Seandainya saya memiliki seorang sahabat, lumayan akrab, kerap berjumpa. Kemudian dia ingin memberikan penilaian terhadap satu langkah yang saya lakukan. Kira-kira, hanya mengira-ngira, apabila dia kurang berkenan dengan langkah saya, apakah dia akan mengatakannya di depan umum, atau menyampaikan secara lebih personal? Apalagi, sahabat saya selama ini saya kenal sebagai teman yang santun.

Perandaian saya mengarah, sahabat saya, tentunya, akan lebih memilih menyampaikan pandangannya secara pribadi ketimbang di depan umum.

Karena itu, saya melihat dalam konteks dua sahabat ini,  kata-kata Jokowi mengenai wajah Surya Paloh yang lebih cerah setelah bertemu dengan Presiden PKS sebagai sebuah pujian ketimbang sindiran. Tapi, bukankah kata cerah memang bermakna positif? Saya bayangkan, bagaimana kalau disebut muram atau suram atau cemberut? Kira-kira imbuhan apa yang akan mengiringi kata-kata itu?

Dalam melihat yang benar dan kebenaran itu, saya teringat Robert N Entman, ahli studi analisa framing. Entman melihat framing dalam dua dimensi besar: seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas.

Penonjolan adalah proses membuat informasi menjadi lebih bermakna, lebih menarik, berarti, atau lebih diingat oleh khalayak. Dalam praktiknya, framing dijalankan oleh media dengan menyeleksi isu tertentu dan mengabaikan isu yang lain. Penonjolan tersebut menggunakan berbagai strategi wacana, yakni penempatan yang mencolok, pengulangan, pemakaian grafis yang mendukung, dan memperkuat penonjolan dengan pemakaian label tertentu yang dilakukan ketika menggambarkan orang yang diberitakan. Terjadi asosiasi terhadap simbol budaya, generalisasi, dan simplifikasi.

Cara pandang atau perspektif itu pada akhirnya menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan dihilangkan, serta hendak dibawa ke mana berita tersebut.

Kembali menyoal cerah, yang ingin saya sampaikan kenapa kata-kata cerah disandingkan dengan kata-kata sindiran. Tidak melihatnya sebagai pujian yang tulus ketimbang selalu curiga. Tidakkah di situ terjadi penonjolan hasil framing?

BERITA TERKAIT