07 November 2019, 13:55 WIB

Wapres: Masyarakat Harus Pertahankan Sikap Gotong Royong


Tosiani | Nusantara

MI/Tosiani
 MI/Tosiani
Wapres Ma'ruf Amin didampingi Ketua PBNU Said Aqil Siraj meresmikan RSU Syubbanul Wathon di Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Kamis (7/11/2019)

WAKIL Presiden RI Ma'ruf Amin meminta masyarakat Indonesia terus menjaga kearifan sikap gotong royong yang dimiliki sebagai ciri khas budaya bangsa Indonesia. Sebab sikap gotong royong tidak ada di negara lain. Hal itu disampaikan Wapres saat meresmikan RSU Syubbanul Wathon di Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Kamis (7/11/2019).

"Rumah sakit ini merupakan hasil kerja sama beberapa pihak. Ini wujud perilaku sikap gotong royong yang kita miliki. Ada Lippo, PBNU dan pemerintah dengan BPJS yang bekerja sama mendirikan rumah sakit. Ini ciri has kita Indonesia," kata Wapres.

Menurut Ma'ruf, di negera lain hampir tidak ada rumah sakit dan sekolah yang dibangun masyarakat secara gotong royong. Oleh karena itu, ia menganggap hal ini merupakan kelebihan dan kearifan lokal dan kearifan nasional yang perlu dijaga.

"Mudah-mudahan rumah sakit ini bisa memberikan pelayanan optimal. Juga memberikan upaya pencegahan supaya yang sakit tidak banyak. Karena itu perlu digerakan germasnya," kata Ma'ruf.

Ia menerangkan, memberikan pelayanan kesehatan bagi pesantren hukumnya fardu kifayah, bahkan bisa menjadi fardu ain. Fardu kifayah itu menurutnya berarti menghilangkan bahaya yang menimpa orang-orang terhormat, yakni orang muslim dan non muslim. Bahaya yang dihilangkan ia contohkan adalah bahaya lapar, yang belum sampai kelaparan untuk fardu kifayah. Kalau sampai tidak makan itu hukumnya fardu ain untuk dihilangkan.

"Juga pakaian, pelayanan pendidikan dan pelayanan kesehatan. Karena itu pelayanan kesehatan hukumnya paling sedikit fardu kifayah. Ini tanggung jawab semua pihak secara gotong royong," katanya.

Pemerintah, menurut Ma'ruf, juga wajib meminimalisir kurang sandang, kurang pangan dan kurang sehat. Sejumlah program pemerintah antara lain Indonesia Sehat, Indonesia Pintar. Ini bagian dari kewajiban pemerintah menghilangkan kemiskinan. Selain itu, tambah Ma'ruf, pesantren juga harus mengambil bagian dalam upaya membangun kelompok usahawan. Pesantren tidak hanya menyiapkan orang yang ahli dan paham agama, juga menyiapkan orang yang memiliki keilmuan khusus dan ketrampilan.

"Maka perlu dibangun santripreneur. Saya menyebutnya 'Gus Iwan' (santri bagus pintar ngaji dan usahawan)," ujarnya.

Pesantren, lanjutnya, bermanfaat untuk membangun sumber daya manusia yang handal supaya Indonesia maju. Sumber daya yang diperlukan adalah sumber daya yang sehat. Manusia unggul adalah manusia yang sehat dan cerdas, karenanya di pesantren ada pendidikan vokasi.

baca juga: Ada Satu Desa Fiktif di Kalsel

Manusia unggul, menurutnya, adalah manusia yang produktif atau menghasilkan sesuatu. Selain produktif juga punya semangat untuk berkompetisi. Manusia unggul juga memiliki akhlak yang mulia. Prinsip ini yang akan dibangun menuju Indonesia maju.

"Dan itu semua perlu dilakukan dengan gotong royong. Kalau kita saling bantu, makan pemerintah tidak kerja sendirian, tapi ada berbagai elemen bangsa yang ikut membantu," pungkas Ma'ruf. (OL-3)

BERITA TERKAIT