07 November 2019, 05:10 WIB

Mengurai Limbah Litium Jadi Berharga


(AU/H-1) | Humaniora

Kemenperin/Dok.MI
 Kemenperin/Dok.MI
Mengurai Limbah Litium Jadi Berharga

POPULASI ponsel dan limbahnya di Indonesia saat ini dipastikan sudah melebihi jumlah penduduk. Yang jadi masalah limbah yang berasal dari baterai ponsel itu kini sudah menggunung.

Itu belum peralatan elektronika lainnya, misalnya laptop, atau ke depan misalnya kendaraan listrik. Semakin banyak yang menggunakan kendaraan listrik berpotensi pula meningkatnya limbah baterai litium.

Menurut Dekan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Prof Ir Nizar meningkatnya penggunaan peralatan elektronik akan diikuti dengan semakin meningkatnya limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) khususnya yang berasal dari baterai. Limbah-limbah baterai yang biasanya mengandung unsur litium itu dibuang begitu saja.

Melalui penelitian yang cukup lama, UGM berhasil mengembangkan dua hal terkait limbah baterai litium. Yakni peralatan yang digunakan untuk membuka baterai (dismantling) dan sekaligus mendaur ulang litium. Dengan keberhasilan ini, tim berhasil membuka, melepas isi baterai litium dan sekaligus memilah-milah isinya. Setelah dipisah, tim lainnya berhasil mendaur ulang litium dari limbah baterai ini.

Daur ulang ini, dijelaskan Nizar, berhasil menjadikan litium memiliki tingkat kemurnian hingga 99%. Artinya, litium hasil daur ulang ini bisa kembali ke pabrik untuk digunakan pembuatan baterai yang baru. Karena itu, yang diperlukan industri ialah litium dengan kadar kemurnian 97%-98%.

Penelitian yang terkait dengan daur ulang baterai litium bekas telah dilakukan Fakultas Teknik sejak 2013 silam. Penelitian itu dilakukan secara konsisten dan kontinu sampai saat ini dengan berbagai skema pendanaan, dan merupakan penelitian lintas disiplin yang melibatkan tim peneliti di bidang teknik kimia, teknik mesin dan teknik elektro, yang menjadikannya sebagai Pusat Daur Ulang Baterai (Center of Battery Recycling) di UGM.

Nizar menambahkan, dengan keberhasilan ini, peralatan untuk membuka (dismantling) baterai yang kini dalam proses mendapatkan paten. Temuan lainnya adalah pemurnian atau purifikasi litium. Litium dari baterai bekas atau yang telah dibuang, dimurnikan untuk kembali masuk ke rangkaian industri. Nizar menambahkan dengan adanya dua temuan ini, Indonesia akan mampu mengatasi limbah baterai sebelum limbah itu menggunung dan mengganggu lingkungan.

Di lain sisi, ujarnya, Indonesia akan mampu menghasilkan litium yang sangat berharga yang bernilai ekonomi tinggi. Bahkan dimungkinkan, sebagian besar kebutuhan litium dalam negeri ini akan dipasok dari hasil pemurnian limbah litium.(AU/H-1)

BERITA TERKAIT