06 November 2019, 21:49 WIB

Isu Keterjangkauan Hambat Terwujudnya Ketahanan Pangan


Andhika Prasetyo | Ekonomi

MI/Akhmad Safuan
 MI/Akhmad Safuan
Budidaya Jagung di Blora, jawa Tengah

KETERJANGKAUAN masih menjadi persoalan utama yang menghambat terwujudnya ketahanan pangan di Indonesia. Isu tersebut sering kali luput karena perhatian lebih banyak diberikan kepada persoalan ketersediaan.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Amanta mengungkapkan keterjangkauan sangat erat kaitannya dengan harga. Semakin tinggi harga pangan, semakin sulit masyarakat bisa menjangkau.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan Bank Dunia, selama periode 2014-2019, harga pangan utama yakni beras di Indonesia meningkat 26%. Padahal peningkatan harga di pasar internasional hanya 12%.

"Tingginya harga pangan Indonesia sangat merugikan masyarakat terutama yang tergolong miskin. Mereka bisa menghabiskan 50% hingga 70% pendapatan hanya untuk membeli makanan," ujar Felippa melalui keterangan resmi, Rabu (6/11).

Lonjakan harga akhirnya memengaruhi pola konsumsi. Berdasarkan hasil penelitian CIPS, kenaikan harga beras sebesar Rp1.000 per kilogram dapat mengurangi konsumsi beras 0,67 kg per kapita.

Baca juga : Pemerintah Diminta Konsisten Jalankan Visi Kedaulatan Pangan

Hal itu menyebabkan risiko tidak terpenuhinya Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan yakni rata-rata 2.150 kilo kalori.

Tidak tercukupinya nilai AKG yang diamanatkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan nomor 75 tahun 2013 itu dikhawatirkan berkontribusi terhadap tingginya risiko malnutrisi dan stunting di Indonesia.

Ada banyak faktor yang menyebabkan tingginya harga pangan. Beberapa di antara mereka adalah tantangan-tantangan produksi pertanian, seperti perubahan iklim dan cuaca, infrastruktur irigasi yang belum memadai, kurangnya sumber air bersih, kurangnya penggunaan teknologi, berkurangnya lahan pertanian, petani yang semakin sedikit dan menua dan rendahnya produktivitas pertanian.

Selain itu, produk pertanian juga harus melalui rantai distribusi yang panjang. Panjangnya rantai distribusi menyebabkan tingginya biaya transportasi yang pada akhirnya akan memengaruhi harga jual di tingkat konsumen. (OL-7)

BERITA TERKAIT