07 November 2019, 17:10 WIB

Musisi Pontianak Ciptakan Alat Musik Mutan


Dhiandra Mugni, Glory Natha, dan Cherrie Marani | Weekend

Metro TV/ Cherrie Marani
 Metro TV/ Cherrie Marani
 Juan Aminandi memainkan alat musik mutan ciptaannya di Pekan Komponis Indonesia 2019.

SEORANG lelaki dengan gaya rambut Afro tampak menjadi pusat perhatian pengunjung Pekan Komponis Indonesia (PKI) 2019, Selasa (5/11). Meski gaya rambut itu unik, yang sesungguhnya jadi minat pengunjung adalah alat musik yang dimainkan sang pria.

Sekilas berbentuk seperti kecapi, namun alat berdawai itu jauh lebih ramping. MUJ4N (dibaca mutan) begitulah nama alat musik yang disematkan oleh Juan Aminandi, sang penciptanya sekaligus yang memainkan di sesi "Alat Musik Baru" di gelaran PKI 2019 tersebut.
 
Juan yang merupakan musisi asal Pontianak itu menjelaskan alat itu terinspirasi dari alat musik tradisional dari suku Dayak yaitu Sape' dan Selodang. Pekan Komponis Indonesia sendiri dilaksanakan sejak Minggu (3/11) sampai dengan Rabu (6/11) di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Selain MU74N, Pameran Alat Musik Baru ini menampilkan empat alat musik baru lainnya yang merupakan inovasi anak bangsa, antara lain Modular Synthesizer karya Firzi O dari Jakarta, Limbah Berbunyi atau trash instrument karya J. Moong Santoso dari Yogyakarta, Wii Remote As Motion Controller With MAX/MSP and Ableton karya Yohanes Kelvin dari Tangerang, serta Acoustic Analog Digitally karya Julian Abraham "Togar" dari Yogyakarta.

Arham Aryadi, Koordinator Pameran Alat Musik Baru, menyatakan konsep pameran alat musik baru ini memiliki gaya yang berbeda-beda pada tiap alat musik tersebut.  

"Konsepnya ini memang merupakan pameran alat musik baru, tapi yang gaya atau stylenya beda-beda. Ada yang memang menggunakan medium elektronik, ada juga yang menggunakan akustik atau instrumen saja. Jadi dibagi dari dua itu. Tapi dari filosofinya, memang tiap alat musik berbeda-beda", ujar Arham.

Selain menyajikan Pameran Alat Musik Baru, Pekan Komponis Indonesia juga memiliki serangkaian kegiatan lainnya di antaranya diskusi karya, Master Class oleh sejumlah komponis internasional, serta pertunjukan dari karya-karya komponis terpilih. Tahun ini, Pekan Komponis Indonesia menghadirkan 11 komponis, dari mulai komponis muda, komponis senior, hingga beberapa komponis dari mancanegara.

Pekan Komponis Indonesia merupakan program tahunan yang diselenggarakan oleh Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Bergulir pertama kali pada tahun 1979 dengan nama Pekan Komponis Muda, Pekan Komponis Indonesia memang bermaksud untuk membuka kesempatan bagi para komponis muda, pelaku seni, dan publik untuk saling terhubung dalam sebuah forum dialog diskusi, selain tentunya menampilkan karya di panggung.  Program ini pun merupakan sebuah upaya pencarian musik atau bunyi baru yang menunjukan kemajuan musik saat ini. (M-1)

BERITA TERKAIT