08 November 2019, 07:00 WIB

Eksplorasi Kunci Tingkatkan Ketahanan Energi


mediaindonesia.com | Ekonomi

Istimewa
 Istimewa
Menemukan cadangan minyak dan gas bumi (migas) menjadi agenda utama Kementerian ESDM.

MENDORONG eksplorasi guna menemukan cadangan minyak dan gas bumi (migas) menjadi agenda utama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dalam mewujudkan ketahanan energi nasional. Tanpa itu, kemandirian energi akan sulit dicapai. Karena sebagian pasokan migas masih berasal dari impor.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri, pemerintah harus melakukan impor sebanyak kurang lebih 600.000 barel per hari (bph) dari total kebutuhan sebesar 1,4 juta bph. (Okezone, Maret 2019). Sementara sekitar kurang lebih 800.000 bph dipenuhi dari produksi nasional. Kegiatan impor tersebut akan terus mengalami peningkatan apabila tidak dibarengi dengan temuan cadangan migas baru.

Untuk itu, berbagai terobosan telah dilakukan guna meningkatkan kegiatan eksplorasi. Di antaranya dengan memperbaiki kemudahan berusaha (ease of doing business) di sektor hulu migas termasuk penyederhanaan regulasi dan izin di kementerian dan lembaga (K/L). Pemerintah pun kemudian melakukan beberapa upaya untuk menyelesaikan masalah perizinan.

Melalui Permen ESDM No.29/2017, Kementerian ESDM menyederhanakan jumlah perizinan usaha migas dari sebelumnya sekitar 104 perizinan menjadi tinggal 6 perizinan. Tahun ini, kemudahan berusaha dipastikan bakal semakin dipermudah seiring dengan keinginan pemerintah meningkatkan investasi.

Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Presiden Joko Widodo saat menyampaikan Pidato Kenegaraan pada 16 Agustus lalu. Kala itu Presiden menyatakan bahwa regulasi yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman harus dihapus. “Regulasi yang tidak konsisten dan tumpang tindih antara satu dan lainnya harus diselaraskan, disederhanakan, dan dipangkas,” ungkap Presiden saat itu.

Untuk merespons keinginan Presiden, maka harus ada sinergi antara semua pemangku kepentingan. Mulai kementerian dan lembaga lain seperti TNI, Kepolisian, Badan Pertanahan Nasional, Pemerintah Provinsi, hingga Pemerintah Kabupaten/Kota.

“Masalah regulasi dan perizinan ini akan terus diperbaiki supaya tidak menjadi kendala investor dalam merealisasikan komitmen eksplorasi dalam kegiatan usaha hulu migas,” ujar Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto di Jakarta, baru-baru ini.

Di samping memangkas perizinan, upaya lain meningkatkan kegiatan eksplorasi juga dilakukan melalui Komitmen Kerja Pasti (KKP) Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang wilayah kerjanya mendapatkan perpanjangan kontrak. Total, dana KKP yang terkumpul telah mencapai USD2,4 miliar. Aktivitas dana komitmen kerja pasti diarahkan untuk eksplorasi di dalam wilayah kerja dan area terbuka.

KKP merupakan dana yang berasal dari KKKS sebagai investasi yang akan digunakan untuk meningkatkan produksi dan eksplorasi cekungan-cekungan baru. Jika dalam waktu lima tahun KKKS tidak merealisasikan rencana kerjanya, dana dari KKP tersebut bakal tetap masuk ke kas negara.

Tidak hanya itu, SKK Migas juga melakukan sejumlah roadshow ke berbagai negara guna menawarkan investasi hulu migas di Indonesia. Kegiatan roadshow exploration tersebut dilakukan di Amerika Serikat, Tiongkok, Australia, Korea, Singapura, dan Thailand.

SKK Migas juga telah mengidentifikasi 10 potensi cadangan migas raksasa yang ada di Indonesia. Kesepuluh potensi tersebut antara lain Nort Sumatera (Mesozoic Play), Center of Sumatera (Basin Center), South Sumatera (Fracture Basement Play) dan Offshore Tarakan. Selain itu, NE Java-Makassar Starit, Kutai Offshore, Buton Offshore, Nothern Papua (Plio-Pleistocene & Miocene Sandtonce Play), Bird Body Papua (Jurassic Sandstone Papua), dan Warim Papua.

Produksi

Di bagian lain, SKK Migas juga terus melakukan terobosan jangka panjang untuk meningkatkan produksi migas. Strategi itu dilakukan dengan cara mempertahankan tingkat produksi eksisting melalui manajemen reservoir, eksekusi work program secara cepat dan lebih agresif, mempercepat perpanjangan wilayah kerja, mempercepat investasi wilayah kerja transisi, percepatan capaian lifting, reaktivasi sumurdan lapangan idle dan suspended, re-evaluasi rencana pengembangan serta implementasi inovasi dan teknologi tepat guna.

Terobosan lain, SKK Migas juga menerapkan strategi melalui teknologi Enhaced Oil Recovery (EOR). Terdapat 129 lapangan yang rencananya akan dilakukan EOR dengan anggaran sebesar lebih kurang US$446 juta. Dengan sejumlah strategi tersebut diharapkan produksi migas dapat ditingkatkan.

Berdasarkan data SKK Migas, realisasi produksi migas sampai akhir Agustus 2019 mencapai 2,039 juta barel setara minyak (barrel oil equivalent per day/boepd) dengan rincian sebesar 754.000 barel per hari (barel oil per day/bopd) dan gas 1,28 juta boepd.

Investasi hulu migas tersebut diproyeksikan akan terus meningkat, mengingat terdapat 42 proyek utama dengan total investasi USD43,3 miliar hingga 2027 mendatang. Total produksi dari 42 tersebut mencapai 1,1 juta boepd. (RO/OL-10)

BERITA TERKAIT