08 November 2019, 17:46 WIB

Sejak 2016, Siswa SDN Kepiketik di NTT Belajar di Gubuk Bambu


Alexander P. Taum | Nusantara

MI/Alexander P. Taum
 MI/Alexander P. Taum
Siswa kelas IV SDN Kepiketik melaksanakan kegiatan belajar mengajar

MIRIS, di Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, masih ada siswa melaksanakan kegiatan belajar mengajar di ruang kelas tak layak.
Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kepiketik yang berada di Desa Persiapan Mahe Kelan, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, masih melaksanakan proses belajar menagajar di ruangan kelas yang dibangun dari bamboo.

Meski dinding dua unit ruang kelas itu sudah reot dimakan usia, namun proses belajar menagajar di sekolah dasar Negeri itu tetap berlangsung selama 4 tahun terhitung sejak 2016 lalu.
 
Sejak 4 tahun silam  hingga sekarang, dua ruangan kelas yang  sudah reot itu dipergunakan oleh siswa kelas 4 dan kelas 5. Pantuan media indonesia, Jumat (8/11) pagi, Nampak belasan siswa kelas IV dan  kelas V belajar bersama 2 orang guru di ruangan yang sangat darurat. Ruangan kelas itu terbuat dari cacahan bambu yang sudah berlubang dan rusak akibat terpaan angin kencang.

Sekolah Dasar Negeri ini hanya mempunyai 2 ruangan kelas permanen. Ruan permanen itu dipergunakan untuk  ruangan kelas VI dan kelas II, serta ruang guru, ruang perpustakaan dan ruang kepala sekolah. Selain itu, ada juga bangunan permanen berupa 2 ruangan toilet sekolah.

Hampir tak ada fasilitas yang memadai di sekolah ini. Buku – buku pelajaran pun dipakai secara bersama oleh 2 sampai 3 siswa. Sedangkan buku pegangan guru juga sangat minim.

Sekolah ini juga belum memiliki akses listrik sehingga untuk penginputan data Dapodik, guru yang merangkap operator sekolah mesti ke Kota Maumere.

Sedangkan dalam 2 rungan yanga ada di bagian Selatan yang dibagun dari dinding tembok pun terlihat didalam ruangan dibagi lagi sekat dari bambu, supaya dipergunakan untuk ruang belajar siswa dan, ruang guru dan ruang kepala sekolah. Ruangan  ini dibuat saat tim akreditasi datang memeriksa sekolah tersebut.

Guru Kelas V SDN Kepiketik, Martha Matrona mengatakan dua ruangan kelas darurat ini hanya bisa dipergunakan saat musim panas. Sedangkan saat musim penghujan nanti, para siswa akan berdesak – desakan belajar di 2 ruangan kelas permanen bersama siswa kelas lainnya.

“Ruangan permanen hanya ada untuk ruangan kelas 6 dan kelas 2. Ruangan kelas 2 juga disekat untuk ruang guru, kepala sekolah dan perpustakaan. Ruangan kelas 6 juga dipakai untuk ruang UKS dan ruangan tata usaha,”ungkap.

Dirinya menambahkan, sekolah ini minim sekali mendapat perhatian dari Pemkab Sikka sehingga sampai saat ini masih mempergunakan ruangan darurat sebagai ruangan belajar mengajar.  Dirinya berharap, ada perhatian dari Pemkab Sikka terhadap sekolah negeri ini.

Sementara Maria Nona Ice salah seorang murit kelas 5 SDN Kepiketik ditemui media ini, mengaku senang belajar disekolah ini, karena dekat dengan rumahnya yang ada di kampung kepikketik.

"Walau pun belajar diruangan seperti ini kami merasa nyaman, karena sekolah ini sudah dekat dengan rumah kami",ungkap nya dengan nada polos.

Maria Nona Ice mengaku, saat musim hujan dirinya bersama teman sekelanya, terpaksa harus pindah untuk belajar diruang kelas 6 sebap atap dan diding ruang kelasnya sudah bocor.

Kami mengharapkan kepada pemerinta supaya bisa mempwrhatikan kami, berilah kami fasilitas yang layak seperti yang dirasakan oleh siswa dan siswi di sekolah yang lain.

Sementara itu, Kepala Sekolah SDN Kepiketik, Ignasius Dode mengatakan, ruangan kelas darurat sudah dipergunakan selama 4 tahun lamanya untuk ruangan kelas bagi siswa kelas IV dan kelas V.

Lanjutnya, jika musim hujan maupun saaat terjadi angin kencang, maka proses belajar akan terhenti dan para siswa juga guru dipindah ke ruangan kelas yang baik.

“Kalau angin kencang dan hujan, akan bergabung dengan siswa kelas  lain di ruangan kelas yang baik untuk menghindari terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ungkapnya.

Lanjutnya, terkait ruangan kelas yang masih darurat, ia berharap ke depan ada perhatian dari Pemkab Sikka sehingga belasan siswa yang ada bisa belajar di ruangan kelas yang memadai.

“Ruangan kelas yang dipakai 2 rombongan belajar ini sesungguhnya tidak layak pakai. Kami bersama orang tua siswa akan perbaiki gunakan bahan lokal seperti pelupu dan mengganti tiangnya. Sambil menunggu bantuan dari pemerintah,” ujarnya.

Sekolah Negeri ini memang memiliki jumlah siswa yang terbatas. Saat ini, total siswa sebanyak 31 orang. Tidak ada murid untuk kelas 1 dan kelas 3.

Sedangkan murid kelas 2 sebanyak 5 orang, kelas 4 ada 6 orang, kelas 5 ada 10 orang, serta 13 orang duduk di kelas 6. Sedangkan kelas 1 dan kelas 3 muridnya tidak ada.

Walaupun dengan murid yang minim dan jumlah guru sebanyak 7 orang terdiri dari guru ASN 2 orang dan guru honor 5 orang, pihaknya tetap berusaha untuk mempertahakan sekolah ini.

Hal ini dikarenakan, sekolah ini sangatlah penting bagi anak – anak di Kampung Kepiketik. Jika tidak ada sekolah ini, anak – anak Kampung Kepiketik akan berjalan kaki lebih dari 6 Km menuruni bukit dan kebun untuk bisa bersekolah. (OL-4)

BERITA TERKAIT