07 November 2019, 20:09 WIB

Tiongkok-AS Sepakat Hapus Bea Masuk Secara Bertahap


Melalusa Sushtira Khalida | Internasional

AFP/Greg Baker
 AFP/Greg Baker
Juru bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok Gao Feng

TIONGKOK dan Amerika Serikat (AS) sepakat akan menghapus tarif yang diberlakukan kedua negara secara bertahap.

Juru Bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok Gao Feng mengatakan,kedua negara semakin dekat mencapai perjanjian perdagangan tahap pertama setelah negosiasi yang berlangsung selama dua minggu terakhir.

“Para negosiator top melakukan diskusi yang serius dan konstruktif, dan setuju untuk menghapus tarif tambahan secara bertahap karena kemajuan dicapai pada perjanjian tersebut,” terang Feng pada Kamis (7/11).

Satu syarat penting untuk perjanjian perdagangan terbatas, tegas Feng, adalah AS dan Tiongkok harus menghapus jumlah bea yang sama pada saat bersamaan.

"Jika Tiongkok-AS mencapai kesepakatan dagang tahap pertama, kedua belah pihak harus memutar kembali tarif tambahan yang ada dalam proporsi yang sama secara keseluruhan berdasarkan isi perjanjian," kata Gao.

Baca juga : Tiongkok Berjanji Perluas Akses Pasar Tiongkok

Pelaku pasar mengharapkan kedua raksasa ekonomi dunia itu dapat menandatangani kesepakatan dagang tahap pertama akhir bulan ini.

Namun seperti dilansir Reuters pada Rabu (6/11), pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping kemungkinan dapat ditunda hingga Desember mendatang.

Di sisi lain, para pengamat meragukan kesepakatan dagang tahap pertama akan secara efektif berhasil mengatasi ketegangan ekonomi antara AS dengan Tiongkok. Mereka menyebut kedua raksasa ekonomi tersebut membutuhkan perjanjian yang lebih komprehensif.

Pemerintahan Trump telah memberikan tekanan yang meningkat terhadap Tiongkok untuk mengekang kebijakannya dalam memberikan subsidi besar-besaran kepada perusahaan-perusahaan milik negara dan menghentikan transfer teknologi AS ke perusahaan-perusahaan Tiongkok.

Persaingan antara AS dan Tiongkok dengan memberlakukan tarif barang satu sama lain, dimulai sekitar sejak awal 2018. Saat ini persaingan keduanya menunjukkan tarif yang mahal pada perdagangan bernilai ratusan miliar dolar.(CNBC/Bloomberg/OL-7)

BERITA TERKAIT