07 November 2019, 19:49 WIB

Naturalisasi Pemain Asing Ada yang Salah Kaprah


Rahmatul Fajri | Sepak Bola

ANTARA/Nova Wahyudi
 ANTARA/Nova Wahyudi
Pesepak bola asal Brasil Fabiano da Rosa Beltrame menghadiri rapat kerja Komisi X DPR dengan Kemenpora di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (7/11).

PEMAIN sepak bola yang dinaturalisasi menjadi warga negara Indonesia hari ini bertambah. Terbaru bek Persib Bandung Fabiano da Rosa Beltrame resmi menyandang sebagai WNI setelah melalui proses persetujuan dari DPR.

Pemain berdarah Brasil itu telah lama berkecimpung di sepak bola Indonesia. Selama 14 tahun di Indonesia, ia telah memperkuat sejumlah klub tanah air, seperti Persela Lamongan, Persija Jakarta, Arema Cronus, Bali United, hingga Persib Bandung.

Meski usianya yang tak lagi muda, yakni 37 tahun, tetapi Fabiano masih menjadi andalan di lini belakang klub di Tanah Air. Persib Bandung pun rela menunggu Fabiano menjadi WNI agar bisa memperkuat klub. Sebelumnya, kuota 4 pemain asing telah terpakai dan Fabiano belum bisa dimainkan di Liga 1.

PSSI sebagai induk sepak bola tanah air pun memberikan pandangan terhadap naturalisasi Fabiano. Ketum PSSI Mochamad Iriawan atau Iwan Bule mengatakan Fabiano akan berguna bagi sepak bola Indonesia.

"Banyak ilmu yang diambil dari yang bersangkutan, ilmu teknik sepak bola, itu yang disampaikan pihak klub, kemudian dimungkinkan setelah selesai (pemain), ia bisa menjadi pelatih yang ada di kita," ungkap Iwan Bule, ketika rapat dengan Komisi X DPR, Kamis (7/11).

Sementara itu, pengamat sepak bola Mohamad Kusnaeni mengaku proses naturalisasi di ranah sepak bola Indonesia saat ini telah salah kaprah. Ia mengaku tak menolak adanya proses naturalisasi, namun ia menilai saat ini tujuan naturalisasi telah melenceng dari kodratnya untuk membantu prestasi tim nasional.

"Sering terjadi salah kaprah. Naturalisasi tujuannya baik kalau untuk memperkuat tim nasional. Saya tidak antinaturalisasi, tapi yang dinaturalisasi harus jelas, bukan sekadar melihat tujuan klub," ungkap Kusnaeni.

Soal peluang Fabiano memperkuat tim nasional Indonesia, ia mengatakan tentu itu merupakan hak pelatih. Namun, ia mengatakan siapa pun pelatihnya tentu melihat usia menjadi pertimbangan.

"Kalau soal posisi di timnas itu pelatih yang menilai. Tapi, pelatihnya tentu bertanya, masa sih sudah 37 tahun masih di main timnas. Kalau tetap dimainkan, ya, kita bisa apa, paling tertawa saja," ujar Kusnaeni. (OL-09)

BERITA TERKAIT