07 November 2019, 09:05 WIB

Menolak Tamat di Lahan Pertanian


Eva Pardiana/N-2 | Nusantara

MI/EVA PARDIANA
 MI/EVA PARDIANA
Sudardi, 42, memanen sebagian kebun sawi miliknya di Desa Jatimulyo, Kecamatan Jatimulyo, Lampung Selatan, kemarin.

DIKENAL sebagai kawasan transmigrasi, di masa lalu Kabupaten Lampung Selatan sangat unggul di bidang pertanian. Padi, sayur, dan hasil peternakan dari daerah ini dikirim ke sejumlah wilayah di Sumatra dan Pulau Jawa.

Namun, itu cerita dulu. "Saya khawatir, 15-20 tahun lagi, tidak ada anak-anak muda yang mau jadi petani. Saat ini saja, Lampung sudah krisis petani," ungkap Sudardi, 42, petani asal Desa/Kecamatan Jatimulyo, Lampung Selatan.

Di Jatimulyo, hamparan lahan sawah sudah terancam alih fungsi. Pengembang sudah menguasainya untuk mengubahnya menjadi kawasan perumahan. Seharian berada di area ini, tidak mudah menemukan petani yang bekerja di sawah.

Namun, asa Sudardi belum tamat. Dikepung tanah yang sudah dikaveling pengembang, ia mempertahankan lahan seluas 100 meter persegi untuk bertani.

Di lahannya itu, Sudardi melatih 40 pemuda di kampungnya untuk menanam sayuran. Selain melatih keterampilan bertani, ia juga memotivasi mereka untuk tidak meninggalkan pertanian.

Upayanya itu mendapat dukungan dari PT East West Seed Indonesia (Ewindo), perusahaan yang memproduksi benih. Mereka memasang pelang Pusat Pelatihan Petani Muda Panah Merah.

Cara bertani yang diajarkan tidak lagi konvesional. Mereka menggunakan aplikasi berbasis Android bernama Sipindo, akronim dari Sistem Informasi Pertanian Indonesia.

Lewat aplikasi itu, calon petani muda dapat memperoleh informasi teknik budi daya, pengendalian hama, informasi harga sayuran, hingga rekomendasi pemupukan. "Dengan Sipindo, petani dibekali pengetahuan budi daya hortikultura dengan teknik yang benar, dan melakukan pemupukan secara tepat sesuai kondisi tanah, curah hujan, serta jenis tanaman," lanjut Sudardi.

Lewat pelatihan itu, dia menunjukkan bahwa hasil bertani tidak kalah dari pekerja kantoran. "Dengan menjual 15 ribu ikat sayuran, omzet yang didapat mencapai Rp15 juta. Dengan teknik penanaman bergilir, panen bisa setiap hari," paparnya.

Dia membuktikannya. Bertani sejak 2011, semula Sudardi hanya punya lahan 600 meter persegi. Dengan menanam sayuran, kini ia punya lahan 1.400 meter persegi.

Petani Muda Panah Merah Lampung Selatan bersama PT Ewindo, papar Suharyanto, pendamping lapangan, tengah membina 145 petani dari Lampung Tengah, Lampung Timur, Lampung Selatan, Tulangbawang Barat, Pringsewu, dan Tanggamus. (Eva Pardiana/N-2)

BERITA TERKAIT